“Silakan duduk.” Suara Alessa terdengar tenang, namun memiliki tekanan yang cukup untuk membuat seluruh ruangan segera mengikuti instruksinya. Para partner senior dan associate perlahan kembali ke kursi masing-masing, meskipun sorot mata mereka masih tertuju padanya dengan penuh perhatian. Ruangan rapat itu luas dan elegan, didominasi warna gelap dengan meja panjang di tengah yang mencerminkan kekuasaan dan keputusan besar yang sering lahir di dalamnya. Di ujung meja, kursi utama kini ditempati oleh Alessa, posisi yang dulu ditempati papanya kini menjadi miliknya. Ia meletakkan map di atas meja dengan gerakan terukur. Tidak tergesa, tidak ragu. “Saya tidak akan bertele-tele,” lanjutnya, menatap satu per satu wajah di hadapannya. Beberapa partner saling bertukar pandang, mencoba membac

