1. Malam Fatal

1086 Kata
Wanita itu mengerang karena sakit kepala yang tak tertahankan. Sangat nyeri ia rasakan. Berusaha membuka mata yang masih saja terasa berat. Segera beranjak bangun dari tidurnya, dengan satu tangan memijit pelipisnya. Akan tetapi, hawa dingin dari terpaan Air Conditioner yang langsung mengenai kulitnya, membuat Marsha menunduk dan betapa terkejutnya dia. Tubuhnya yang polos tampak oleh kedua matanya. Bagaimana bisa? Menoleh ke samping mendapati seorang lelaki yang sedang tertidur tengkurap menampakkan otot punggungnya yang begitu kokoh. Marsha menelan ludahnya, sakit kepalanya tiba-tiba hilang begitu saja. Ia tidak tahu apa yang telah dia lakukan bersama pria itu. Tapi yang jelas, sesuatu yang sangat buruk telah terjadi padanya. Dengan menggelengkan kepala seolah tak percaya dengan pemikirannya sendiri, Marsha segera turun dari atas ranjang. Memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Memakainya cepat dan bergegas ke luar dari dalam kamar. Marsha Atmaja, wanita berusia dua puluh lima tahun itu terlihat sangat kacau. Ia tak menyesali dengan apa yang telah terjadi. Bahkan tak ada air mata atau kesedihan yang tampak olehnya. Sudah terbiasa berteman dengan kesedihan membuat Marsha terlalu kuat untuk menjadi seorang wanita.  Di luar kamar hotel yang menjadi saksi bisu petualangan seorang Marsha, wanita itu menahan nyeri di area kewanitaannya, dan tetap berjalan menuju di mana lift berada. Ia harus segera meninggalkan tempat menyeramkan ini. Ya, jika bagi orang lain hotel adalah tempat yang paling nyaman untuk beristirahat, nyatanya tidak bagi Marsha.Seolah menjadi momok dan tempat yang begitu horor, Marsha dengan tergesa memasuki lift. Menekan tombol lantai terbawah hotel ini. Beruntung ia hanya seorang diri berada di dalam lift ini. Jika tidak, entahlah apa yang akan orang lain katakan mengenai dirinya. Dengan penampilan acak-acakan dan baju yang  tampak lusuh dan kusut. Apakah ia terlihat sekali seperti perempuan yang baru saja dinodai. Entahlah, Marsha sendiri tak mau memusingkan kembali akan hal itu. Saat ini yang Marsha inginkan hanyalah segera pulang ke rumah, dan mengurung dirinya di sana. *** Mata itu mengerjab lalu terbuka meski belum sepenuhnya. Membalikkan badannya hingga yang tadinya tertidur dengan posisi telungkup, kini menjadi telentang. Dengan telapak tangan ia mulai mengucek matanya. Menolehkan kepala ke samping, kosong. Tak mendapati siapapun berada di sebelahnya. “Ke mana dia?” tanyanya menyerupai sebuah gumaman yang hanya ia tujukan pada dirinya sendiri. Memilih bangkit dari berbaringnya, tak mempedulikan keadaan tubuhnya yang polos tanpa sehelai benangpun, Mark beringsut turun dari atas ranjang setelah menyingkap selimut yang tadi membungkus tubuhnya. Berjalan gontai menuju kamar mandi. Ia pikir wanita itu sedang berendam di dalam bathup yang ada di dalam kamar hotel miliknya. Tapi rupanya dugaan Mark salah besar, karena wanita itu tidak ada di sana. Lalu, ke mana perginya wanita yang semalam telah membuatnya menggeram kenikmatan. Mark kembali  ke luar dari dalam kamar mandi. Mencomot asal boxer yang teronggok di atas karpet bawah tempat tidur. Memakaianya cepat lalu meraih gagang telepon yang berada di atas nakas samping ranjang. “Kau melihat seorang wanita ke luar dari hotel ini?” tanyanya pada seseorang, lebih tepatnya adalah petugas receptionis hotel. “Sial!” umpat Mark membanting keras gagang telepon dan meletakkan kembali pada tempatnya. Orang yang ia tanya tidak mengetahui siapa wanita yang Mark maksudkan. Ia pikir pagi ini saat membuka mata, maka gadis cantik yang semalam bersamanya akan menyambut dengan senyuman dan mereka bisa mengulang sekali lagi aktiftas panas mereka seperti semalam. Tapi nyatanya, kekecewaan yang Mark dapatkan. “Berani-beraninya kau meninggalkanku,” ucap Mark sambil berjalan ke arah pantry. Menyeduh kopi hitam kesukaannya dan membawanya ke balkon kamar hotel. Ya, ini adalah salah satu hotel miliknya. Jadi dia bebas mau melakukan apapun juga. Termasuk membawa ke luar masuk wanita ke dalam kamar pribadinya. Selama ini banyak wanita yang mau menghangatkan ranjangnya dengan sukarela. Memuaskannya dengan cara apapun juga. Tapi tidak dengan wanita yang semalam ia bawa dalam keadaan tak sadarkan diri karena pengaruh obat tidur. Ya, Mark terpaksa melakukan itu semua karena seorang lelaki yang tega menjual wanita itu untuknya. Tapi Mark tak pernah menyangka jika wanita itu adalah satu-satunya wanita suci yang pernah ia tiduri. Lagi-lagi kata u*****n meluncur begitu saja dari bibirnya. Menyesap kopi hitamnya sampai habis dan bergegas masuk kembali ke dalam kamar. *** Dua hari setelah kejadian itu, Marsha kembali menjadi seorang wanita tegar seolah tak pernah terjadi sesuatu apapun pada dirinya. Membuka pintu rumah peninggalan kedua orang tuanya yang kini ia tinggali seorang diri. Pagi ini Marsha akan mengunjungi resto di mana selama ini ia menggantungkan hidupnya di sana. Sebuah resto peninggalan keluarga, sama seperti halnya rumah ini. Menghela napas berkali-kali sebelum ia menaiki ojek online yang tadi sudah ia pesan dan menunggu di depan pagar. Pikiran Marsha semrawut tak karuan. Bahkan ketika ojek tersebut sudah berhenti di depan resto sesuai alamat yang tertera di aplikasi. Marsha masih tak bergeming di tempatnya. “Mbak, kita sudah sampai,” ucap driver ojek online yang tak di tanggapi oleh Marsha. Dengan tepaksa dan keberanian abang ojek menoel lutut Marsha membuat wanita iu terkesiap dan tersadar akan lamunannya. “Eh, sudah sampai, ya, Bang.” “Sudah, Mbak.” “Maaf,” ucap Marsha merasa bersalah. Melepas helm yang membungkus kepalanya lalu menyerahkan kepada abang ojek. Setelahnya, ia turun dari atas boncengan motor tersebut. Memasuki resto yang langsung disambut oleh seorang wanita berambut coklat dengan panjang sebahu. “Mbak Marsha ke mana saja? Kenapa dua hari tidak datang?” tanya Mirna dengan raut kecemasan yang ditujukan kepada atasannya. Mirna dan Marsha sebenarnya tak terpaut jauh selisih usianya. Hanya beberapa tahun saja. Mirna adalah salah satu orang kepercayaan Marsha yang membantu mengurus resto peninggalan keluarganya. “Maaf, Mir. Dua hari kemarin aku sedang tidak enak badan. Jadi aku tidak bisa datang,” jawab Marsha yang justru membuat Mirna semakin khawatir saja. “Mbak Marsha sakit? Kenapa tidak bilang atau setidaknya bisa menelponku.” Kecemasan Mirna membuat Marhsa terharu, “Aku sudah baik-baik saja, Mir. Jangan khawatir begitu.” “Yakin Mbak Marsha sudah lebih baik? Tapi, wajahnya masih pucat begitu,” “Jangan cemas, aku baik-baik saja.“ Setelah mengatakan itu, Marsha mengusap lembut pundak Mirna lalu meninggalkan wanita itu untuk masuk ke dalam ruangannya. Dijatuhkan tubuhnya di atas kursi, dan mengeluarkan cermin yang berada di dalam tas miliknya. Memperhatikan wajah yang memang tampak pucat seperti kekurangan tenaga. Dua hari ini Marsha menghabiskan harinya untuk bergelung di bawah selimut. Meratapi nasib yang tengah menimpanya. Ya, semua karena kelalaiannya sendiri. Ah, bukan. Tapi lebih tepatnya karena ia terlalu baik pada seseorang. Orang yang telah ia anggap sebagai sabahat akan tetapi tega menikamnya dari belakang. Hanya menyesali betapa kejam dunia ini kepadanya kembali membuat Marsha mengerang frustasi. Ia tak tahu lagi harus bagaimana sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN