Hari besar ini akhirnya datang juga. Hari pembukaan kafé kami yang pertama kalinya. Maksudku kafenya Galang. Kalau dia tahu aku menyebutnya dengan kafé kami, dia pasti akan berkomentar pedas, “Sejak kapan kamu menaruh saham di kafé ini, hah?” Aku berangkat kantor dengan jantung bergemuruh. Sudah lama aku tidak berhadapan dengan banyak orang untuk urusan pekerjaan. Apalagi kali ini harus membawa Rania turut serta. Bagaimana kira-kira tanggapan Galang nanti? Tak sanggup rasanya aku membayangkan. Hari ini Mama harus kontrol ke dokter diantar Arman, Bi Inah pulang kampung, sementara TK milik Erna, tengah libur, sehingga aku tidak bisa menitipkan Rania di sana. “Memangnya Rania nggak apa-apa ikut kamu kerja?” tanya omanya di perjalanan mengantarku ke kafé. “Biar Rania ikut Mama. Nanti Mama

