"b******k!!" Daren mengumpat sejadinya seraya melajukan motor sportnya dengan kecepatan tinggi. Kedua rahang kokoh itu semakin terlihat mengetat menahan emosi di dalam hatinya saat ini. Dengan kedua netra menatap tajam lurus ke depan-ke arah jalan raya, Daren masih bisa mengingat dengan jelas kejadian beberapa menit yang lalu, saat dimana ia yang lagi-lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri, orang yang sangat berarti di hidupnya itu berciuman dengan lelaki lain. Bagaimana bisa Daren tidak terluka untuk kedua kalinya, di saat ia benar-benar tulus mencintai seorang gadis, tapi gadis itu justru melakukan hal yang amat sangat tidak bisa di maafkan. Apalagi mengingat kesalahan yang dilakukan Dara itu sama persis dengan kesalahan yang di lakukan oleh Nina di masa lalu. Tentu saja Daren

