Aku bersembunyi di balik tembok, saat Kang Dadang beserta kekasihnya yang berambut panjang itu lewat di depan kami. Kang Dadang tidak mengenali Willy, apalagi posisi Willy tengah memunggungi Kang Dadang. Sinar lampu yang menerangi sepanjang jalan pinggir pantai tidaklah terlalu terang, sehingga jika kita tidak melihat secara dekat, maka wajah orang pun tidak jelas. Namun, aku begitu mengenal suamiku. Walau dalam sinar temaram, sosok itu begitu kuhapal. "Pulang saja, Willy, saya sudah tidak berminat untuk naik perahu," kataku pada pemuda itu. "Itu bukan perahu, Mbak, tapi speed boat," balas Willy membetulkan ucapanku sambil menahan tawanya. "Sama saja, mereka satu keturunan." Aku benar-benar malas berdebat, sehingga aku memutuskan untuk berjalan lebih dahulu dari Willy. Sempat kuden

