“Suamiku sedang keluar sebentar,” bohong Raventha.
“Oh gitu, by the way, Clarissa lagi di rooftop, tadi katanya mau cari angin, mau aku telpon dia suruh ke sini?” tanya Damian.
“Eh gausah Dam, biarin aja, aku juga mau sarapan dulu. Lagipula nanti ajalah, sekalian ketemu calon suami aku.”
Raventha juga tau pasti Clarissa sedang bertemu dengan Rio, dia yakin jika mereka berdua sekarang sedang bersama, sengaja Raven membiarkan Rio dengan Clarissa bersama, Raven merasa cemburu dan enggan lagi untuk peduli dengan mereka.
Damian memperhatikan Raventha dalam-dalam saat gadis itu mulai memakan makanannya, rasanya Damian ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia menyimpan rasa untuk Raven, namun dia menyadari bahwa Raven telah menikah. Dia tidak berhak lagi mengutarakan isi hatinya.
“Dam, kok enggak dilanjut makannya? Malah ngelihatin aku,” ucap Raventha sembari senyum manis yang membuat jantung Damian berdebar makin kencang.
Damian berdehem dan memegang tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah. Dia lalu tersenyum kepada Raventha.
“Iya, ini aku habiskan.”
Mereka makan dalam diam, tidak berbicara satu sama lain, hanya suara detingan sendok dan garpu yang menghiasi acara sarapan mereka. Raventha meletakkan sendoknya ketika selesai.
“Niatnya balik kerja lagi kapan?” tanya Damian.
Raventha masih belum bisa menjawab pertanyaan Damian, rasanya dia masih canggung bertemu dengan Clarissa, apalagi dia tau jika Clarissa memiliki hubungan dengan suaminya. Seharusnya Raventha secara terang-terangan mengatakan kepada Clarissa kalau dia cemburu dan tidak suka dengan sikap Clarissa, tapi apa daya, Rio juga pasti lebih mendukung Clarissa.
Raventha hanya tersenyum menanggapi Damian, dia lalu pamit untuk mengakhiri sarapan. Dia ingin kembali ke kamar.
Baru saja Raventha sampai di kamar, dia terkejut melihat ibu mertuanya di depan kamar.
"Mama? Mama ada apa kemari Ma?" tanya Raventha dengan nada bingung sekaligus khawatir.
"Rav, Rio kemana? Apa sudah pulang?"
"Oh sudah kok Ma, ayo Ma kalau mau masuk," ucap Raventha.
Ibu Rio masuk ke dalam dan memperhatikan sekitar, ruangan kamar hotel ini sangat rapi.
"Semalam, tidak ada masalah kan dengan kalian berdua?" tanya ibu Rio dengan nada khawatir. Ibu Rio sudah hafal bagaimana watak anaknya, takut jika Rio akan melukai Raventha.
Raven tersenyum mendengarnya, setidaknya dia memiliki mertua yang peduli dan baik hati kepadanya, meski Rio mungkin saja tidak akan mencintainya.
“Tidak Ma, semalam aku dengan Rio baik-baik saja, enggak ada yang bertengkar kok Ma,” ucap Raventha dengan wajah senyum palsunya.
“Syukurlah kalau begitu, Rio dimana sekarang Rav?”
“Rio ... tadi katanya mau keluar sebentar Ma.”
Ibu Rio meraih tangan Raven, menggenggamnya dengan erat, menatap Raven dengan tatapan lembut namun serius dan penuh perasaan.
“Rav, ibu minta kamu tetap bertahan dengan Rio, apapun keadaannya, apapun masalahnya, tolong jangan pernah tinggalkan Rio, apalagi sampai meminta cerai kepada Rio, dia anak satu-satunya tante, tante rasa umur tante dan om udah gak lama lagi, tante mohon jangan pernah tinggalkan Rio apapun keadaannya. Kalau kamu merasa berat menikah dengan Rio, ingat satu hal Raven, tante sangat sayang sekali sama kamu, tante sangat bersyukur Rio memiliki istri seperti kamu.”
Raven tersenyum manis mendengar ucapan ibu Rio, walau hatinya gundah dan tau jika Rio tidak mungkin mencintainya, namun Raven tak sampai hati menceritakan semua ini kepada ibu Rio, dia tidak tega jika ibu Rio mengetahui hal yang sebenarnya. Raven sangat mencintai ibu Rio juga, dia juga menyayangi Rio meski Rio cinta kepada Clarissa.
“Iya Ma, aku pasti akan terus bersama Rio, aku janji Ma.”
Kalimat itu akan terus Raven ingat seumur hidupnya, pasti akan Raven terus ingat sampai akhir hayatnya, bagaimanapun juga Raven menyadari jika dia dan keluarganya telah menolong keluarga Rio dulu. Dia akan terus bersama Rio, suka ataupun tidak.
Keduanya berbincang kembali seputar kebiasaan Rio dan kesukaan Rio, tadinya niat ibu Rio menunggu anaknya kembali, tetapi melihat Raven yang kelelahan, ibu Rio pamit kembali ke lantai bawah, berkumpul dengan keluarga lainnya. Keluarga besar mereka juga masih ada di hotel, belum semua kembali ke Jakarta, peswat mereka semua baru ada nanti malam. Raven juga ikut turun bersama mertuanya, sekilas dia melihat dari kaca samping koridor, di luar halaman hotel dia melihat mobil Rio telah kembali.
Raven lalu pamit dan berlari terbirit-b***t menuju parkiran hotel, hatinya seketika merasakan sakit luar biasa ketika melihat Rio yang berciuman dengan Clarissa, Raven berbalik, menguatkan dirinya untuk tetap berdiri dan kembali masuk ke dalam lift. Sungguh dia tidak menyangka Rio begitu tega dengan dirinya berani melakukan hal itu. Raven menangis, tak sanggup melihat itu semua. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Rio.
Tiba-tiba rasanya dunia memutar, Raven merasa pusing dan kehilangan keseimbangan, dia tiba-tiba ambruk dan menutup matanya. Raven pingsan di lift. Beruntungnya Damian yang hendak masuk ke lift melihat Raven yang pingsan dan membopong gadis itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Wajah Damian nampak panik dan bingung melihat Raven, tenaga medis segera menangani Raven.
Seorang dokter perempuan yang cantik menghampiri Damian, dia tersenyum melihat Damian.
“Damian? Jadi ini istri kamu?” tanya dokter cantik itu.
“Oh Bukan, dia teman aku, tadi pingsan, gimana keadaan dia? Apa dia baik-baik aja?” tanya Damian.
Freya—dokter perempuan itu tersenyum.
“Iya, dia baik-baik saja Damian, jangan khawatir.”
Damian menghela napasnya lega, bersyukur Raven baik-baik saja.
Freya lalu mengajak Damian untuk ke pantry berbincang sejenak, mereka berdua teman kuliah hanya saja beda jurusan, Freya mengambil kedokteran dan Damian broadcasting, awal pertemuan mereka karena satu kelompok pecinta alam, keduanya sama-sama suka eksplorasi alam dan mendaki gunung.
“Gimana kabarmu Dam? Baik? Lagi sibuk apa?” tanya Freya sembari menyeruput kopi hitam Americano miliknya.
“Biasa, kamu tau sendiri kan?” jawab Damian
Freya lalu memotongkan kue milik Damian dan tersenyum menatapnya.
“Semoga bisa jadi sutradara sukses ya Dam, aku suka banget loh lihat film baru kamu yang judulnya Salju Menyelimuti Musim Panas, yang bintangnya Clarissa itu, akting dia bagus banget.”
“Oh ya? Kamu suka lihat itu? Syukurlah kalau bagus, jangan lupa kasih rating ya,” ucap Damian.
“Oh siap, pasti, setiap pasien yang dateng pasti bakalan aku suruh buat liat film kamu, goodluck Dam.”