Pagi yang mendung disertai gerimis halus yang menyelimuti, seakan mendukung perasaan Laras yang malas pergi kerja.
Andaikan saja Laras adalah seorang putri bangsawan atau orang kaya, maka dia tidak perlu repot menyingkirkan rasa malas gerak yang dirasakannya.
"Semangat Ras, ada orang yang membutuhkan rancangan gaunmu dan jangan biarkan orang menunggu lama untuk mengucapkan terima kasih pada saat dia puas dengan hasil karyamu, huhh semangat!" Laras berkata pada dirinya sendiri sembari menuruni ranjangnya cepat.
Gadis itu langsung berhambur menyambar handuk dan mandi menyegarkan diri.
*****
Hari masih mendung ketika Laras sampai di tempat kerjanya, bahkan setelan pakaiannya sudah ikut merasakan mendungnya perasaan hari yang tidak mampu memberikan dukungan padanya kali ini.
Rintikan gerimis yang menyentuh kemeja dan rok span yang agak pendek, kini membuat Laras menyesal mengenakannya hari ini. Pasalnya hal itu membuatnya menjadi agak menggigil pagi ini.
"Bodoh. Huh, dasar Laras bodoh! Sudah tahu hari ini cukup mendung dengan cuaca agak sejuk dari biasanya masih saja mengenakan setelan begini, huhh," umpatnya pada diri sendiri.
Bersamaan dengan hal itu, sebuah jas tiba-tiba saja disampirkan mendarat di atas bahunya.
"Dingin?" tanya seseorang membuatnya berbalik dan melihat siapa yang berbicara padanya.
"Kamu kedinginan, hah?!" lanjut seseorang itu sambil menatap tajam Laras seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya. Membuat Laras yang baru saja bertemu pandang dengan pemilik suara itu, langsung mundur pelan beberapa langkah.
"Itu bukan urusan, Bapak," jawab Laras mencoba berani melawan pria dihadapannya dengan berkata ketus.
Lantas jas yang baru saja disampirkan pada tubuhnya juga langsung Laras kembalikan pada empunya.
"Dan saya tidak butuh belas kasihan dari Bapak. Jadi gunakan saja jasnya untuk diri sendiri, karena sepertinya yang lebih membutuhkan itu bukan saya, tapi pemiliknya," lanjut Laras berkata dengan angkuh berhasil melukai ego pria di depan matanya.
"Dasar gadis bodoh, kebodohanmu semakin meningkat dari yang lalu. Aku jadi heran, bagaimana ibuku bisa menerima karyawan sebodoh dirimu bekerja dibutiknya?"
Laras mendengus, sialan mulut pria didepannya seakan tidak ada remnya. Sampai-sampai mudah sekali menghina orang tanpa hatinya.
Laras meneguk ludahnya geram. Bagaimana pun ia adalah gadis yang tau diri kalau otaknya pas-pasan, tapi tidak usah diperjelas juga dengan mengatainya bodoh. Ah, sial bahkan dirinya sendiri beberapa saat lalu juga sudah mengatai diri sendiri bodoh.
"Tanyakan saja pada ibu Diana, bagaimana dia bisa-bisanya menerima karyawan sebodoh saya. Jangan-jangan ibu Diana juga bodoh seperti saya, hm.... Mungkin karena kepintarannya sudah diberikan semua kepada Bapak Gavin anak tersayangnya yang terhormat ini!" Cibir Laras menyeru sambil meledek pria didepannya yang ternyata adalah Gavin mantan gurunya di SMA yang suka menghukum sekaligus mengatainya bodoh ini.
Sontak saja wajah Gavin yang tidak terima ibunya dihina, terlihat mengeras dan memerah menahan marah. Pria itu mengepalkan tangannya dan bernafas dengan kasar.
"Kau!!" Kata Gavin sambil menunjuk Laras dan menatapnya tajam.
Gavin melangkah maju dan beriringan dengan langkah Laras yang mundur perlahan sampai terhenti oleh meja kerjanya. Melihat itu Gavin langsung menyeringai menang dan menatap menakuti Laras.
"Kenapa, kau takut Gadis Bodoh?" Gavin bertanya dengan smirk menyeringai mengejek Laras.
Keadaan seketika berubah, kini Gavin lah yang berada di atas bukan Laras.
Kedua bola mata keduanya bertatapan bersitegang, saling menantang. Meski di satu sisi diantara keduanya Laras yakin kalau dialah pecundangnya, tapi ia tetap bersikeras untuk melawan.
"Si-siapa yang takut?" Tantang Laras agak sedikit gugup mencoba melawan.
Jauh di lubuk hati terdalam Laras, dirinya yang notabene masih perawan apalagi statusnya yang melajang jarang punya pasangan, jelas saja dihimpit seorang pria adalah sesuatu yang membuat jantungnya bekerja keras.
Laras gugup, merasa canggung sekaligus gelisah. Namun egonya tentu saja tak membiarkan Gavin menang begitu saja.
"Ja-jangan-jangan Bapak Gavin yang terhormat ini yang malah takut?" Laras balas menyeringai melawan gugupnya demi menunjukkan pada Gavin bahwa dirinya bukanlah perempuan yang mudahnya bisa Gavin tindas.
"Apa maksudmu, Nona Bodoh?" Tanya Gavin menyeringai kesal sambil mengeram dan menyetujui dengan angkuh dagu Laras.
Jujur saja, sentuhan itu menciptakan sensasi aneh yang menyiksa bagi Laras. Namun sekali lagi, Laras tidak akan membiarkan Gavin semena-mena kepadanya.
Dengan susah payah Laras mengumpulkan keberanian dan meneguk ludahnya berat. "Bapak tidak akan berani melakukan lebih dari ini dan bukan akulah yang ketakutan di sini. Banyak laki-laki yang berminat denganku yang bodoh ini, jadi sedekat ini dengan pria bukanlah apa-apa, tapi bagaimana dengan Bapak?" Senyum Laras seketika mengembang bersamaan dengan muka muram yang Gavin tunjukkan.
"Bagaimana pria tua ini menahan rasa gugupnya saat sedekat ini dengan perempuan? Bagaimana pria terhormat yang angkuh dan kejam ini menahan rasa gugupnya sedekat ini dengan gadis secantik aku? Belum pernah sedekat ini dengan perempuan ... Hm, pastinya tidak terbiasa, ya ... sebab seingatku mana ada satu perempuan yang mau dengan Bapak, mengingat sikap buruk yang mengagumkan dan mendarah daging dalam diri Bapak!!" Cibir Laras habis-habisan mengatai Gavin sepuasnya.
Nafas Gavin menderu kembali mengeram menahan marah. Kemudian tanpa diduga pria itu menggebrak meja dan sehingga mengakibatkan Laras kaget setengah mati.
Laras merasakan debaran jantungnya sendiri yang merasa amat terkejut dan hal lebih tak terduga lagi berlanjut terjadi.
Bagaimana tanpa diduganya Gavin kembali menyampirkan jasnya pada bahu Laras dengan paksaan.
"Pakai!!" Kata Gavin ketika Laras akan melepaskannya. "Pakai Laras! Jangan buat lebih banyak orang lagi tertular kebodohanmu, dan dengarkan ini baik-baik. Aku melakukannya bukan karena kasihan padamu, tapi kasihan pada pria diluar sana jika sampai tergoda melihat tubuhmu. Karena akan sangat mengasihankan sekali jika sampai salah satu dari mereka menjadi suami gadis bodoh sepertimu!" Gavin menjeda menikmati reaksi kesal dari Laras.
"Mengenakan perpaduan kemeja putih dan rok pendek, dasar bodoh apa kau tidak sadar kemejamu yang basah sedikit mencetak bentuk tubuhmu, hah!! Ckck, tapi mau bagaimana, sekali bodoh akan tetap bodoh. Dasar gadis bodoh!!" Hina Gavin diakhir kalimatnya sebelum berlalu begitu saja.
Laras mengeram dan menyugar rambut panjangnya dengan kasar.
"Dasar Setan, memangnya kenapa jika aku bodoh, hah?!!" Laras frustasi tak habis pikir. "Ya, tuhan. Kenapa engkau harus mempertemukan aku kembali dengan pria itu? Sebodoh apakah aku sehingga ia bisa seenaknya mengejekku begitu. Lama-lam aku bisa mati mental, huh ... Sabar-sabar. Ini ujian, Laras...." Lanjut Laras membuang nafasnya perlahan.
"Ada apa Laras?" Seseorang dari belakang Laras menepuk bahunya ringan.
Sontak membuatnya kaget kembali, meski tidak sekaget kejadian Gavin yang tiba-tiba menggebrak meja. Namun tetap saja ia kaget, sebab tiba-tiba saja merasakan sesuatu.
Laras berbalik dan menghela nafasnya, ternyata Diana yang melakukannya.
Wanita paruh baya itu menaik-turunkan alisnya, menatap Laras dengan heran. "Apa yang sudah terjadi padamu dan--" Diana menyipitkan matanya menelisik jas yang membalut menutup sebagian besar tubuh atas Laras.
'Apa aku salah, ini bukannya jas milik Gavin anakku? Lalu bagaimana bisa ada pada Laras ...' batin Diana menatap heran dan bertanya-tanya.
*****