“Kau tau kan, jika kau melakukan kesalahan…bukan kau yang akan mati. Jadi, jangan macam-macam!” * Gubuk di tengah hutan itu kini tampak begitu menyeramkan. Bau anyir darah segar membuat suasana semakin mencekam, tapi laki-laki itu seperti sudah sangat terbiasa. Kali in, bukan darah binatang seperti sebelumnya. Darah ini lebih kental dan merah, membekas di lantai kayu, memanjang hingga ke halaman dan menghilang di balik gundukan tanah yang baru. Semalam, ia mendapat seorang lagi untuk menjadi kaki tangannya. Tapi, karena ia berusaha kabur dan menelfon polisi, inilah akhirnya. Di dalam ruangannya lelaki itu memandangi satu potret wajah lagi. Lelaki yang baru saja menjadi temannya, teman untuk membantunya mencapai targetnya dengan mudah. “Kuharap…kau tidak seceroboh dia. Aku sangat meng

