Bagian 8

1046 Kata
Diana tercengang kaget antara percaya dan tidak percaya. Wanita paruh bayah itu tampak syok dengan nafas yang bergemuruh dan jantung yang memompa cepat. "Maksudnya apa semua ini, kalian sudah menikah? Sejak kapan...." Diana mencecar bertanya pada keduanya. "Jangan bilang jika kalian menikah sudah sejak lama, sejak Laras SMA dan kalian juga punya berita mengejutkan lainnya misalnya sudah punya beberapa anak, lalu kemana mereka di mana cucu-cucuku?" "Mama berpikir kejauhan. Gavin dengan Laras baru menikah beberapa hari lalu," jelas Gavin meralat perkataan ibunya. Diana menghela nafasnya. Sementara Laras gadis itu sudah diselimuti rasa yang teramat gugup dibayangi perasaan buruk, terlebih setelah reaksi yang barusan Diana lakukan, menaikan nada suara beberapa oktaf dan itu membuatnya makin takut jika Diana tidak menerima dirinya. Sampai tak berani mengangkat kepala dan malah terdiam menunduk tak lagi berani mengeluarkan suaranya. "Oh, begitu ya...." Untuk sesaat Diana belum mengerti jelas perkataan Gavin dan sesaat kemudian dia menjadi teramat lebih kaget lagi. Brakk!! Diana berdiri dan kelepasan menggebrak meja. Laras tersentak kaget dan itu membuatnya makin gelisah saja. "Menikah beberapa hari lalu, bagaimana bisa? Kamu jangan mengada-ada, Gavin. Pernikahan itu bukanlah sesuatu yang bisa kamu buat menjadi bahan candaan. Jelas-jelas beberapa hari lalu kamu telepon Mama terus ngomong bahwa kamu bersama Laras terjebak di sebuah pemukiman warga yang berada tak jauh dari daerah pinggiran kota, akibat banjir yang membuatmu memilih menuju rumah sakit sebelah sana?" Gavin mengusap kepadanya dan mulai menjawab semua pertanyaan yang mengganggu pikiran ibunya. Dia bercerita asal mereka bisa sampai menikah. Laras yang sakit dan semakin parah membuatnya kalut. Namun beberapa jalanan menuju rumah sakit terdekat ditutup, akibat banjir dari hujan lebat. Kemudian memilih arah jalan jarang banjir, meski lokasi rumah sakit ke arah tersebut cukup jauh dan berlokasi tak jauh dari pinggir kota. Masalah yang tidak diduga malah membuatnya semakin runyam, pembegalan, warga yang salah paham dan hal itulah yang menjadi pemicu mereka berakhir menikah. Diana pun mengangguk paham, meski terlihat cukup kecewa pada bagian kalimat penjelasan Gavin. "Itu sih, Mama juga tidak percaya. Kamu kan laki, masa sih nggak ngapa-ngapain Laras semalaman?" Tanya Diana dengan tak percaya. "Kamu juga, Laras. Jawablah yang sejujurnya! Anak saya udah ngapa-ngapain kamu bukan?" Laras yang mendengar hal itu menahan malu setengah mati dan tersudut merasa takut untuk menjawab, sementara Gavin justru terlihat sebaliknya, biasa saja dengan tuduhan mamanya. "Kamu buka pakaian Laras, kemudian menggantikannya dengan kemejamu yang lebih kering? Ah, mana mungkin kering, nggak masuk akal! Bukannya malam itu hujannya lebat, jas dan kemeja yang kamu kenakan mana mungkin selamat dan tidak basah. Nah, kalau sudah basah mana mungkin kamu kenakan lagi pada Laras. Akal-akalan kamu saja itu, sebab yang sebenarnya terjadi pasti kalian sudah--" "Ma," Sela Gavin segera. "Terserah Mama, ingin berpikir apa. Mau kami benar-benar melakukannya malam itu, toh kami sudah menikah," Sambungnya dengan nada acuh tak begitu peduli terhadap anggapan ibunya, selain cukup jenuh mendengarkan ocehannya. Ah. Sudahlah, yang terpenting ibunya sudah tahu anaknya menikah. Masalah selesai dan waktunya ia membawa Laras pulang agar istrinya itu bisa beristirahat dan segera sembuh total. "Baiklah kalau karena aku sudah menjelaskan semuanya pada Mama, jadi sekarang aku bolehkan membawa Laras pulang untuk bisa beristirahat?" Diana mengangguk, tapi tidak dengan Laras yang langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak mau, aku ingin di tempat ini," protes Laras akhirnya buka suara. Hal itu mendapat perhatian dari Diana yang langsung mengerutkan dahinya. "Kenapa tidak mau Laras? Pulanglah dengan anak saya segera dan ikuti kemauannya!" Tegas Diana terang-terangan membela Gavin. 🌂🌂🌂 "Dengarkan omonganku, Laras. Kali ini saja tolong gunakan pikiranmu dengan baik. Kamu sedang sakit dan masih belum pulih sepenuhnya, jadi beristirahatlah di kamar ini!" tegas Gavin mengatakan pernyataannya. Laras mengangguk kecil, lelah berdebat dengan pria itu membuatnya menyerah saja. Seperginya Gavin, Laras bangun dari tempat tidur kemudian bangkit dan merogoh laci tempat surat perjanjian nikah mereka. "Apa-apa ini, siapa yang mau menikah dengan Bapak?" "Seharusnya kau merasa beruntung, dari kejadian naas waktu itu. Kau sudah berhasil mendapatkan pria kaya seperti mimpimu dulu dan itu berarti ada yang mau menikah dengan 'gadis bodoh' sepertimu." Percakapan mereka beberapa hari lalu seketika mengisi pikiran Laras. Sebelum pria itu meminta Laras memanggilnya dengan kata, "mas" ada percakapan lain yang mereka bicarakan dan hal itulah yang pada akhirnya dengan mudah Laras menandatangani dokumen surat perjanjian diantara mereka. "Tanda tangan, cepat!" ucap Gavin tegas. "Nggak usah sok membaca isinya, Aku tahu gadis bodoh sepertimu malas melakukannya. Namun, kamu tenang saja semua isinya adalah harapan yang kamu inginkan." Laras menoleh mengalihkan perhatiannya sekilas dari dokumen untuk melihat wajah Gavin. "Kalau isinya, Bapak bebas menguliti dan mencincang habis diriku, bagaimana?" Gavin mendelik seraya menatap tajam Laras. "Kamu tidak percaya kepadaku, hahh?" Laras menggeleng dengan polosnya. "Iya!" serunya tanpa ragu. "Isinya hanya mengenai bahwa kita bebas bercerai setelah satu tahun, itukan maunya kamu, bebas dan tidak sudi menjadi istriku. Jadi apalagi yang kau tunggu cepat tandatangani!" "Lah, itu artinya Aku jadi janda dong. Idih nggak mau!" "Itu artinya kamu mau terus-menerus menjadi istriku?" tanya Gavin membuat Laras segera geleng kepala. "Ogah!" Laras yang tertarik keluar dari lamunannya segera berdecak kesal. "Bodoh!" ucapnya merutuki dirinya sendiri. "Bisa-bisanya Aku langsung menandatanganinya cuma karena nggak mau jadi istrinya tanpa membaca isinya! Padahal apaan sih isinya, jadi penasaran...." Laras membuka dan membaca dokumen perjanjian pernikahan tersebut dengan lamat-lamat mencermatinya. Semakin lama membaca bersamaan dengan semakin mengerutnya dahi Laras. "b******k!" Dokumen itu dirobek kemudian diinjak Laras dengan brutal. "Ini bukan perjanjian cerai setelah satu tahun, tapi menikah dan menjadi pasangan suami istri sampai kapanpun. Argghhh! Apa maksudnya semua ini, apa alasan pria itu mempertahankan pernikahan?" Nafas Laras berubah tak beraturan akibat marah mengeram tak terima. Gadis itu segera keluar kamar untuk mencari Gavin, tetapi tidak menemukannya. "Kemana b******n itu? Argghhh...." Laras segera meraih ponselnya kemudian menghubungi Gavin. Panggilan yang tak terjawab membuatnya semakin marah. Lalu karena berkali-kali panggilan telepon masih belum terhubung, Laras memutuskan untuk mengirim pesan. [Kamu di mana?] [Cepat pulang, Aku mau membicarakan isi surat perjanjian kemarin] Terlihat pesan chat-nya sudah di baca. Karena tidak ada balasan chat membuat Laras tak tahan untuk tidak mengumpat. "Arrrggghhh ... apa susahnya menjawab panggilan? Setan satu ini benar-benar menguji emosi, awas jika pulang nanti! Huhh!" Setan Sialan [Oh, jadi pada akhirnya kamu sudah membacanya?] [Baguslah ...] [Oh, ya. Jangan lupa istirahat dengan baik, Istriku yang Bodoh👎😵😝] Laras membulatkan kedua bola matanya membaca balasan pesan dari Gavin tersebut. Sial, pria itu benar-benar niat mempermainkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN