Aku tercekat mendapati lelaki itu begitu saja sudah berada di sini. Seperti tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri. Sudah terlanjur dia melihatku datang. Dan bagaimana sekarang aku harus menghindar? Aku mengeratkan peganganku tanpa sadar bahwa dia adalah seorang yang bahkan beberapa saat yang lalu begitu membuatku sebal. Aku tak memperdulikan hal itu sekarang. Yang terpenting, bagaimana aku bisa menghindari makhluk lain yang sudah siap menyidangku di beranda rumahku itu. Setidaknya untuk saat ini, aku benar-benar belum siap untuk sekedar mengobrol bersama. Dan dia, orang yang menjadi peganganku itu tampak mengerutkan keningnya tanda bingung dengan sikapku yang berubah-ubah ini. "Kenapa?" Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Tapi sepertinya Miko bukan orang bodoh yang tidak bisa

