Terseliuh

578 Kata
"Sorry, obatnya emang perih dikit." kata Nando. Tangan kasar nando yang menyentuh kulit halus Ficqa membuat Ficqa merasakan sesuatu perasaan yang aneh. Tiba-Tiba Ficqa teringat akan sesuatu. "Koq lo bisa masuk ke rumah gue?" tanya Ficqa kasar. Ficqa sengaja meninggikan suaranya untuk mengawal rasa malu dan rasa sakitnya. Sakit pada lukanya dan juga sakit pada hatinya. Sebolehnya ia ngak mau melihat muka lelaki ini. "Tadi aku udah kasih salam. Tapi ngak ada sahutan. Karna pintunya juga ngak dikunci, ya udah aku masuk," Nando menjelaskan dengan tenang. Nando masih terus merawat luka di kaki Ficqa tanpa sedikitpun melihat ke wajah Ficqa. "Ririn!" Bibir Ficqa terus menyebut nama itu secara tiba-tiba. "Hah?" Nando sedikit bingung. Ficqa hanya membalas dengan gelengan. Terasa malas untuk menjawab. Itulah satu-satunya kelemahan Ririn setiap kali ke rumahnya. Ini adalah kesekian kalinya Ririn lupa mengunci pintu rumahnya. Dia juga sudah bosan mengingatkannya, tapi Ririn tetap juga melupakannya. Untunglah tidak pernah terjadi sesuatu yang tak diingini. Tapi hari ini, nasib tak menyebelahi Ficqa. Untung saja orang yang masuk ke rumahnya adalah sepupunya sendiri. Bagaimana kalau orang asing? Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan berlaku pada dirinya. 'Ada seni,' Ficqa teringat akan kata-kata Ririn tadi. "Gila!" Spontan saja tangan Ficqa memukul pahanya, tepat pada bagian kakinya yang luka. "Argh... Aduh... Sakitnya..." Ficqa menjerit. "Kamu itu kalau lagi marah, jangan nyakitin diri sendiri," kata Nando lembut. Memang sesuai dengan profesi yang disandangnya sekarang, sebagai seorang dokter. Mengerti akan emosi pasiennya yang sedang marah seperti Ficqa sekarang ini. "Kan makin banyak darah yang keluar. Coba kawal sedikit perasaan marah kamu. Semakin kamu marah, akan semakin banyak darah yang keluar," kata Nando lagi. 'Kira-kira, tadi udah berapa lama ya dia berdiri di pintu sebelum manggil aku tadi?' Ficqa bertanya sendiri di dalam hatinya. Setelah itu ia mencoba untuk berdiri, tetapi.. "Aduh... Sakitnya..!" rintih Ficqa lagi. "Kayanya kaki kamu terseliuh." Seperti halnya tadi, Nando berkata tanpa melihat wajah Ficqa. Mungkin malu atau apa, Ficqa tidak mengerti. Sekali lagi Ficqa terpaksa mengalah. Nando memapah Ficqa ke kasurnya, dan mendudukkan Ficqa di hujung ranjangnya. Itulah kelebihan Nando. Pintar, Ganteng dan juga yang paling jarang ada pada anak-anak muda zaman sekarang iaitu pandai mengurut. Ficqa tau bahwa Nando memang pandai mengurut. Ilmu itu diperturunkan dari arwah kakeknya dulu. Dalam keluarganya, hanya Nandolah yang suka dan pandai mengurut. Ia menyandang profesi sebagai dokter sekaligus tukang urut. Memang mengagumkan! "Tahan ya. Emang sakit dikit," beritahu Nando. Dia duduk di atas lantai dengan melipat sebelah kakinya sebagai alas. Dia lalu mengangkat kaki Ficqa dan meletakkannya di atas lutut kirinya. Dia mengurut kaki Ficqa dengan perlahan. Tangan kasarnya menyentuh kaki Ficqa. Ficqa mencoba menahan rasa sakit yang ia rasakan. Tidak mau menjerit karna tidak ingin terlihat lemah. Dalam hatinya, dia tidak berhenti berdoa. Dia benar-benar malu pada Nando saat ini. 'Ya Tuhan, Jagalah hamba-Mu ini,' Bisik Ficqa dengan perlahan sekali. Walaupun ia tau bahwa sepupunya itu tidak mungkin melakukan hal yang tidak wajar, tapi dalam keadaan yang begini, Tuhan sajalah yang tau apa yang ada dalam fikiran seorang lelaki. Ficqa sadar, antara seorang lelaki dan perempuan pasti akan ada makhluk yang ketiga. Nando mengurut kaki Ficqa dengan wajah yang serius. Tidak sedikitpun kelihatan bahwa ia akan melakukan sesuatu hal yang tidak baik. Ficqa memberanikan diri untuk melihat wajah Nando. Sedari tadi, Nando sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Wajah Nando juga semakin ganteng dimata Ficqa. Rambut yang hitam pekat, disisir rapi. Sekali-kali Nando menaikkan kaca matanya. Hmm.. Memang bergaya. Walaupun gayanya kadang-kadang mengesalkan, tapi Ficqa memang senang dengannya, dulu....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN