Chapter 4

842 Kata
Reina menarik nafas panjang mencoba menenangkan dirinya. Ditatapnya sebuah pintu besar di hadapannya kini. Reina memejamkan matanya mencoba meyakinkan dirinya. Setelah merasa dirinya sudah mulai tenang, akhirnya Reina membuka knop pintu itu. Reina memasuki ruangan yang terbilang luas itu. Nuansa hitam dan putih langsung menyeruak indra penglihatannya. Matanya langsung tertuju pada pria paruh baya yang duduk di kursi kejayaannya dan berkutat dengan laptopnya. “Pa,” panggil Reina membuat pria paruh baya itu tersadar. Sepertinya ia tak menyadari kehadiran Reina. “Akhirnya kamu datang juga, duduk dulu,” balasnya. Reina mengangguk kemudian duduk di kursi di hadapan papanya. “Ke mana aja kamu selama ini Reina?” “Aku ke Amsterdam Pa, lihat pameran lukisan,” balas Reina datar. Bram, Ayah Reina menggelengkan kepalanya pelan mendengar jawaban putrinya itu. “Mau sampai kapan kamu bertahan dengan pekerjaan kamu yang gak menjanjikan itu Reina? Kamu udah harus memikirkan masa depan kamu.” “Melukis itu udah pilihan buat masa depan aku Pa,” balas Reina. Bram kembali menggelengkan kepalanya. Jawaban putrinya itu selalu saja sama. Keras kepala! “Bagaimana dengan pilihan yang papa kasih saat itu?” Tanya Bram mengingatkan Reina pada pertemuannya dengan ayahnya sebelum ia berangkat ke Amsterdam. “Aku akan tetap melukis Pa, aku gak bisa pegang perusahaan papa di Jerman dan aku juga gak bisa nikah sama anak rekan bisnis papa itu. Jadi intinya, aku gak minat sama dua tawaran papa itu,” balas Reina mantap. Jawaban Reina itu membuat Bram geram. Ia pikir putrinya akan memilih antara dua pilihan yang sudah ia berikan. Memegang perusahaan cabangnya di Jerman, atau menikah dengan anak rekan kerjanya. “Kenapa kamu gak bisa nurut sih Rein sama papa? Kalau kamu emang gak bisa pegang perusahaan, setidaknya kamu mau menikah dengan Alex, anak rekan kerja papa. Papa udah pilihin pria yang terbaik buat kamu.” “Terbaik buat aku?” Reina tertawa kecil mendengar penuturan ayahnya lebih tepatnya tertawa meremehkan. “Bukan buat aku Pa, tapi buat papa dan perusahaan papa,” balas Reina datar. Bram makin di buat geram dengan penolakan putrinya. “Kalau kamu tak mau menikah, pergilah ke Jerman. Urus perusahaan kita yang hampir bangkrut disana. Seharusnya kamu bersyukur Rein, Alex bersedia membantu kita untuk membangkitkan perusahaan kita di Jerman.” Reina menatap ayahnya kecewa, kenapa ayahnya begitu tega menjadikannya alat untuk membangkitkan kembali perusahaannya.  “Tapi aku gak bisa Pa, lagi pula gimana sama Zidan? Bukannya Papa larang aku buat bawa Zidan ke Jerman.” “Ngapain sih kamu mikirin dia, kamu bisa titipkan dia ke panti asuhan,” ucap Bram. Reina menatap tak percaya mendengar ucapan ayahnya itu. Menitipkan Zidan ke panti asuhan? Yang benar saja. Itu tidak akan mungkin. “Zidan cucu Papa, papa gak seharusnya ngomong kayak gitu.” “Dia bukan cucu Papa,” balas Bram dingin. Reina memejamkan matanya erat-erat menahan sesak di dadanya. Kenapa ayahnya begitu tak menerima kehadiran putranya itu? Ini bukan kesalahan Zidan. “Kenapa kamu harus peduli sih sama dia? Pria b******k itu aja sama sekali gak peduli sama anaknya.” “Cukup Pa!” Pekik Reina. Ayahnya sudah benar-benar keterlaluan. “Aku akan tetap jadi pelukis, aku gak mau nikah sama pilihan papa atau pun mengurus perusahaan papa, karna aku tau maksud papa sebenarnya cuma mau jauhi aku dari Zidan. Yang papa harus tau adalah, aku gak akan pernah biarin satu orang pun jauhi aku dari anak aku,” ucap Reina penuh penekanan. “Terserah kalau itu mau kamu, tapi papa gak akan pernah bantu kamu atau kasih kamu uang sepersen pun untuk besar in anak itu. Silakan kamu besar in dia dengan lukisan kamu itu,” balas Bram tak kalah penuh penekanan. Reina langsung bangkit dari duduknya sembari menatap ayahnya nanar. “Aku akan tetap besar in Zidan apa pun keadaannya. Walaupun nanti aku harus jadi pembantu sekalipun asal aku bisa tetap sama anak aku,” Reina menghapus air matanya kasar yang entah sejak kapan sudah mengalir di pipinya kemudian berlalu dari hadapan Bram. Namun baru akan membuka knop pintu langkah Rein terhenti mendengar ucapan Bram. “Mulai saat ini, kamu bukan anakku lagi, aku tak punya anak pembangkang yang lebih memilih bocah sialan itu dari pada mengikuti ucapanku.” Reina kembali harus memejamkan matanya sembari mengatur nafasnya. Sakit! Itulah yang ia rasakan saat ini. Ucapan ayahnya itu benar-benar membuat dadanya terasa sesak seperti tak ada udara yang bisa masuk ke dalam sistem pernapasannya. “Sampai kapan pun, papa tetap papa aku, aku cuma bisa berharap, suatu hari nanti papa bisa terima Zidan,” ucap Reina kemudian keluar dari ruangan itu. Reina berjalan memasuki lift sambil terus menghapus air matanya yang sepertinya sangat enggan untuk berhenti. Di dalam lift yang bisa ia lakukan hanya menangis. Untungnya ia hanya sendiri di dalam lift ini. Rein tak habis pikir mengapa ayahnya kini begitu berubah. Reina bahkan tak bisa merasakan kehangatan keluarga yang dulu pernah ia rasakan. Begitu banyak yang berubah dari keluarganya semenjak kejadian itu, bahkan hampir seluruhnya terasa begitu berubah. Apakah mendiang ibunya juga akan kecewa dengan keputusannya ini? Reina harap ibunya yang sudah berada di surga bisa mengerti.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN