Malam itu Daniel tengah berdiri di balkon rumahnya seraya meneguk minuman kaleng dingin. “Gue cariin ternyata lu ada di sini,” seru Okta yang baru saja datang. Daniel tidak merespon dan tetap pada posisinya dengan meneguk minumannya. “Gimana mengenai perusahaan Mahya? Apa semuanya sudah lu urus?” tanya Okta. Daniel masih saja diam membisu dan sibuk dengan pikirannya sendiri. “WOY!” “Ah sialan!” pekik Daniel memegang telinganya saat Okta berteriak tepat di telinganya. “Apasih lu Gator. Sakit nih,” keluh Daniel mengusap telinganya. “Abis lu mendadak budeg gue panggil. Mikirin apaan sih? Pasti mikirin si Metromini,” seru Okta bersandar ke pagar pembatas.

