“Maaf Bu namanya Mentari Khairunnafiza dia seorang reporter, dan seharusnya mereka sudah berada di panggung untuk melakukan wawancara eksklusif dan gadis itu yang akan wawancarai Mas Fajar, Bu," ucap Pak Syamsudin menjelaskan.
“Waw ... oke juga gadis itu terlihat sangat energik, saya suka gadis seperti dia,” sahut Bu Nia sembari berjalan mendekati mereka berdua.
“Ada apa ini, mengapa kalian sepertinya habis bertengkar, dan Panda kenapa menatap sinis dengannya, tidak baik seorang pemuda tampan seperti bersikap seperti ini dengan seorang gadis cantik!” ucap Bu Nia sembari memandang Tari dan tersenyum.
Seketika Tari dan lainnya tertawa saat Bu Nia memanggil Fajar dengan sebutan Panda, Tari tak habis pikir orang yang diajak berdebat ini mempunyai sebutan yang lucu menurut Tari.
Tari pun tak bisa menahan tawanya diikuti mereka yang lain dan membuat Fajar menjadi bertambah marah.
“Mam ... buat apa Mami memanggilku seperti itu di depan mereka, malu Mami?” tanya Fajar yang menjadi salah tingkah di depan mereka.
“Memang kenapa itu kan nama panggilan kesayangan Mami, ada yang salah?” tanya Bu Nia bingung.
“Hahaha ... maaf Bu ... maaf Tari nggak bermaksud menertawakan Mas Panda ups salah maksudnya Mas Fajar,” ucap Tari yang masih tertawa sedikit.
“Iya nggak apa-apa Nak Tari, terus Ibu mau tanya kenapa kalian bertengkar, ada apa?” tanya Bu Nia.
“Mam ... biar Fajar yang jelaskan!” jawab Fajar yang masih sedikit kesal.
“Diam dulu dong, Mami mau tanya dengan gadis ini," ucap Bu Nia tegas.
“Begini Bu, awalnya Mas ini memanggil saya tidak sopan dia pikir saya ini pembantu, dan dia dengan seenaknya menyuruh orang tanpa mengetahui orangnya terlebih dahulu, Tari juga terpancing dong Bu jadi marah karena sebagai harga diri wanita merasa diinjak-injak.”
“Dia sudah minta maaf sih cuma nggak tahu juga kenapa dia menghilang, padahal dia kan tahu acaranya sebentar lagi mulai, malah dia berulah seperti ini, salah Tari di mana coba?”
“Sekarang dengan seenaknya juga dia memecat Tari gara-gara nggak minta maaf dengannya!” jelas Tari panjang lebar membuat Fajar salah tingkah lagi di depan Maminya.
“Aduh kelakuanmu tidak berubah, sekarang kamu minta maaf dengan gadis ini, Mami nggak mau ya hanya masalah sepele menjadi viral, mau taruh di mana muka Mami yang glowing ini?” tanya Bu Nia marah.
“Mami lebih percaya dengan gadis ini daripada anak sendiri, Mami kan tahu Fajar lebih menjaga penampilan di muka umum harus kelihatan perfeksionis, higienis, rapi nggak boleh ada cacat sekalipun!” jawab Fajar tak mau disalahkan oleh Maminya.
“Panda sayang, kamu anak Mami kesayangan pokoknya minta maaf atau Mami jodohkan kalian berdua!” sahut Bu Nia geram.
“Nggak!” jawab mereka serentak secara tiba-tiba.
“Mami apa-apaan sih bukannya Mami menjodohkan Fajar dengan anak teman Mami di Jakarta?” tanya Fajar bingung.
“Terserah Mami, mau menikahkan kamu dengan siapa saja yang Mami mau kalau kamu tidak berubah.”
“Setelah Mami lihat kamu sangat cocok dengan gadis ini!” jelasnya lagi.
“Aduh maaf ini Bu, Tari nggak mau juga kalau di jodohkan dengan Mas Panda ini, lagian Tari juga sudah punya pacar yang lebih jauh lebih tampan dari Mas ini,” jawab Tari mendengus kesal.
“Memang saya juga mau sama kamu, gadis setengah pria, nanti bingung yang pria yang mana wanita, secara rambut kita potongannya hampir sama, nggak ah lagian kamu bukan level saya!” hardik Fajar.
“Wah sama dong, kamu juga bukan tipe saya, tenang saja lagian saya ini sudah punya pacar memang situ jomblo menahun," ledek Tari.
“Sudah-sudah, cepat dong Panda minta maaf, tunjukkan kalau kamu adalah laki-laki sejati, dengan meminta maaf tidak mengurangi harga dirimu kok," ucap Bu Nia menjelaskan dan tersenyum.
“Maaf!”
“Apa nggak jelas tuh, nggak dengar, harus dari hati dong yang ikhlas gitu!” ledek Tari.
“Hufh ... oke ... saya minta maaf sama kamu, saya tidak bermaksud membuat acara hari ini menjadi terganggu karena ulah saya,” ucapnya dengan lantang.
“Maaf Pak Udin, acara Bapak ada sedikit gangguan, tetapi saya pastikan acara ini akan berjalan dengan baik!” jelasnya lagi.
“Bagaimana nak Tari, mau memaafkan kesalahan anak Mami eh maksudnya anak Ibu?” tanya Bu Nia tersenyum.
Wajah Bu Nia membuat Tari rindu akan sosok seorang Ibu sesungguhnya, dia merasakan ada kehangatan antara ibu dan anak.
Dia rindu belaian kasih sayang diantara keduanya, dia rindu di marahi oleh ibunya, bahkan dia sudah lupa bagaimana cara memeluk hangat seorang Ibu
.
Tari terdiam sesaat melihat wajah Bu Nia tegas tetapi menghangatkan, dengan balutan hijab berwarna hijau pupus menambah cantik seorang Bu Nia yang berkulit putih.
Rasanya Tari ingin meminta dipeluk oleh Bu Nia tetapi dia sungkan, dia ingin sekali merasakannya, tanpa di sadari bulir-bulir air mata sudah membasahi kedua pipi mulusnya, membuat Bu Nia dan Fajar menjadi bingung.
“Loh sayang kenapa kamu, kenapa kamu menjadi menangis, ada yang salah dengan perkataan Ibu?”
“Ada apa Sayang, cerita sama Ibu anggap saja kalau saya Ibumu sendiri!” ucap Bu Nia membuat Tari menjadi terharu dan menangis.
“Loh kok kamu jadi nangis?”
“Bagaimana ini?” tanya Bu Nia menjadi serba salah.
“Hayo Mami tanggung jawab sama anaknya orang!” ledek Fajar kepada Maminya.
“Aduh Tar, kenapa juga kamu nangis katanya gadis yang kuat walau badai menghantam nah tetapi kenyataannya kamu oleng!” ucap Dafa mencoba menenangkan tangis Tari.
Tari masih menangis tersedu-sedu membuat Bu Nia menjadi bingung, tanpa banyak kata Bu Nia langsung memeluk hangat Tari.
Tari pun langsung terdiam seakan-akan dipeluk oleh ibu kandungnya sendiri.
“Apakah ini yang kamu minta Sayang, apakah kamu kangen dipeluk?” tanya Bu Nia seakan-akan tahu kesedihan yang dialami Tari.
“Maaf Bu, Tari nggak bermaksud mencari kesempatan, nggak tahu juga kenapa semenjak melihat Ibu ada rasa yang nggak pernah Tari rasakan, dan setelah Ibu memeluk Tari hati ini terasa plong, ada rasa bahagia, sedih, luka seperti nano-nano, sekali lagi Tari minta maaf," ucap Tari menjelaskan kepada Ibu Nia.
Bu Nia sangat menyukai tingkah laku Tari yang begitu natural, polos dan membuat hatinya tergerak kalau gadis seperti Tari bisa menjadi menantunya kelak.
Namun dia tidak memungkiri kalau Bu Nia sudah menjodohkan anaknya kepada teman dekatnya di Jakarta.
Dia pun tidak ingin memutuskan begitu saja dengan teman dekatnya itu, Bu Nia pun ingin mencari solusinya tetapi tidak enak hati juga bila memutuskan secara sepihak.
Akhirnya Bu Nia pasrah dengan jodoh anaknya, dia pun berpendapat jika Allah mengehendaki pasti terjadi, jika memang jodoh anaknya gadis ini pasti akan dipertemukan kembali.
“Sudah-sudah sekarang kita sudah telat sepuluh menit hanya membicarakan masalah sepele ini, jadi Ibu mohon dengan sangat tidak ada lagi perdebatan seperti ini!”
“Kamu ingat Panda setelah acara ini selesai kita akan siap-siap ke Jakarta membahas tunangan kalian dengan anak temanya Mami!” lanjutnya dengan tegas.
Takdir memang aneh, di saat Bu Nia menginginkan Tari sebagai istri dari anak semata wayangnya, sebentar lagi akan terwujud, karena Tari di suruh pulang oleh kakaknya karena ingin menyuruh Tari menikahi calon kakak iparnya yang sudah dimulai dengan pertengkaran hebat.