Alfian melihat putrinya yang sedikit berlari menuju ruang UGD. Wajahnya terlihat panik setelah menerima telepon tadi, bersamaan dengan dokter muda yang belum sempat dia kenalkan tadi. Melihat tingkah sigap yang Deeva perlihatkan sekarang, membuatnya menyadari bahwa putri kecilnya yang dulu suka berleha-leha sekarang bisa bersikap sigap dan berlari dengan cepat setelah mendapat telepon tadi. Senyumannya berubah membeku, mengingat bagaimana putri bungsunya harus menghadapi hujatan bukan dari rekan sejawatnya saja, melainkan juga dari para atasan yang memakan mentah-mentah gosip itu. Jika saja, dia tidak menganggap pasangan dokter di depannya ini sebagai saudara, dia sudah menghentikan dana sumbangan yang selalu dia berikan kepada rumah sakit ini. Sejak dia kembali menemukan kebahagiaann

