PART 17

1025 Kata
Dua hari kemudian, Sam sudah dapat kembali ke sekolah. Cerita dirinya diserang sudah tersebar. Saat Sam masuk ke dalam kelas ditemani Dewi yang sengaja mengantarkan sahabatnya ke kelas, banyak yang langsung memberondong Sam dengan beberapa pertanyaan. "Woy kalo nanya satu-satu kali! Sam baru sembuh nih!" Sungut Dewi memberikan ruang untuk Sam bernafas. Sam hanya tersenyum kecil tidak berniat menjawab. "Kalian ngapain sih!" Semua siswa yang mengerubungi Sam berbalik badan menatap Raka yang sudah berkacak pinggang di belakang mereka. "Pagi-pagi udah bikin heboh, ngga usah bahas-bahas deh, Sam juga ngga mau ingat-ingat lagi jadi mendingan pada bubar." Kerumunan langsung menghilang, semua kembali ke kursi masing-masing dengan wajah kecewa. "Lo udah sehat?" Tanya Raka. Sam mengangguk, "udah baikan kok." Raka tersenyum lega, "maaf ya Sam gara-gara gue–" "Bukan gara-gara lo Ka, tenang aja," sela Dewi, "yang salah tuh si Mela s***p itu, nekat main-main sama nyawa orang." Raka membenarkan ucapan terakhir Dewi, ia tidak menyangka kalau Mela bisa senekat itu, "tapi tetap aja gue sebagai salah satu penyebabnya." Sam menggeleng, "ngga kok, dari sebelum kalian putus, bahkan dari beberapa tahun lalu Mela memang ngga pernah suka sama gue." "Bener kata Sam, udah dari SMP si Mela selalu ngajak ribut Sam padahal mah si Sam kalem-kalem aja di kelas," sewot Dewi. Sam terkekeh pelan. "Iya tapi itu bukan alasan buat membahayakan nyawa orang lain." Dewi mengangguk, "iya lo bener Ka, emang dasar tuh nenek sihir udah ngga punya otak sama hati, kok lo bisa jatuh cinta sama cewe model gitu sih Ka?" Raka terkekeh, "ya dia sih yang deketin gue duluan, sikapnya dulu kan manis banget dan gue juga belum liat sikap aslinya seperti ini." "Intinya cinta itu buat lo buta." Sela Sam. Raka tersenyum masam dan mengangguk, "resiko cinta monyet." "Dibanding Mela mah bagusan Sam ke mana-mana lah!" Celetuk Dewi yang langsung mendapat sinisan dari Sam. Raka kembali terkekeh, "gue setuju, ya itulah begonya gue dulu, ada yang lebih baik malah gue sakitin," Raka menatap Sam membuat wajah Sam tiba-tiba memanas. Sam berdeham kecil menetralisir kegugupannya, "lo balik ke kelas lo gih Dew, udah mau masuk ini." Suruh Sam mengalihkan topik pembicaraan. "Astaga bener! Oke deh gue titip Sam ya Ka!" Dewi melambaikan tangannya dan pergi. "Sip!" Sam bernafas lega. "Gue juga balik ke tempat duduk gue ya." Ucap Raka sambil tersenyum manis. Sam mengangguk dan balas tersenyum. Rasa bencinya sama Raka sudah hilang begitu saja sekarang, bahkan Sam merasa luka yang Raka buat untuknya sudah sembuh. Jam istirahat, Dewi sudah berada di depan kelas Sam sebelum Sam keluar dan mengajak Sam ke kantin. "Lo mau ikutan juga Ka?" Tanya Dewi melihat Raka yang akan keluar kelas juga. "Boleh deh," Raka mengangguk dan mengikuti Sam serta Dewi. "Sam." Sam menoleh ke samping setelah duduk di tempat yang dipilihkan Dewi untuk mereka bertiga. "Kak Jo." Jo langsung duduk di samping Sam yang kosong. "Gue boleh gabung kan?" Tanya Jo pada Sam dan yang lain. "Boleh kak, duduk aja." Ucap Dewi, Sam hanya tersenyum kecil. "Kamu udah sehat?" Tanya Jo sambil melihat plester yang terpasang di pipi Sam. Sam mengangguk dan tersenyum kaku, "udah kok kak." "Syukurlah." "Oh iya soal waktu itu, aku minta maaf." Sam kembali mengangguk, "ngga apa kak, aku juga baik-baik aja kok." "Ada apaan sih?" Tanya Dewi dengan wajah penasaran. Sam menggeleng sekilas, "ngga apa kok Wi." "Beneran?" "Iya beneran," jawab Sam dengan nada gemas. "Oke!" Mereka makan dalam diam, Sam tidak berani menegur Jo seperti biasa sejak mendengar cerita dari Sammy dan Dara. Kemarin Sam memang sudah mengatakan akan menjaga jarak dengan Jo namun kenyataannya cukup sulit mengingat beberapa waktu kemarin mereka sudah dikatakan cukup dekat. Mereka kembali ke kelas setelah bel masuk berbunyi. Jo ikut menemani Sam ke kelas bersama Dewi dan Raka. "Kakak tinggal ya." Pamit Jo. Sam mengangguk. "Lo kenapa Sam?" Tanya Dewi setelah Jo pergi. "Iya, lo kayak takut gitu bicara sama Kak Jo, biasanya kalian deket banget." Timpal Raka. Sam tersenyum kecil, "ngga apa kok, lo balik ke kelas gih Wi." "Oke deh, gue balik dulu ya!" "Oke!" Sahut Sam dan Raka bersamaan. . . "Kamu masih dekat dengan Jo?" Tanya Zio diperjalanan pulang setelah menjemput Sam. "Kalau dibilang dekat juga bingung sih kak, mau jaga jarak tapi dia masih datengin Sam, ngga semudah itu jauhin orang yang udah cukup deket kak." Jelas Sam. "Kakak ngga larang kalian berteman, cukup menjaga jangan terlalu dekat saja karena kakak ngga mau kamu disakiti lagi." "Iya kak, Sam akan berusaha menjaga diri." Kejadian yang menimpa adiknya benar-benar membuat Zio lebih memantau Sam sekarang ini. "Kalau soal Raka?" Sam tersenyum kecil, "kakak tenang aja, Raka udah berubah kok, Sam jamin dia bisa jadi teman baik." Zio mengangguk percaya, "okelah kalau kamu udah bilang gitu kakak percaya." Esoknya orang tua Sam dan Mela dipertemukan, Sam dan Mela juga hadir di sana beserta orang tua kedua antek-antek Mela, Puput dan Ira. Orang tua Mela meminta maaf dengan sangat tulus bahkan para Ibu-Ibu sampai menangis pada keluarga Sam agar anak mereka tidak sampai masuk penjara, mereka rela mengganti semua biaya rumah sakit Sam kemarin dan menjauhkan anak mereka dari Sam sejauh mungkin. Melihat bagaimana hancurnya ketiga orang tua ini akhirnya Sam tidak akan membawa ini ke jalur hukum. Zio ikut angkat bicara setelah Sam mengatakan keputusannya, Mela dan kedua temannya tetap dikeluarkan dari sekolah dan jika kembali mengancam keselamatan Sam atau menyakiti Sam maka tidak akan segan untuk membawa ke jalur hukum. Semua menyetujui syarat yang diajukan Zio, mulai saat itu Mela dan kedua temannya harus menjauhi Sam. Selesai satu masalah, muncul masalah lain, Sam harus mulai menjaga jaraknya dengan Jo namun sangat sulit. Jo jadi lebih sering mendatangi kelas Sam saat istirahat. Dewi dan Raka yang tidak tahu apa-apa mengizinkan saja Jo bergabung makan bersama mereka di kantin. Sikap Sam pada Jo jadi lebih canggung, namun Sam berusaha menutupinya dan bersikap senormal mungkin. Meski sudah tahu akan sifat asli Jo namun Sam tidak bisa begitu saja menjauhi laki-laki itu karena selama ini yang Jo tunjukan adalah sikap baik dan manisnya pada Sam. Hingga suatu kali saat jam pulang sekolah, Jo menghampiri kelas Sam yang sudah sepi. Saat itu Sam sedang mendapat tugas piket jadi ia harus pulang belakangan. "Sam––" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN