Minta Tolong

1529 Kata
Bab 6 Minta Tolong Fuji berfikir orang sepelit Thoriq tidak lah mudah untuk di mintai uang, walau sudah seharusnya dia mengeluarkan uang tersebut untuk kesenangan yang telah dia dapatkan. Mungkin tidak cukup hanya dengan di kasih tau bahwa dia mengenal istri nya. Justru mungkin Thoriq akan semakin menjauh dan membuat alibi seolah Fuji lah yang mengejar mya, dan dia akan belagak seperti korban. Biasalah... Fuji sudah sangat hapal sifat lelaki hidung belang yang ketauan istrinya. Mereka akan mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan nya sehingga dia akan terlihat seperti korban dan Sang Betina adalah pemangsa nya. Fuji teringat pada Bang Atta, suami Aurel sahabatnya yang tinggal di Kota yang sama dengan Thoriq. Bang Atta lumayan di segani karena dia seorang pejabat negara yang santun dan suka membela rakyat kecil. Fuji pun sudah menganggap Bang Atta seperti kakaknya sendiri karena setiap dia ada masalah dan mengadu pada Aurel, dengan senang hati Aurel Sang Sahabat berhati putih seputih kapas dan sebening embun tersebut akan membantu 100% bahkan Aurel sendiri yang memberikan nomor ponsel Bang Atta pada Fuji waktu itu untuk di mintai tolong ketika ada masalah, hingga Bang Atta pun sudah seperti kakak oleh Fuji. Sore yang cerah itu tak mampu membendung air mata Fuji yang terus mengalir karena kecewa. Bukan hanya pada Thoriq, tapi juga pada hidupnya yang merana dan selalu terhina. Hanya segelintir yang masih memahami kesulitan orang orang seperti Fuji tanpa memandang hina, sepeti Aurel dan Bang Atta saat ini. Fuji pun segera menghubungi Bang Atta... "{Halo Assalamualaikum Bang}" Fuji memberikan salam dengan sopan. Memang cara berbicara Fuji ketika dengan Aurel dan Bang Atta berbeda. kalau dengan Aurel, Fuji lebih ceplas ceplos dan terkadang berbicara tanpa titik dan koma. "{Waalaikum Salam}" Jawab Bang Atta singkat "{Abang lagi sibuk nggak?}" Fuji takut mengganggu kesibukan Bang Atta "{Nggak, ini lagi di rumah}" Balas Bang Atta "{Oooh lg di rumah. Aku mau minta tolong nih Bang. Hhhhh.. tapi ga tau sih bisa minta tolong atau nggak sama Abang soal ini. Aku di tipu sama orang Bang}" "{Di tipu gimana?}" "{Ehmmm.. Sebenarnya aku malu sih mau ceritain. Tapi aku ga bisa nahan sakit hati kalau gak di selesaikan. Uhmmm, jadi waktu itu ada tamu di tempat karoke aku. Katanya dia dari Nareh. Kampung Bang Atta kan itu?}" Terisak pilu Fuji mulai berkeluh kesah "{Ehm .. ya}" Jawab Bang Atta. "{Terus dia juga katanya bakalan sering datang ke cafe aku. Jujur ya Bang, selama ini semua orang di cafe tau, aku nggak pernah ambil job ke kamar. Bahkan waktu itu pejabat aja yang mau kasih aku dua juta, anggota Dewan kasih aku empat juta, aku ga pernah mau sampai para Mami marah ke aku, sampai dua minggu aku gak di kasih job karaoke sampai aku gak ada uang buat makan. Begitu aku menjaga diri aku Bang}" Petasan beruntun pun mulai meledak ledak dari mulut Fuji di tambah gemuruh isak tangis yang tak tertahankan. "{Terus dia kan bilang kalau dia orang Nareh, itu kan sekitar kampung Abak (Papah), dan aku bilang sama dia kalau Abak juga orang Balai Baru, dekat dengan Nareh. Tapi aku ga nyangka kalau dia penipu. Kalau aku tau dia tinggal di Cipadu, aku ga akan mau di ajak ke hotel sama dia dan dia cuma kasih aku sembilan ratus ribu Bang dan aku di cafe juga tidak di bayar sama sekali tapi karena aku fikir nanti dia balik lagi, tempat tinggal nya juga dekat di Nareh, jadi aku percaya aja. Dari jam dua malam aku ketemu dia di cafe aku, karaoke dua jam dia cuma kasih aku dua ratus ribu yang seharusnya tiga ratus ribu. Nyambung lagi ke cafe lain, teman teman aku di sawer cuma aku yang nggak. Kata nya nanti aja di lebihkan karena kita mau lanjut ke hotel}" Fuji menjelaskan betapa perhitungan nya Thoriq sampai sampai Fuji mengira bahwa Thoriq adalah orang kampung yang sekali kali karaoke ke Kota kecil tempat Fuji bekerja. "{Jadi sekarang permasalahannya apa nih}" Bang Atta menyela pembicaraan karena Fuji sudah menangis sambil bicara. "{Permasalahannya.... Sebenarnya aku kan pekerjaannya bukan j*al diri, tapi kalau sampai sore itu, gak pantas dia kasih aku sembilan ratus ribu. Harusnya dia kasih aku empat juta Bang.}" Isak Fuji merasa sangat terhina. Sudahlah tidak dapat cinta, tidak pula mendapat keuntungan materi. Fuji merasa di anggap lebih hina dari seorang pelac*r. "{Iya soalnya Abang kan gak tau kalau soal tarif tarif begitu. Abang juga kenal dia juga cuma kenal kenal gitu aja di tongkrongan}" Jelas Bang Atta. "{Iya Bang. Aku sebenarnya kalau bisa pengen selesai baik baik, Bang. Kalau aku merasa di tipu begini, aku bisa merusak rumah tangga nya dia Bang. Aku di bayar semurah itu terus dia pergi ninggalin aku gitu aja, kan aku sakit hati Bang.}" Fuji sangat emosi di sela sela isak tangis nya "{Mungkin sekarang dia sedang sibuk di Jakarta Ji. Nanti paling dia balik lagi dan nemuin kamu.}" Hibur Bang Atta "{Ga mungkin dia mau ke kampung secepat itu lagi Bang, jauh banget itu. Aku kira dia tinggal di Nareh jadi bisa seminggu berapa kali datang maka nya aku oke aja ke kamar sama dia biar jadi tamu langgan*n dan mana tau pula bisa langsung jadi simpanan}" Terang Fuji. "{Ya kalau orang orang bisnis begitu kan sering pulang karena urusan bisnis Ji. Nanti juga dia pulang ke kampung dan nemuin kamu. Sabar aja dulu.}" Dengan sabar Bang atta menenangkan Fuji yang sudah berderai air mata, sampai terbatuk batuk bicara "{Tadi aku sempat nanya juga sama Aurel. Aurel bilang emang dia royal, teman nya bilang gitu ke Aurel. Dan dia emang bos bukan karyawan. Tapi kenapa tega dia bilang ga punya duit sama aku}" Fuji masih tegang... "{Ya udah lah memang kayak gitu, udah resiko dari pekerjaan, mau di apain ya kan?}" Bang Atta bingung juga menenangkan "{Sebenarnya permasalahan nya bukan juga cuma sekedar uang Bang. Tapi aku merasa harga diri aku di injak injak. Sedangkan selama ini aku bisa beli rumah dan mobil, dan bisa hidup mewah dengan menjual kehormatan ku, tapi tak pernah aku lakukan Bang. Karena aku kira dia orang Nareh, sekampung dengan Abak aku, maka nya aku percaya}" "{Sekarang mau gimana?}" Bang Atta berkata lemah dan bingung "{Bisa gak Abang bantuin aku minta sisa uang yang tiga juta seratus ribu di kamar dan empat ratus ribu di cafe, karaoke sampai nyambung ke cafe lain, aku juga gak di bayar. Kalau dia gak mau bayar, aku laporin ke anak istri nya. Aku sakit hati banget di giniin}" Isak Fuji. "{Mungkin nanti dia balik lagi ke kampung mana tau ada bisnis, dan pergi ke kota mampir ke cafe Fuji. Jangan cepat ambil keputusan dulu.}" Saran Bang Atta "{Aku udah chat istri nya barusan tapi aku masih mikir untuk merusak rumah tangga orang. Tapi aku sakit hati di anggap rendah banget kehormatan aku. Sekali nya aku percaya sama dia malah aku di giniin. Aku sakit hatiiiiii banget.}" "{Berarti Fuji main hati.}" Bang Atta sedikit menyalahkan kecerobohan Fuji. "{Iya, karena aku tau nya dia orang Nareh dan tinggal di sana makanya aku percaya ama dia. Aku berfikir Abak ku orang kampung dia juga, mana mungkin dia tega nipu aku}" Fuji tak terima "{Aku barusan juga udah mau kirim video aku sama dia di hotel ke istri nya tapi aku masih mikir mana tau bisa di selesaikan baik baik melalui Abang.}" Harap Fuji pada Atta "{Emang Fuji di video itu ngapain sama dia?}" Bang Atta cemas juga kalau sampai ke jalur hukum jika Fuji tak bisa mengendalikan emosi begini "{Lagi di kamar sama dia. Lagi breakfast dan lagi karaoke juga. Tadi nya sih aku bikin video itu untuk iseng aja tapi karena kejadian ini harga diriku merasa terusik aku berniat mau kasih tau anak istri dan mertua juga semua keluarga nya, kalau dia gak mau selesai baik baik. Dia ancurin harga diriku, ku hancurin juga keluarga dia. Aku sakit hati banget pas tau dari Aurel dia ga sesederhana yang aku kira}" "{Jiiii.. Fujiii.....}"Bang Atta menyela dengan sabar. "{Mungkin hari itu rejeki nya segitu. Mana tau besok besok ketemu lagi dia kasih lebih}" Lanjut Bang Atta "{Bukan soal uang juga Bang. Dia melakukan itu ga cuma sekali sama aku. Dari subuh pulang karaoke itu sampai sore dan ada beberapa kali dia nembak di dalam. Sekarang aku ga tau aku hamil atau nggak.}" Fuji benar benar merana tak terkira "{Anggap lah ini suatu pengalaman. Untuk ke depan jangan sampai terjadi lagi}" Bang Atta masih berusaha mendamaikan. "{Kalau Abang ga mau bantu gapapa. Biar aku sebarkan video kita di hotel itu di semua media sosial. Terlanjur hina diriku, terlanjur hancur, biar lah hancur lebur sekalian. Biar istri dan seluruh keluarga istrinya tau kebejatan dia di luar}" Fuji mulai nekat "{Oke .. oke nanti kalau ketemu Abang bantu bicara.}" Bang Atta akhirnya menyerah walau sebenarnya ini bukan urusannya tapi dia kasian juga jika Fuji lepas kendali bisa membahayakan dirinya sendiri dan rumah tangga orang lain. "{Makasih ya Bang. Kalau nunggu ketemu aku rasa bakalan lama. Aku kirim aja nomor ponselnya ya, biar Abang bisa hubungi dia. Dan nanti biar ku suruh dia menghubungi Abang biar Abang bisa menjelaskan. Sebab aku udah ga bisa lagi bicara baik baik sama dia. Aku takut lepas kontrol dan malah makin kacau}" Fuji memberikan jalan keluar yang mau tak mau di setujui Bang Atta
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN