Bab 36

1040 Kata
"Apa?" Rachel terkejut. Tak menyangka jika Raditya benar-benar tega mengusir Minah. Ada perasaan bersalah dalam hati Rachel, mengingat apa yang sudah gadis itu lakukan untuknya siang tadi. "Sebenarnya, Rachel menangis juga bukan karena Minah kok kak. Lagian Minah tadi siang yang membantu Rachel." "Membantumu? Maksudnya? Jadi bukan Minah yang telah menyakitimu?" tanya Raditya sangat terkejut. Rachel menggelengkan kepalanya lemah. Raditya mengacak rambutnya kesal. Seharusnya ia memastikan dulu sebelum ia menghakimi Minah seenaknya sendiri. Raditya jadi merasa bahwa ia adalah penjahatnya sekarang. Rachel akhirnya menceritakan dari awal sampai akhir tentang Minah agar semuanya menjadi lebih jelas. Ia juga mengatakan pada Raditya tentang kejadian di rumah Dafa tadi siang, jikalau lelaki b******k itu sudah mengkhianatinya. Orang yang telah membuatnya bersedih seperti saat ini. Raditya mendengar dengan penuh rasa bersalah dan menyesal. Karena emosinya yang meluap ia tega mengusir Minah. Dan sekarang di luar hujan semakin deras. Bertambah-tambah rasa bersalah dalam hati Raditya. Raditya jadi sangat mengkhawatirkan keadaan Minah. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Apa yang bisa ia lakukan? Bahkan Raditya tidak tahu Minah pergi ke mana. "Jadi Kakak benar-benar mengusir udik?" tanya Rachel membelalakkan mata tak percaya. Raditya hanya bisa mengangguk lemah. "Sebenarnya Minah tidak terlalu buruk juga Kak. Dia gadis yang baik. Kasihan juga kalau dipikirkan. Selama di rumah ini dia juga tahu diri. Tak pernah menyusahkan Rachel. Hanya saja ... Rachel yang terlalu jahat padanya. Bukan hanya Rachel, Kakak juga kejam padanya," ucap Rachel menunjuk wajah Raditya. "Hah, iya Kakak tahu Kakak salah. Tapi tak perlu menunjuk-nunjuk wajah orang seperti itu." Raditya menggenggam jari telunjuk adiknya dan membuangnya. "Akan tetapi, ya sudahlah Kak. Semua sudah terjadi. Mau apa lagi? Sudah ... sana Kakak pergi. Rachel mau tidur. Jangan ganggu aku lagi." Rachel mendorong tubuh Raditya dengan kasar hingga lelaki itu hampir terjungkal dari atas ranjang. "Dasar adik durhaka," umpat Raditya kesal. "Masa bodoh. Pergi sana. Jangan ganggu aku. Besok juga hari minggu. Awas saja kalau Kakak berani mengganggu tidurku. Aku mau bangun siang, jangan ganggu aku sampai besok." "Iya iya bawel." "Maafkan aku Minah," batin Raditya dengan dipenuhi rasa penyesalan. Raditya segera keluar dari kamar Rachel dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, ia mendengar suara-suara dari lantai bawah. Membuatnya turun melihat apa yang terjadi. *** Gadis ringkih itu berjalan sendirian menembus hujan. Rasa dingin menusuk hingga ke tulang. Sudah satu jam ia berlalan luntang-lantung di jalanan. Pakaian seragam yang belum sempat ia ganti sudah basah kuyup. Begitu juga dengan tas tenteng yang ia bawa, ia yakin isinya juga tak luput dari tetesan air hujan. Minah begitu bingung mau ke mana. Ingin ke rumah Andra, rasanya tak pantas ia sebagai anak gadis berkunjung malam-malam. Di bawah guyuran hujan, air hangat dari pelupuk matanya itu mengalir lagi. Dalam sekejap saja menghilang diterpa tetes air dari langit. Gadis itu sedih dan bingung, mau bagaimana dan ke mana. Entah langkah kakinya yang semakin melemah akan membawanya ke mana. Dengan terseok-seok ia menyusuri trotoar. Tak ada seorang manusia pun yang terlihat di luar rumah, hanya ada banyak mobil yang lalu-lalang. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Rasti bernapas lega karena beberapa menit lagi ia akan sampai rumah. Entah mengapa perasaannya begitu kacau. Merisaukan hal entah itu apa. "Pa, berhenti!" Ucapan Rasti membuat Dimas harus menginjak rem secara mendadak. "Mama!" protes Dimas. "Lihat Pa. Itu Minah. Mau ke mana malam-malam begini?" "Bukan ah Ma. Masa Minah jam segini di jalanan." "Lihat betul-betul Pa. Itu beneran baju seragam Minah. Kepangannya, bentuk tubuhnya." "Ya sudah kita pastikan saja. Papa tepikan mobil kita dulu." Dimas lantas menepikan mobil mereka di tepi jalan agar tidak mengganggu pengguna jalan yang lainnya. Dengan tergesa Rasti mengambil payung di jok belakang dan keluar mengejar Minah. "Minah! Minah!" Suara Rasti tertelan hujan. Gadis itu tak dapat mendengar panggilan Rasti. Apalagi suara deru kendaraan sangat bising. Flashback on "Pa, perasaan Mama kok nggak enak ya?" tanya Rasti setelah meeting dengan klien. "Kenapa Ma?" tanya Dimas. "Pa, urusan kita juga sudah selesai kita pulang saja yuk," ajak Rasti. "Ma, ini udah jam empat sore loh. Mama nggak capek? Bisa-bisa kita sampai rumah larut malam." "Baru jam segini Pa. Palingan jam sepuluh juga udah sampai rumah." "Hah, ya sudah. Mama berkemas. Kita pulang. Mama ini ada-ada saja. Pakai perasaanya nggak enak segala," gerutu Dimas yang sebenarnya lelah. Namun karena Dimas sangat menyayangi istrinya, ia tak dapat menolak. Flash back off "Minah! Minah!" panggil Rasti mengejar Minah dengan payung. Rasti tahu suasana sangat bising jadi kemungkinan gadis malang itu tak dapat mendengarnya. "Minah!" Rasti memegang pundak Minah setelah menyusul langkah gadis itu. Minah menoleh setelah mendapatkan sentuhan tangan Rasti yang hangat. "Ya Allah, ini benar kamu Nak?" Rasti sedih melihat kondisi Minah yang mengenaskan. Gadis itu terlihat kacau dan pucat. "Tan-Tante," jawab Minah dengan suara yang bergetar. "Kenapa kamu di sini, Nak?" tanya Rasti ingin memeluk Minah yang basah kuyup. "Ja-jangan Tan. Nanti Tante ikut basah," tolak Minah. "Sini! Ikut Tante." Rasti menarik tangan Minah dan membawanya ke emperan sebuah toko. Rasti merogoh sapu tangan dari saku bajunya, mengusap wajah gadis yang sedikit membiru karena kedinginan. "Apa yang terjadi Minah?" "Ma-maaf Minah tak bisa lagi tinggal di rumah Tante." "Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Rachel dan Radit?" tanya Rasti. Minah menggeleng cepat. "Tidak Tan, ini kemauan Minah. Karena sebenarnya memaang sudah lama Minah ingin pergi. Tapi Tante selalu melarang Minah, jadi Minah pikir ini kesempatan yang bagus. Karena Tante tidak ada di rumah." "Nak, apa salah Tante padamu? Katakan Minah, adakah sikap Tante yang membuatmu tak nyaman? Hingga kamu lebih memilih untuk meninggalkan Tante diam-diam?" "Tidak Tan. Tante Rasti sangat baik kepada Minah. Seumur hidup Minah juga tak akan bisa membalas kebaikan Tante. Hanya saja, sepertinya ini bukan jalan hidup Minah. Minah harus kembali ke desa mencari Bapak," bohong Minah lagi. "Kalau begitu, mari kita pulang. Kamu tidak boleh pergi sebelum membalas budi. Tante akan bantu untuk cari bapak kamu jika perlu. Kita bisa mencari bapak kamu bersama-sama." "Tidak Tan. Minah tidak mau." Minah menggeleng lemah. Ia mengingat kembali semua kata-kata Raditya yang tajam menusuk hati. Juga tatapan kebencian yang Raditya layangkan padanya. Tidak, Minah tak ingin menjadi sumber masalah lagi di rumah itu. Susah payah ia pergi. Ia tak boleh kembali. Air mata pun lolos lagi dari pelupuk matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN