“Kita harus bicara.” “Maaf Vik, aku harus ke Surabaya sekarang juga, ada undangan dari PusVetma.” Jelasku sambil melepas tangan Vika yang melingkar di lenganku. “Itu dia taksinya, kamu pulang sendiri ya, maaf.” “Sampai kapan kamu menghindariku Mik?” Astaga, tolong Vik jangan sekarang membahas tentang kita. “Aku gak bisa konsen Vik, Valerie baru saja melahirkan, Ayah dan Ibun terbang ke Jakarta, sementara aku malah ngabur ke sini. Tolong jangan sekarang.” “Jadi kamu nyalahin aku? Atau nyesel udah ikut aku balik?” Please, Vik. “Pak, ke Permata Jingga ya,” ucapku pada supir taksi dan meminta Vika untuk segera masuk. Meski sedikit agak memaksa tapi setidaknya Vika segera menurut dan tak memberi perlawanan. Selanjutnya, ku biarkan Vika pergi bersama taksi yang ku pesan tadi tanpa berni

