Terkadang dalam hati Mawar, dia bingung seperti apa pentingnya dia bagi Dewa? Kenapa sedikit saja Dewa seolah jarang memprioritaskan dia, Dewa juga jarang memberi tau dia apa yang Dewa suka dan apa yang Dewa tidak suka, seolah Mawar tidak pernah jadi rumah bagi Dewa, sungguh menyakitkan bagi Mawar, tapi bagaimana lagi? Dia harus lebih tegar dan kuat. Bisa atau tidak, Mawar harus bisa menjadi yang terbaik untuk Dewa karena hanya dia yang bisa mendapatkan Dewa. Di kamarnya, Mawar melamun, antara memikirkan rancangan bisnis cateringnya atau pernikahannya dengan Dewa. Satu minggu lagi mereka akan menikah. Undangan pun telah disebar. Mawar menunduk, menatap kertas berwarna hijau kosong bersih dengan tatapan hampa. Penanya sedari tadi masih setia di dalam genggaman tangannya, belum berperan me

