2. Miss Broken

1838 Kata
Satu minggu ini pekerjaan baruku cuma diisi perkenalan gitu lah, belajar struktur organisasi yang ada di lingkungan Direktorat Migas, yang masih masuk dalam satu lingkungan Kementerian Sumber Daya Mineral, perkenalan dengan para pejabat tinggi dan pejabat tingkat eselon, juga penempatan ruangan untuk masing-masing pegawai sipil yang baru. Agak membosankan, tapi mau bagaimana lagi? Ini kesempatan emas, jangan sampai dilewatkan, begitu kata Ayah. Aku sebenarnya nggak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pegawai sipil. Aku itu suka meneliti, meneliti apa aja, termasuk meneliti isi hati seorang Alvino. Namun riset yang aku jalani selama bertahun-tahun ternyata gagal total. Entah salah formula atau salah rumus ya? Kenapa kok rasanya bisa jadi kacau balau begini hasil risetnya. Keterimanya aku di Direktorat Migas semua murni kerjaan sahabat aku dari orok, namanya Gisela, gadis pandalungan Manado-Medan, cantik, meski nggak terlalu tinggi, calon pramugari yang selau gagal saat tes kesehatan untuk masuk maskapai penerbangan terbesar Indonesia, karena tingginya kurang dua sentimeter saja. Gisel yang dengan isengnya mengirimkan lamaran pekerjaan via website resmi Direktorat Migas. Nggak ada alasan kenapa dia melakukan itu. Murni karena iseng saat melihat tumpukan legalisir ijazah dan transkrip nilai milikku yang aku biarkan geletakan di atas meja belajarnya, saat aku memutuskan untuk melanjutkan S2 di Jerman waktu itu--tapi kuliah cuma satu musim. Dia itu bisa yakin banget kalau aku tuh nggak bakal keterima, karena tampangku nggak ada tampang-tampang pegawai sipil, kata Gisel. Makanya dia niat banget buka website Kementrian yang lagi ramai dibuka lowongan calon pegawai sipil waktu itu, mau menghabiskan kuota internet juga. Kata Gisel lagi, aku tuh cocoknya jadi frontliner di bank-bank, apalagi tampang jutekku cocok melayani nasabah-nasabah yang suka ngeyel, cem Gisel itu. Ternyata Tuhan baik padaku, berkat Gisel aku lolos tes tahun lalu, dan Gisel malah manyun 5cm. Ha ha ha, rasain. Seminggu ini aku juga selalu berhasil menghindari Bunda, masih malas untuk menghadapi interogasinya yang bakal mengalahkan menginterogasi tersangka kopi beracun. Aku berpura-pura pasang tampang lelah setiap kali pulang dari kantor, cara itu selalu bisa membuat Bunda iba dan tidak tega padaku untuk membicarakan suatu hal yang berat. Gisel Karauan: gue di Violet club. Ngga pengin gabung beib? Chat dari Gisel. Mumpung traffic light di posisi warna merah, aku langsung membuka melalui notifikasi yang tampil di layar ponsel dan mengiriminya balasan. Me: princesnya masih on my way ini sayong. Kuli negara mau dandan syantik dulu, biar ngga kayak kuli bangunan. Aww Seneng-seneng dulu lah, mumpung Ayah lagi ada urusan keluar kota. Gisel Karauan: iuuwww... Godaan terberatku ketika malam Sabtu melanda adalah clubbing. But no, aku nggak minum alkohol. Sekadar suka dengar musik dj yang mendentum dan memekakkan telinga. Aku memang suka keramaian, lampu berwarna-warni dan kerlap kerlip. Nggak pernah suka keheningan, karena keheningan membuatku merasakan yang namanya kesepian, sedangkan gelap bikin aku cepat mengantuk. Salahkan Alvin juga yang sudah mengajariku masuk ke dunia gemerlap. Memang ya, orang dewasa itu selalu punya caranya sendiri untuk bersenang-senang. Hal seperti itu jugalah yang dikatakan Kakak saat aku menemukan sekotak k****m di bawah tempat tidurnya. Meski Alvin juga mempunyai reputasi buruk soal dunia gemerlap--i know that--tapi Alvin dan juga kak Dastan punya hati malaikat, mereka selalu bisa membuatku merasa aman dan nggak akan pernah membiarkanku menyentuh minuman beralkohol barang setetespun. Dan di sinilah aku sekarang, menghabiskan malam Sabtuku. Dj yang tampil di Violet club malam ini katanya pendatang baru. Perempuan seksi dengan rambut berwarna warni. Cantik sih, wajahnya belesteran, tapi sayang dia punya penyimpangan orientasi seksual. Club ini milik Kakak kandung Gisel, namanya kak Anya, teman dekat kakakku juga--dulu. Entahlah mereka menyebut apa bentuk pertemanan mereka itu, aku sih nggak peduli, bukan urusan aku juga. Cuma ya, aku pernah mergokin mereka ciuman panas di dalam mobil saat mengantar kak Anya pulang--aku main di rumah Gisel waktu itu. And then, aku dapat ponsel keluaran terbaru tahun itu sebagai biaya tutup mulut, agar tidak menceritakan kedekatan Kakak dengan kak Anya pada Bunda, yang pasti akan berada di garis terdepan menentang hubungan mereka. Perbedaan mereka terlalu jauh, Tempat ibadah kak Dastan tidak sama dengan tempat ibadah kak Anya. Ach, masa lalu, terlalu indah tuk dilupakan, tapi terlalu sakit juga buat dikenang. Lupakan soal Kakak. Dan, club ini satu-satunya elite club yang nggak akan pernah didatangi oleh kakakku, jadi aku aman dari teror calon bapak super lebay itu. Gisel menyodorkan sekaleng minuman bersoda di depan wajahku. "Wanna dance miss broken heart?" Aku menerima kaleng minuman bersoda free sugar warna hitam dari tangan Gisel, tapi pandanganku terpaku menatap dance floor yang mulai padat. Lagu dari musik dj terus mengalunkan lagu-lagu remake dan rancak milik dj-dj papan atas. Sayangnya, aku sedang malas menari dengan gaya bebas, sudah sangat nyaman di posisi dudukku saat ini. Dj memutar lagu milik PitBull ft Christina Aguilera yang judulnya 'Feel This Moment'. Alunan menghentak itu seolah menghipnotis dan membawaku menelusuri lorong waktu kenanganku bersama Alvin. "Wanna dance?" Aku menggeleng ragu dan takut. Alvin menarik ujung bibirnya ke atas, membentuk senyuman tipis khasnya. "Jangan takut ada yang ganggu, kak Al berdiri dibelakang kamu, c'mon!" Aku pun menerima uluran tangannya dan turun ke lantai dansa di salah satu kelab malam besar di Bandung. Seorang dj laki-laki menggerakkan tangannya ke alat musik di hadapannya, tangan dj itu bergerak kesana kemari hingga menghasilkan musik yang bisa memanaskan suasana. "Kak Al itung sampai tiga ya, di hitungan ketiga kita lompat sekuatnya, key!" Aku antusias sekali menggerakkan tubuhku, tak memedulikan bajuku sudah basah oleh keringat. Alvin masih berdiri di belakangku sesuai janjinya, satu tangannya tetap setia di atas pundakku, satu tangannya lagi bergerak ke udara seolah menggapai sesuatu, seiring irama musik yang menggema di ruangan ini. "Tiga, dua, satu, jump, jump!" Aku pun melompat setinggi-tingginya, dengan tawa lepas, begitu juga laki-laki dibelakangku yang semakin terlihat menawan ketika tertawa lepas seperti ini. Wajah yang biasanya datar dan dingin itu seolah lenyap dibawah lampu dance floor malam ini. Andai saja aku memiliki kuasa untuk memutar waktu, maka kan aku hapus rasa yang terlalu cinta yang kini membuatku binasa. "Hey, lo nangis?" tegus Gisel seraya mengusap pipiku yang telah basah oleh aliran air mataku. "Gue nggak bisa, nggak akan pernah bisa." "Lo inget Alvin lagi?" Aku mengangguk dengan kedua bahu terguncang. Gisel memeluk tubuh ringkihku ini. "Lo harus bisa, lo nggak berniat jadi pelakor apalagi perusak rumah tangga orang kan?" Aku menggeleng lemah dalam pelukan Gisel. "Kenapa lo jadi rapuh gini sih?" "Alvin itu first love gue. Cuma dia yang bisa bikin gue aman dan nyaman. Dia yang selalu motivasi gue waktu down paska insiden mengerikan tiga tahun yang lalu. Alvin itu segalanya buat gue, dan sekarang gue harus kehilangan dia untuk selamanya, tanpa sempat memilikinya." Gisel membelai rambutku yang terikat rapih membentuk kucir kuda. "Tapi Alvin nggak ngambil apa yang bukan jadi haknya kan?" "Maksud lo?" "Hm ..., Alvin nggak merawanin elo kan?" "Ha ha ha..., gue kira apaan? Kalaupun udah, gue ngga nyesel kok." "s***p emang nih bocah!" Gisel menoyor kepalaku beberapa kali tanpa ampun. "Today go ahead and treat better your self! Oke!" ucapnya dengan tegas untuk memberiku semangat. Nggak selang beberapa lama, datang perempuan yang cantiknya bak Ratu Cleopatra, selalu bikin setiap perempuan iri, tapi nggak termasuk aku. Pemilik Violet club. "What are you doing here?" Anya bertanya sambil tatapannya siap mencincang dan menjadikanku daging asap--mengerikan. "Ya, nongkrong lah, yakali gue di kelab belanja pembalut," jawabku dengan acuh. "Lo mending pergi dari club ini, cari club lain aja. Gue males berurusan sama Kakak lo yang setengah Hulk itu," tukas Anya dengan nada sarkas, sambil jemari lentik dengan kuteks merah itu mengibaskan rambut badhai-nya. "Salah gue gitu? Lagian gue bayar ini, apa masalah lo sih?" "Gue nggak butuh duit lo! Atau lo mau jamin, bakal ganti kerugian kalau seandainya kakak lo ngacak-ngacak club gue, kalau dia tahu lo clubbing di sini?" Akhirnya aku beranjak dari tempat duduk nyamanku, dan pergi dari hadapan kak Anya setelah mengacungkan jari tengah di depan wajah putih porselinnya. "Maafin Kakak gue ya. Dia trauma banget sama kelakuan kak Dastan waktu itu, kerugiannya ratusan juta." Kakak pernah mengacak-ngacak club Anya waktu itu, setelah tahu Anya selingkuh. Intinya seperti itu. "Forget it. Gue juga udah capek, mau pulang dulu. Bye Gisel." "Bye, take care ya." Kami berpisah setelah bercipika cipiki. Aku melajukan estillo pink membelah jalanan ibukota malam ini, sendiri. Alvin sedang apa ya? Ah, dia pasti sedang tidur di ranjang hangat ditemani oleh perempuan yang mampu membuat seorang Alvino mempunyai keberanian untuk mengucapkan kata cinta--sebuah kata sakti yang paling tidak pernah sama sekali aku dengar diucapkan oleh Alvin. Aku masuk rumah, kondisinya sudah gelap gulita. Pasti semua sudah pada tidur. Iyalah sekarang sudah jam dua dini hari. "Dari mana kamu?" Bunda menegur saat aku hendak memutar handle pintu kamar. "Dari tempat Gisel. Bunda kok belum tidur?" "Denger suara mobil, Bunda kira Ayah yang datang. Kamu kok nggak nginep di rumah Gisel aja?" "Pengin bangun siang besok. Kalau di rumah Gisel nggak bisa bangun siang. " "Besok temani bunda ke butik Az Zahra. Kamu harus minta maaf sama Meidina atas ulah kamu tempo hari di acara pernikahannya." "What? Minta maaf buat apa Bun?" "Kamu sudah merusak acara pesta pernikahan Alvin dan Meidina. Kamu lupa?" "Aku nggak ngapa-ngapain Bun, aku datang cuma untuk ..., hm ..., ya mengucapkan selamat menempuh hidup baru," kilahku dan Bunda nggak percaya begitu saja. "Apa nggak bisa, ngasih selamat cukup dengan datang, nyalamin trus duduk manis layaknya tamu lainnya? Ngga pakek acara peluk-peluk sambil nangis-nangis bombay kayak kemarin itu." Bunda mulai geram menghadapiku. "Aku capek. Mau tidur dulu." Aku mendorong pintu kamar ke arah dalam, Bunda mencekal lenganku. "Jangan harap kamu bisa tidur nyenyak sebelum bersedia meminta maaf pada Meidina." "Okey, fine," jawabku setengah kesal. Baru akhirnya Bunda melepas cekalannya di tanganku. Setelah mengganti pakaian yang tadi aku kenakan ke kelab dengan kaus gombrong dan hotpants, aku langsung meringkuk di atas tempat tidur. Memainkan ponsel sebentar, stalking IG milik Alvin. Membuka sebuah foto yang terakhir dia upload beberapa minggu yang lalu. AlChak @Puncak Gagoan w/someone special. #pesonasumbar #Padang #Solok #PuncakGagoan #adventure View 45 all coments: Cindy_Aretania nikah sama anak adventure Bulan madunya diatas Batu cadas ya. FandiAlam Al kalo nakal, nanti tinggal dikutuk jadi Batu cadas aja. Cindy_Aretania yang punya rumah lagi nananina, ngerusuh rumah lain aja sono lo @FandiAlam Martin_Nus Iya nih, masa dong ngga satupun komen dibalas. Kuota lo habis ya Al? DanuMardika ha ha ha nananina? Istilah lo Ce. @Cindy_Aretania AlChak sorryyy....baru sempat balesin. Terimakasih banyak ucapannya manteman. Nggak bisa bales satu2. Nananina itu enak kan Ce? @DanuMardika coba tanya pada suhunya @FandiAlam Aku menutup aplikasi IG, dan masuk ke galeri ponsel. Bagaimana aku bisa move on, kalau ada lebih dari 1000 foto tersimpan di galeri foto ponselku, di mana yang tiga perempatnya terisi oleh foto-foto Alvin. Foto Alvin sedang tertidur sampai baru bangun pun ada, dari mulai penampilan terburuknya hingga penampilannya yang paling mempesona masih aku simpan rapih di ponsel, belum lagi di laptop. Ya Tuhan...di sini kadang aku bertanya pada malam, Alvin yang terlalu memberi banyak kenangan atau aku yang susah melupakan? Kuputuskan untuk berangkat tidur dan mematikan lampu kamar sebelum aku menjadi salah satu pasien dokter ahli jiwa setelah ini. Namun bagaimana bisa aku terlelap? Ketika malam mulai terasa sunyi, terdengar jelas hatiku memanggil namamu. --- ^vee^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN