Jam pelajaran berlangsung. Untuk pagi ini diisi oleh Ibu Maria, Guru Matematika yang super killer abis. Nggak ada yang berani mengobrol di mata pelajaran guru sadis satu ini. Mereka hanya mengikuti Pelajaran Matematika, walaupun dalam hati udah eneg banget sama rumus yang ngejelimet.
Tiga minggu berlalu setelah acara night party juga insiden nembak di tengah lapangan, April masih sering tersenyum jika memori otaknya berputar kembali ke masa itu.
Sweet.
Dan disinilah April sekarang, bertopang dagu dengan sebelah tangan, sedang tangan yang satunya memutar-mutar pulpen di atas meja. Wajahnya terus tersenyum seperti orang gila. Iya, Gila karena cinta.
Pacar Pertamanya.
Cinta Pertamanya.
Dan Ciuman pertamanya.
Semua berlalu bersama Arion. Yang jujur saja, memang sudah April harap-harapkan sejak kelas 10.
Pletak!
Sebuah penghapus papan tulis langsung mendarat di kening April. Sedikit membuat noda hitam terlihat disana. Gadis itu langsung duduk tegap, wajahnya berubah pias dan tenggorokannya tercekat ketika matanya bertemu langsung dengan mata wanita di depan papan tulis itu.
Ghita hanya meringis. Entah bermaksud menahan tawa, atau justru Prihatin. Karena sepertinya, April adalah korban selanjutnya.
"Sedang apa kamu?! Senyum-senyum tidak jelas seperti orang gila? Kamu pikir, di jam pelajaran saya ada yang lucu?"
Gelak tawa mengejek langsung terdengar. Nggak tau, deh. Ini antara mengejek April, atau justru mengejek wanita sadis di depan papan tulis kelas.
"Diam semua! Tidak ada yang lucu disini!" Seru Ibu Maria, tegas.
"Muka lo lucu!"
Yang terakhir itu, bukan keluar dari mulut April, melainkan dari anak lelaki di pojok kelas yang sekarang sedang memasang tampang watadosnya.
Si Adrian.
"Apa kamu bilang?!"
Kini, wajah Adrian juga mulai berubah pucat. "Saya ngeledekin April, Bu! Bukan Ibu.."
"Diam kalian semua!! Tidak ada yang main-main di sini!"
Ketegangan berlanjut. Akhir cerita, April di paksa untuk mengerjakan soal yang super t*i banget di papan tulis.
Tangannya bergetar, otaknya terus berputar mencari jawaban yang tepat.
Rasa mual langsung menjalar ketubuh. Badannya mendadak lunglai di tandai dengan spidol hitam yang jatuh dari tangannya. April mencengkram perutnya kuat-kuat.
"Saya izin ke Toilet Bu!" Katanya tanpa basa-basi.
April langsung berlari meninggalkan kelas. Karena sungguh! Ia ingin muntah sekarang. Mungkin, muntah karena soal di papan tulis tadi?
Ghita hanya bisa memandang bayangan April dari jendela kelas. Langkah yang begitu terburu-buru menuju toilet membuat gagasan aneh alias bingung itu muncul ke otaknya.
Dengan wajah bingung, Ghita memutar tubuhnya ke belakang. Ke arah bangkunya Mario.
"Dia, sakit?" Tanya Ghita dengan alis terangkat sebelah.
Yang di tanya justru mengangkat bahu. "Tauu!! Lo tanya dia, kek? Tinggal serumah juga masa nggak tau, sih?"
"Ihh! Lo mah ditanya mana pernah ngasih jawaban yang pasti, nyebelin, deh."
"Paling kebelet boker. Makanya buru-buru ke toilet, kali aja takut mbrojol di celana."
Geregetan, Ghita memukul kepala cowok itu dengan dua tumpuk buku paket tebal. "t*i, ya kamu!"
~
Di dalam toilet, April mengatur nafasnya. Rasa mual yang perlahan mereda sedikit membuatnya tenang. Entah mengapa, perutnya seakan di aduk-aduk, kepalanya pusing dan.. entahlah.. Nggak enak aja rasanya.
April menangkup air di telapak tangan kemudian membasuh wajahnya. Setelah mematikan keran air, April merapikan seragamnya, agar tidak terlalu kentara.
Dengan langkah pasti, April keluar dari toilet, menyusuri koridor kelas dengan wajah tertunduk.
"Heii.."
Suara berat dan lembut itu membuat April mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Arion. Di belakangnya sudah ada beberapa teman laki-laki, sekitar dua orang. Dan April cukup kenal dengan mereka. Gerald. Kevin.
Hanya senyum tipis yang April berikan pada dua teman Arion. Selanjutnya April menatap Arion, aneh.
"Kenapa? Kamu habis dari mana? Kamu sakit? Muka kamu pucet banget." Dua tangannya Arion tangkupkan pada Pipi April.
Risih, April melepaskan tangan kekarnya itu pelan-pelan. "Nggak papa. Kamu sendiri mau kemana? Kenapa nggak belajar?"
"Males. Lagi nggak ada guru."
"Ohh." Mata April tiba-tiba fokus pada saku seragamnya. Ada dua batang rokok tersampir disana. "Ini apa?!"
Sebelum Arion mengelak April sudah keburu mengambil dua batang rokok itu, menyembunyikannya di balik punggung. "Kamu mau bolos, ya?"
"Nggak, kok. Balikin, sini!"
"Nggak! Aku baru tau kamu ngerokok. Kamu itu Ketua OSIS disini, kamu jadi contoh buat temen-temen kamu. Tapi kamu ngelakuin hal-hal yang harusnya nggak kamu lakuin."
Dua teman di belakang Arion memutar bola matanya. "Cabut, yuk! Keburu ada Guru, nih!" Gerald langsung menggamit lengan Arion.
"Diem lo semua! Temen macam apa lo?!" Sungut April.
"Ehh! Ayo cabut! Ada Bu Maria!" Seru Kevin. Cowok itu langsung mendahului kedua temannya.
"Prill balikin!!" Arion merebut paksa dua rokok di genggaman April.
"Nggak!"
"Lo pada duluan, deh! Gua nyusul!" Arion mengomando kedua temannya. Sedangkan tangannya sibuk merebut rokok tadi. "Prill! Balikin, ngga?"
"Enggak kamu, tuh yaa---"
Ancang-ancang yang cukup bagus. Arion langsung mencium bibir April, mengalihkan perhatiannya, begitu rokok tadi sudah berpindah ke tangannya, Arion langsung meninggalkan April dengan senyum menyeringai.
"Kali ini aja. I love you!"
April yang masih mematung dengan jantung yang berpacu cepat. Bau tembakau masih bisa ia cium di telapak tangannya. Gadis itu hanya menggelengkan kepala miris.
Aku pegang janji kamu, kali ini aja.
"Kamu ngapain disini?" Kini suara seorang wanita yang mengalihkan perhatiannya.
"Oh? S-sayaa, habis dari toilet, Bu!"
Ibu Maria hanya mengangguk, "Ya sudah. Lagi pula, jam pelajaran saya sudah habis. Balik lagi ke kelas, sana!"
Meskipun keliatan lembut, nada bicaranya terdengar ketus. April hanya menundukkan kepalanya sopan, lalu melewati Ibu Maria.
~
"Prill.. tadi kenapa?" Ghita langsung menyemburnya, begitu memasuki jam istirahat pertama.
April hanya menggeleng. "Nggak papa, mual dikit. Kayanya masuk angin."
"Lo muntah?"
"Iya. Nggak papa kok, gue baik-baik aja. Lo kalau mau ke kantin duluan, deh. Gue nggak ikut."
Ghita mengangguk mengerti. Daripada sendiri, Gadis itu akhirnya menarik Mario. "Anterin, Yo!"
"Aelaah.. Cewek manja banget, sih! Timbang ke kantin aja kudu di anterin!"
"Udah jangan banyak bacot!"
Dari dalam kelas, April masih bisa mendengar suara pertengkaran ringan antara dua temannya itu. April memilih untuk menelungkupkan kepalanya diantara kedua lengan.
.
.
.
(TBC)