Dihujat Netijen

1124 Kata

Terdengar bunyi bel betubi-tubi saat aku sedang bersantai membaca buku di ruang tamu rumahku. Saat mengintip ke jendela, kulihat Arman berdiri di depan pintu dengan gelisah. Ia mengucapkan salam ketika aku membukakan pintu. “Kenapa, sih, mencet belnya gitu amat!” tanyaku setelah menjawab salamnya. “Kita ke rumah Mama. Bawa baju-bajumu dan Rania.” “Hah?” Aku bengong sesaat. “Ke rumah Mama? Memang Mama kenapa?” Aku jadi khawatir terjadi sesuatu pada Mama. Apa asma Mama kumat lagi? “Mama baik-baik saja, tapi kamu dan Rania yang tak baik.” “Ke-kenapa?” Arman menarik napas panjang. “Kenapa kamu ngga cerita sama aku tentang kejadian kemarin?” “Kemarin?” Aku mengingat-ingat lagi apa yang terjadi kemarin yang seharusnya kuceritakan pada mantan adik iparku ini. Bukannya menjawab pertanyaank

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN