Zahra melangkahkan kakinya di lantai tempat sang papa bekerja. Deka kali ini memintanya untuk ke kantor, dan tentu saja Zahra tidak menunggu lama untuk ke sana. Semua orang di kantor sudah mengenal Zahra yang merupakan putri dari Deka, tidak heran jika di antara mereka menyapa gadis ini. “Papa ada, Om?” tanya Zahra kepada Septian yang sudah sangat ia kenal itu. Pria itu pun mengangguk dan mempersilakan gadis ini untuk masuk. Dan benar saja ternyata di sana sudah ada Deka dengan kertas serta laptop miliknya. “Akhirnya kamu datang juga,” kata Deka, “Septian kamu berikan berkasnya kepada Zahra,” titah pria paruh baya yang masih tampan di sana kepada sang sekretaris. Terlihat Zahra mengernyit. “Karena kamu akan ke panti, jadi ada beberapa hal yang harus kamu lakukan. Di sana kamu sebagai

