Seperti biasa pagi itu Okta sudah di sibukkan dengan beberapa pekerjaan yang selalu menumpuk dan seakan berebut untuk selalu di belai oleh tangan sang raja buaya. Saat tengah sibuk dengan aktivitasnya, telpon di dalam ruangannya berdering dan ia segera menekan tombol hijau. "Ada apa Ifa?" tanya Okta. "Maaf Sir, ada tamu untuk anda." "Siapa? apa dia sudah membuat janji? Saya sibuk." "Mr. Roger dari Kalimantan." Gerakan Okta yang hendak menutup sambungan telepon terhenti di udara. Roger Mahendra Mahya.... Untuk apalagi dia kembali datang. Pikir Okta. "Sir." Lamunan Okta tersadar mendengar suara Alifah sang sekretaris. "Biarkan dia masuk," ucap Okta sedikit parau. Ia mengusap wajahnya dan berdehem sedikit. Sudah hampir 3 tahun dia tak pernah datang dan menghubungi Okta, bahkan seke

