"Apa? Mau nikah?" teriakku kaget. Aku menatap mata Cinta, dan sang empunya mata malah memandang ke arah lain, ke sebuah arah yang langsung membuatku terdiam sejenak, aku melihat mereka bergantian, mereka saling menatap, selama sepersekian detik tatapan mereka terkunci satu sama lain, lalu akhirnya terputus. Tatapan mereka seperti seolah menyiratkan sesuatu, sesuatu yang mungkin belum mereka sadari, tapi aku bisa mengetahuinya, kenapa? Karna aku sangat mengenal dua sosok itu, dua orang yang sangat berarti dalam hidupku. Cinta Permatasari, gadis itu adalah saudara sepupu yang paling dekat denganku, bahkan bisa kuanggap sebagai saudara kandungku sendiri, aku sudah mengenalnya seumur hidupku. Dan aku menyanyanginya, sangat menyanyanginya. Sedangkan yang lain adalah Biru, Banyu Biru. Lelaki

