Setelah sarapan zahwa ijin masuk kedalam kamar, perutnya lagi kram karna tamu bulanannya. Zahwa ketiduran sampai jam 13.00, tapi perutnya masih saja kram. Zahwa ingin membeli obat pereda nyeri, setelah membuka pintu kamar ternyata izzat sedang duduk di sofa depan tv. Izzat menatap intens pada zahwa yg sudah siap ke mini market dengan dompet dalam genggamannya. “mau kemana?” izzat mengawali pembicaraan “mau ke mini market dibawah mas” zahwa sudah tidak sabaran, tapi apa boleh buat langkahnya harus terhenti dengan izzat yang mengajaknya bicara. “untuk apa? Wajahmu sangat pucat. Kemarilah zahwa” izzat menepuk pelan sofa di sebelahnya. Zahwa tidak membantah, lantas mengikuti intruksi suaminya. “perutnya masih kram?” kembali izzat mengeluarkan pertanyaannya, zahwa hanya mengangguk pela

