Fenny POV
Pagi ini semua bangun dengan wajah segar, karena sekarang akan diadakan senam bersama di halaman villa. Villa yang luas ini memanglah villa milik perusahaan, tepatnya milik Pak Dika. Tempat yang nyaman dan luas ini selalu menjadi tujuan wisata perusahaan.
Sekarang semua orang suda berkumpul di halaman dan bersiap untuk melakukan senam. Yang memimpin senam adalah Bu Herti, beliau adalah bag. Humas di perusahaan kami.
Setelah acara senam selesai, beberapa ada yang melanjutkan senam sendiri atau menari dengan diiringi musik. Sedang aku memilih istirahat saja. Duduk dengan kaki diluruskan, sepertinya akan sedikit pegal, mengingat aku yang memang jarang olahraga.
“Ehm, Fenny. Aku mau pergi dulu ya ke kamar”, tanya Dista yang berjongkok di sampingku.
“Mau ngapain?”
“Ambil kamera. Lupa..hehe”, ucapnya sambil memperlihatkan senyumnya.
“Ya sudah sana ambil. Bawain minum sekalian ya”, aku titip minum karena rasanya haus sekali setelah olahraga ini.
Aku pun membaringkan tubuhku dan memejamkan mataku, merasakan nyamannya beristirahat seperti ini. Baru beberapa menit aku merasakan ketenangan.
BYUUURR!!
Seseorang menyiramku dengan air.
“Uhuk!”
Tentu saja aku kaget dan langsung duduk. Ketika tanganku mengusap mata agar dapat melihat dengan jelas siapa pelakunya, aku merasa sesuatu yang keras dilemparkan ke punggungku. Seperti batu.
“Heyy..ada apa sih ini?”, tanyaku.
Tapi tak ada yang menjawabku, justru aku merasa semakin banyak yang dilemparkan padaku. Lalu ada seseorang yang memukulkan sesuatu di kepalaku hingga berbunyi.
KRAAAKK!!
Tunggu, itu bukan suara kepalaku kan? Lalu aku merasa sesuatu mengalir pelan di kepalaku. Jangan-jangan ini…telur??!! Dari baunya sepertinya memang ini telur.
Aku berusaha membuka mata dan melihat sudah ada banyak orang mengelilingiku. Astaga! Mereka kenapa??”Hey…”, belum sempat aku berbicara, aku sudah dihujani dengan tepung. Kalau begini terus, tinggal jemur aku di bawah terik matahari. Aku bisa jadi roti!!
Ada apa sih ini? Biasanya orang akan melakukan ini jika ada yang ulang tahun kan? Tapi siapa yang ulang tahun? Aku? Aku tidak ulang tahun!!
“Selamat ulang tahun..kami ucapkan..”, astaga! Mereka benar-benar menyanyikannya!
Tanpa bicara, aku hanya diam dan tersenyum saja. Aku tidak tega menghancurkan perasaan bahagia mereka. Lalu satu persatu menyalamiku dan mengucapkan selamat untukku.
Dan yang terakhir..Dista!
Aku menyeret tangannya yang sedang menyalamiku.
“Ih!! Jangan geret-geret nanti kena! Hiii”, ucap Dista bergaya sok jijik.
“Kamu mundur-mundur malah aku peluk nanti!”, ancamku.
“Iya deh iya! Aduh yang ulang tahun bawel!”
“Siapa yang bilang kalau aku ulang tahun?”, tanyaku menyelidik.
“Pak Dika”
Pak Dika?? Dapat ilham dari mana Pak Dika kalau aku hari ini ulang tahun? “Pak Dika tau dari mana?”
“Tau! Tanya sendiri sana! Udah ah, mau cuci tangan bau telur!”, ucapnya sambil beranjak meninggalkanku.
Aku tentu saja masih duduk manis di lapangan nunggu matahari biar jadi roti. Aku berdiri perlahan, mengangkat tubuhku semakin berat. Mungkin kebanyakan komposisi. Semua orang yang ada di depanku menjauh, aku jadi ada fikiran iseng. Aku berlari dan mengejar temanku satu divisi dan ia teriak ketika kupeluk.
Aku mencari mangsa lain, mengejar siapapun yang ada di depanku dan memeluk mereka biar jadi seperti aku. Haha..seru juga.
Author POV
Seseorang mengamati semua kejadian itu dari balik kaca ruang tamu.
“Wah, Rey kalau kamu nggak bilang kita nggak bakal tau loh”, ucap Dika.
Seseorang yang diajak bicara hanya tersenyum sambil matanya tak lepas memperhatikan Fenny yang masih asik mengerjai teman-temannya.
***
Fenny POV
Butuh mandi berjam-jam untuk menghilangkan semua ini, terutama bau amis dari telurnya. Aku sampai kedinginan berada di kamar mandi sejak tadi.
Begitu keluar kamar mandi tak ada seorang pun di kamar. Aku langsung berjalan menuju meja yang terletak di dekat jendela, melihat jadwal yang sengaja ditempel disana.
Tentu saja sekarang tidak ada orang. Acara sekarang adalah outbond, pasti mereka sedang seru sendiri. Aku juga ingin ikut.
Setelah selesai berpakaian, aku keluar kamar untuk menyusul teman-teman yang lain. Tapi begitu sampai di halaman aku melihat beberapa kotak berserakan, sepertinya bekas konsumsi. Aku pun mengambil plastik besar yang ada di samping pohon dan memunguti kotak-kotak itu.
Ketika aku meletakkan kembali plastic ke samping pohon aku melihat sesuatu. Bukankah itu kotak yang kemarin malam digunakan untuk nama-nama karyawan ya? Aku pun mengambil kotak itu dan membukanya, isi dari kertas-kertas yang ada di dalamnya adalah nama-nama karyawan yang laki-laki.
Berarti dalam kotak yang satunya adalah nama-nama untuk karyawan yang perempuan kan?
Aku membuka kotak itu dan astaga!!
Semua isi kertas-kertas ini…semuanya tertulis namaku!!
Kerjaan siapa ini?!!
Pasti dia..pasti!!!
Aku menutup kotak itu dan membawanya bersamaku. Akan kuberikan padanya sebagai bukti.
***
Author POV
Fenny datang ke area outbond, lengkap dengan sebuah kotak di tangan kanannya. Matanya mencari sesuatu. Bukan, tapi seseorang. Begitu ia mendapatkannya, ia langsung berjalan cepat ke arah yg ia lihat sedari tadi.
“Permisi..”, ucap Fenny pada laki-laki bertubuh jangkung di depannya. Seseorang itu membalik badannya dan terkejut pada apa yang dibawa oleh Fenny. “Hey! Aku mau bicara tentang...”, belum sempat ia bicara, seseorang itu menundukkan badannya agar sejajar dengan Fenny.
“Jangan disini”, bisiknya seperti memberi peringatan. Setelah laki-laki itu kembali ke posisinya semula Fenny baru menyadari jika mata semua atasannya sedang tertuju padanya dan juga lelaki di depannya.
“Ehm..maaf aku ada urusan sebentar”, ucapnya sambil merangkul Fenny dan mengajaknya kembali ke villa. Fenny hanya diam dan mengikuti kemana Rey akan membawanya.
***
“Kemarin kamu minta bukti kan? Ini buktinya!”, ucap Fenny lalu melempar kotak itu di depan Rey. Rey hanya melihat kotak itu sekilas, lalu pandangannya kembali pada Fenny.
“Lalu?”, ucapnya singkat.
“Kau ini! Kenapa melakukan sejauh itu? Ha!”.....”Tunggu..jangan-jangan insiden ulang tahun barusan juga kamu dalangnya??!”
“Iya”, ucap Rey dingin.
“Aaarrghh!! Sebenarnya apa kesalahanku padamu sampai kamu melakukan sejauh ini!”
Bukannya menjawab Rey justru melangkah maju, membuat Fenny tersentak lalu mundur selangkah. Rey terus maju hingga membuat Fenny tersudut.
“Tu..tu..tunggu..jangan..jangan maju lagi. Sebenarnya apa maumu?”, tanya Fenny dengan suara bergetar. Dengan tangan kanan di depan menahan agar badan Rey tidak lebih maju lagi. “Urusan kita belum selesai”, jawab Rey singkat.
“Aku tidak merasa memiliki urusan apapun denganmu”
“Benarkah? Lihat aku!”, Rey memegang dagu Fenny agar Fenny menatapnya. “Coba ingat, kapan kita pernah bertemu?”
Fenny mencoba mengingat setiap detail wajah Rey dan akhirnya sadar bahwa ia memang pernah bertemu dengan Rey. “Insiden kafe?”, tanya Fenny hati-hati.
“Bagus, kau mengingat satu. Coba ingatlah yang lainnya”, ucap Rey sambil mengacak rambut Fenny pelan. Lalu pergi meninggalkan Fenny yang masih berusaha mengingat.
“Yg lainnya?”