"Alessandra Kayla Wiranata." Nama itu dipanggil dengan aksen Belanda yang rapi, meluncur di antara nama-nama mahasiswa dari berbagai penjuru dunia yang hari ini berdiri di bawah langit-langit tinggi Academiegebouw gedung wisuda Leiden University yang sudah berdiri sejak tahun 1581, dengan dinding batu dan kolom-kolom megah yang menjadi saksi bisu ratusan tahun pencapaian manusia. Alessa berdiri dari kursinya. Jubah hitam, kap wisuda yang ia pindahkan dengan tangan yang tidak gemetar, dan langkah yang membawa dua tahun kerja keras, enam bulan pengobatan, satu kamar rumah sakit, dan satu gaun pengantin yang tidak sempat dipakai ke altar. Ia melangkah maju ke podium. "Dengan predikat c*m laude," lanjut suara rektor itu, "Legum Magister dengan indeks prestasi tiga koma sembilan puluh." Te

