Tak sia-sia mereka berdiam diri di mobil sekitar 3 jam, akhirnya terbalas kan dengan view yang kedua perempuan itu inginkan. Pelangi dan Bina tampak bahagia bisa sampai kesini.
"Benar-benar bisa bikin refreshing ya La?"
"Iya Bina. Gue suka banget!" sahutnya.
"Buruan ke villa yuk," Pelangi mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan menuju villa yang sudah Bina pesan.
Tak butuh waktu lama. Mereka sudah berada di villa yang Bina maksud.
"Keren sih ini! Gila banget!" kata Pelangi excited.
"Kurang sih kalau cuman 2 hari,"
"Lo maunya berapa hari? Sebulan? Nanti aja kalau lo mau bulan madu," sewot Bina.
"Gila lo ya,"
"Dahlah yuk buruan! Tas sama kopernya La jangan lupa!"
Pelangi dan Bina segera check-in di villa yang dituju tadi.
"La La!" panggil Bina sambil menepuk-nepuk punggung Pelangi.
"Ada apa sih? Bentar-bentar gue ngurusin ini Bin," kata Pelangi sambil mengarah ke administrasi.
"Heh liat dulu bentar!" kata Bina.
Pelangi tak mengubris Bina yang sedang heboh sendiri, entah Pelangi tidak tau apa yang sedang gadis itu lihat.
"Apaan dah!" sentak Pelangi setelah mengurus check-innya.
"Noh liat," Pelangi mengikuti arah telunjuk yang mengarah ke tiga orang cowok yang sangat ia kenal.
"Gifta?" kagetnya.
"Nah kaget kan lo sekarang?" desis Pelangi.
Mata Pelangi berbinar, keberuntungan macam apa yang mengarah padanya. Ia masih menelisik apakah yang ia lihat disana benar-benar Gifta.
Berulang kali Pelangi mengedip-ngedipkan matanya, memang benar itu nyata Gifta.
"Bin cubit gue Bin, cubit gue cepet!" perintahnya. Sontak saja Bina mencubit lengannya.
"Awwww!" jeritnya.
"Sakit Bin!" ujar Pelangi sambil mengelus lengannya yang terasa sakit akibat cubitan Bina.
"Kan lo yang nyuruh gue nyubit, gimana sih!"
"Oh iya ya," cengir Pelangi.
"Buruan ke kamar! Capek gue!"
"Eh bentar, berarti gue nggak mimpi kan Bin. Tadi beneran Gifta kan ya? Iyakan Bin?" tanya Pelangi yang masih tidak percaya.
"Bukan! Setan!" geram Bina seraya pergi menuju kamar yang sudah ia pesan meninggalkan Pelangi yang masih cengo akibat Gifta.
"Bodo amat gue tinggal!" celetuk Bina.
***
Pelangi tampak sibuk mencari jurnalnya. Ia mengeluarkan semua barang dari dalam koper yang ia bawa, "Serius lo Bin gak tau?" tanya Pelangi yang sudah mulai lelah mencari dimana keberadaan jurnalnya.
"Enggak! Gak percayaan amat sama gue," sentak Bina.
"Ya biasa aja dong kok ngegas? Gak lo sembuyiin tapi kan?" selidik Pelangi, gadis itu masih mengira bahwa Bina yang menyembunyikan jurnalnya.
"Apa pentingnya ngumpetin jurnal lo yang isinya Gifta. Gak guna buat gue!"
Pelangi malas mendengar ocehan Bina, ia tetap semangat mencari keberadaan jurnalnya. Sebab kalau hilang, mampus lah dia. Sia-sia selama ini Pelangi datang ke percetakan Bang Rahmad.
"Aaaaa syukurlah!" jerit Pelangi histeris. Jurnalnya ternyata berada di tas punggung yang ia bawa. Pelangi lega jurnalnya tidak hilang.
"Makanya kalau nyari itu pakai mata, jangan ngomel mulu tuh mulut!" geram Bina.
Pelangi tak mengidahkan omelan Bina. Ia merasa puas karena jurnalnya sudah ia temukan. Pelangi menyimpannya lagi ke nakas yang berada di dekatnya.
"Bin," panggil Pelangi.
"Haa apaan lagi?"
"Kira-kira ngapain ya Gifta sama gengnya kesini?" ujar Pelangi sambil menangkup dagunya dengan satu tangan.
"Mana gue tau, lo kira gue emaknya Gifta apa!" sewot Bina.
Pelangi menyungingkan senyum kala mengingat Gifta tadi. Pelangi akan menikmati dua hari disini, ia takkan melewatkan satu moment pun nantinya.
Di karenakan Gifta juga berada disini maka Pelangi tidak akan lupa memotretnya secara diam-diam lagi, lumayan akan ia jadikan stok untuk Pelangi cetak di Bang Rahmad.
"Kayaknya Gue emang di takdirin berjodoh sama Gifta deh Bin," ujarnya percaya diri.
Bina yang mendengar tertawa keras, "Halu lo! Bangun bangun mimpi lo ketinggian La!" ejek Bina sambil menoyor kepala Pelangi.
"Liat aja nanti," sahut Pelangi.
"Terserah! Gue mau tidur ngantuk!" kata Bina.
"Eh Bin jangan tidur dong! Kita jalan-jalan keliling villa yuk!" ajak Pelangi.
"Ogah males gue!" tolak Bina seraya memeluk guling di sebelahnya.
"Ya udah Gue keliling sendiri aja," putus Pelangi.
Pelangi membawa kakinya keliling villa, ia juga berharap dapat bertemu Gifta disana.
Setelah mengelilingi villa dan ia tak menemukan Gifta ia memutuskan untuk pergi ke taman. Pelangi duduk di taman tepi kolam. Villa yang ia pilih ini tak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Semua fasilitas juga sangat memadai dan juga cukup bersih. Pelangi menatap lurus ke arah kolam.
Sebenarnya ada yang sedang Pelangi pikirkan. Bukan! Bukan Gifta. Ada hal lain yang kini memenuhi pikirannya, yaitu soal bundanya yang memintanya untuk menemui sang ayah. Pelangi masih memikirkan itu. Meskipun ayahnya telah tega mengkhianati bunda dan dirinya, gadis itu masih menyayangi ayahnya.
Pelangi mengakui itu, ia tak pernah membenci sepenuhnya, kadang kala kerinduan sosok sang ayah masih sering ia rasakan. Tapi gadis itu hanya bisa diam, lalu mengalihkan fikiran nya ke Gifta.
Pelangi kembali mengingat hal-hal indah yang dulu ia alami saat kecil sebelum kejadian itu menimpa keluarganya. Dulu Pelangi sangat manja kepada sang ayah, ia tidak akan bisa tidur bila sang ayah tidak ada di sampingnya. Gadis kecil itu akan terus menangis sepanjang malam kalau ayahnya lembur di kantor.
Sang bunda bahkan sampai kuwalahan menenangkan putri kecilnya itu. Ia akan berhenti menangis jika sang ayah menelfon dan mengabari bahwa ayah Pelangi sudah berada di jalan. Senyum Pelangi kembali terbit dan ia bergegas menunggu sang ayah pulang. Pelangi kecil berlari menuju ruang tamu sambil memasang senyum lebar menyambut ayahnya datang. Pelangi kembali mengingat masa lalunya sambil menyeka air mata yang tumpah.
Ia kira keluarganya baik-baik saja selamanya. Karena yang ia lihat dulu adalah kebahagiaan dan kebersamaan yang di tunjukkan oleh sang ayah dan sang bunda.
Kala weekend tiba, ayahnya selalu mengajak bunda dan dirinya pergi berlibur. Kadang kala ke puncak, dufan, taman atau tempat hiburan lainnya. Ia merasa senang dan merasa beruntung lahir di keluarganya tersebut kala itu. Sang ayah yang selalu ada untuknya, dan bunda yang selalu menyayanginya. Pelangi begitu di cintai oleh kedua orang tersebut.
Sampai kejadian yang tak ingin ia ingat menghantam keluarganya. Pelangi ingat saat itu ia duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu Pelangi masih kelas 4 sd kalau tidak salah. Dimana anak seumurannya seharusnya belum mengerti apa itu perpisahan. Yang ada di fikirannya hanya bermain dengan teman sebayanya atau merengek meminta mainan kepada orang tuanya, tapi Pelangi berbeda. Saat-saat itu Pelangi harus berjuang untuk bangkit dari keterpurukannya, pil pahit sudah harus ia telan.
Awalnya ia tak mengerti kenapa sang ayah tak lagi pulang kerumah, tak ada hari weekend yang biasa keluarganya gunakan untuk berlibur. Pelangi kecil selalu bertanya kemana ayahnya pergi. Berminggu-minggu gadis itu tak pernah tidur, ia sering menangis, merengek meminta sang ayah pulang. Tapi nihil ayahnya tak pernah datang menemuinya.
Sampai Pelangi mengerti ayah dan bundanya ternyata berpisah. Hari itu dimana ia mengetahui semua kala ayahnya menikah dengan ibu Siska yang notabennya teman satu kelasnya di sekolah dasar, yang sialnya selalu satu sekolah dengannya sampai sekarang, bukan hanya satu sekolah tapi juga satu kelas.
Ia mengingat jelas kala itu ia memarahi Siska karena merebut ayahnya, ia menangis menjambak Siska di depan sekolah. Siska menangis kencang lalu ayahnya datang dan memarahi Pelangi dan membawa Siska pergi. Pelangi kecil menangis meneriaki sang ayah yang pergi mengendong Siska tapi ayahnya tiak lagi menoleh kearahnya. Tangisan Pelangi begitu menyayat hati. Gadis kecil itu sudah mengalami luka batin yang membekas sampai kini ia dewasa.
Pelangi menghapus air matanya yang kini merembes melewati pipinya, nyatanya ia masih belum bisa melupakan kejadian tersebut padahal kejadian itu terjadi belasan tahun yang lalu. Tak bisa Pelangi pungkiri memang sakitnya kadang masih ia rasa hingga hari ini, apalagi jika ia sedang berjalan-jalan di taman komplek rumahnya dan melihat gadis perempuan sedang menikmati ice cream coklat bersama ayahnya ia selalu teringat akan masa kecilnya bersama sang ayah.