Bab 1

1147 Kata
Hidup bagai daun yang kering Terombang-ambing ke mana angin akan membawa. Kadang terbang dibawa sang bayu, namun terkadang jatuh ke tanah dan terinjak. Suasana sore itu mendung dan perlahan titik-titik air mulai turun membasahi bumi. Segelap dan semendung hati seorang gadis yang bahkan masih sangat belia. "Ibuk, jangan tinggalkan Minah, Buk!" ratap gadis kecil berusia lima belas tahun di depan makam ibunya yang masih basah dengan taburan bunga mawar di atasnya. Gadis itu memeluk nisan ibunya seolah enggan berpisah. "Minah, ayo pulang, Nduk!" ajak Prapto. Lelaki paruh baya yang merupakan ayah Minah dan juga suami almarhumah Juminten. "Ndak, Pak. Minah mau di sini saja, mau nemenin Ibuk." Gadis itu menolak pulang dan masih terisak-isak. "Nduk, kalau Kamu begini terus nanti ibukmu di sana ikut sedih loh. Minah mau ibuk ndak bahagia? Ndak mau to?" bujuk Prapto yang sebenarnya juga masih sangat terpukul dan sedih karena kepergian istrinya. Akhirnya setelah sekian lama dibujuk, anak semata wayang Prapto mau pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang gadis itu masih menangis sesenggukan. Kehilangan ibunya adalah beban yang begitu berat baginya. Mengingat gadis itu sangat dekat dengan mendiang ibunya. "Pak, kenapa Tuhan ndak sayang sama Minah?" tanya Minah putus asa. Sesekali air mata masih mengalir dan membanjir. "Hush ... ora elok Nduk ngomong kayak begitu, dosa," nasehat Prapto pada putrinya yang baru beranjak remaja. "Tapi ... Pak. Hidup kita selalu serba kekurangan. Minah masih bisa terima Pak. Tapi sekarang Allah juga mengambil ibuk dari Minah, Pak. Minah ndak punya ibuk lagi, sekarang cuma punya Bapak," ratap Minah penuh kesedihan. "Sabar ya Nduk. Itu tandanya gusti Allah sayang Kamu Nduk, Kamu sekarang sedang diuji. Bapak yakin Kamu akan mendapatkan kebahagiaan suatu saat nanti." Prapto yang sudah tak bisa menahan air matanya akhirnya menangis memeluk putri semata wayangnya. Ada rasa sedih terlihat dari matanya. Luka karena ditinggal pergi istrinya. Bukan hanya Minah yang merasa kehilangan tapi dirinya juga merasakan hal yang sama. Sebulan yang lalu. "Uhuk uhuk uhuk." Juminten terbatuk-batuk. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Wajah Juminten terlihat sangat pucat. Tubuhnya yang sudah kurus semakin kurus disebabkan oleh penyakit yang dideritanya. Sesekali keluar darah dari mulutnya, ketika ia batuk. Prapto yang melihat keadaan istrinya yang semakin buruk sangat khawatir. Akhirnya memutuskan untuk memeriksakan istrinya ke puskesmas. Di puskesmas, dokter yang memeriksa Juminten mengatakan kondisi Juminten sangat buruk. Hingga dokter merujuk Juminten untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke rumah sakit besar yang peralatan dan perawatannya lebih bagus daripada puskesmas. Sesuai surat rujukan dari puskesmas, akhirnya Juminten diantar suaminya untuk melakukan pemeriksaan di Rumah sakit besar di daerah tempat tinggalnya sesuai rujukan dari puskesmas. Prapto menyesal sudah mengabaikan batuk sang istri yang semula hanya ia kira batuk biasa. Malangnya ia yang hanya orang miskin memang tak punya uang untuk berobat. Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari saja susah. Untung saja sekarang keluarga Prapto memiliki Kartu Sehat untuk berobat. Kalau tidak entah dari mana ia mendapat uang untuk berobat. Setelah melalui berbagai pemeriksaan, tiga hari kemudian Prapto ke rumah sakit mengambil hasilnya. Prapto sangat terkejut karena hasil pemeriksaan menyatakan bahwa istrinya didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium akhir. Sudah sangat terlambat waktu diperiksakan, karena kanker sudah mulai menyebar ke mana-mana. Prapto lemas seketika mengetahui kenyataan pahit yang menimpa istrinya. Ingin ia berteriak namun rasanya tak ada gunanya. Kehidupannya yang sangat miskin masih ditambah dengan cobaan seperti itu. Ia hanya bisa terduduk lemas di ruang tunggu rumah sakit. Kenyataan pahit itu seakan palu godam yang menghancurkan hatinya. Tapi semua sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Ia harus menerima dengan ikhlas dan lapang d**a. Sungguh cobaan Tuhan yang seakan tak ada habisnya. Ia hanya buruh tani miskin yang bekerja serabutan. Hidup serba kekurangan dan kesusahan. Sering kali berhutang pada tetangga atau di warung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan sekarang ia menerima fakta bahwa istrinya dalam kondisi kesehatan yang buruk dan kemungkinan untuk hidup yang sangat kecil. Dan bagaimana caranya ia akan memberi tahu istrinya? Sungguh ia tak sampai hati untuk menceritakan semua kenyataan pahit itu. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan berbicara jujur pada istrinya. Bagaimanapun juga, Juminten berhak tahu kondisinya. Setelah mendengar penjelasan Prapto, mereka berdua menangis tersedu-sedu. Mengingat putri semata wayang mereka. Pasti Yasminah anak mereka sulit menerima keadaan ibunya. Akhirnya mereka sepakat untuk menyembunyikan kenyataan itu dari putri mereka. Juminten mulai menerima kenyataan bahwa ia sakit parah. Ia hanya bisa pasrah pada Sang Pencipta. Ia tak mau diajak berobat, karena ia merasa percuma saja. Kemungkinan untuk sembuh dan bertahannya sangat kecil . Ia memilih menghabiskan hari-hari yang tersisa bersama keluarga dengan tenang walaupun kesakitan. Prapto merasa ia gagal menjadi kepala rumah tangga. Andaikan ia mempunyai uang, sudah pasti bisa memeriksakan istrinya lebih awal sebelum menjadi parah seperti ini. Andaikan dia bukan orang miskin kemungkinan besar istrinya masih bisa diselamatkan. Namun kini Juminten telah berpulang ke hadapan Tuhan dengan tenang. Tiada lagi kesakitan yang ia rasakan, tiada lagi penderitaan karena kemiskinan. Walaupun semua ini belum bisa di terima oleh Minah dengan lapang d**a. Gadis itu masih belum bisa mengikhlaskan kepergian ibunya. Minah terduduk lesu di kursi reyot ruang tamu, kedua tangannya memeluk erat foto almarhum ibunya. Sesekali air mata jatuh dari manik hitamnya. Ia begitu terpukul ketika pulang sekolah mendapati ibunya telah tiada. Ia yang baru pulang sekolah sangat penasaran melihat tetangga berkerumun di halaman rumahnya. Ketika ia masuk rumah ia terkejut dan langsung histeris ketika melihat Prapto yang menangis memeluk Juminten. Minah baru menyadari apa yang terjadi pada ibunya, ketika ia melihat kondisi ibunya yang diam tak bergeming dengan wajah pucat pasi. Kini ia hanya tinggal berdua dengan bapaknya. Ia berjanji akan selalu berbakti dan mematuhi perkataan satu-satunya orang tua yang ia miliki. Dan sebisa mungkin ia ingin membantu bapaknya untuk mencari uang. Bahkan setelah peringatan tujuh hari kematian ibunya, ia sudah kembali ke realitas hidupnya yang berat. Kini ia harus belajar mandiri setelah kepergian sang ibu. Beruntung sedari kelas empat sekolah dasar, ibunya sudah mulai mengajarinya memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah . Sehingga ketika ibunya tiada, ia sudah terbiasa dengan tugas-tugas yang biasa dikerjakan oleh ibunya. Untuk membantu ayahnya, setiap pagi ia mengambil gorengan di warung tetangga dan menjualnya di sekolah. Ia hanya mendapatkan keuntungan sedikit. Karena masih harus dikurangi separuh bagian oleh ibu pemilik warung, untuk membayar hutang almarhumah ibunya yang belum bisa dilunasi. Minah sudah sangat bersyukur mendapat uang yang walau sedikit. Setidaknya masih bisa digunakan untuk membeli ikan asin atau tahu tempe. Setidaknya ia tak lagi makan hanya dengan garam. Untuk membeli beras, bapaknya yang mencari uang dengan menjadi buruh serabutan. Terkadang di sore hari ia membantu mengambil telur di peternakan ayam milik tetangganya agar mendapat uang tambahan. Uang itu ia gunakan untuk membayar buku dan uang sekolah. Walau tak bisa mencukupi semua, Minah bersyukur setidaknya ada pemasukan untuknya agar sedikit mengurangi beban Prapto. Ia kini menjadi lebih dewasa dari umurnya. Gadis yang dulu hanya tahu belajar, kini harus memikirkan kebutuhan rumah tangga. Dan juga harus menggantikan peran ibunya untuk merawat ayahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN