Alasan Feli Pergi

1288 Kata
Perlahan, Naya melepaskan tangan Revan. “Pasti bagi kamu, aku ini wanita yang sangat bodoh, ya, Mas? Bertahun-tahun kamu bohongi aku. Berapa lama lagi aku harus bertahan agar kamu bisa dapat warisan itu, Mas?” tanya Naya sambil menangis. Suaranya lemah, masih menahan sakit di punggungnya. “A-apa maksud kamu?” “Kamu akan dapat warisan setelah menikah dan punya anak, ‘kan?” “Jangan sembarangan bicara, Nay.” Revan terus mengelak, padahal wajahnya menampilkan rasa terkejut dan takut. “Aku sudah baca surat perjanjian itu. Kalau selama tiga tahun menikah kamu belum juga punya anak, warisan itu enggak akan kamu dapat. Benar, ‘kan?” “Nay, ini bukan waktu yang tepat untuk bahas itu.” Perawat masuk ke dalam ruangan, “Permisi, Ibu Naya harus istirahat sekarang. Kami akan terus pantau kondisinya.” Revan melihat ke arah Naya yang pandangannya menatap ke arah jendela. “Baik,” ucapnya pelan sebelum melangkah keluar. Begitu pintu ruangan tertutup, Revan menarik napas dalam-dalam. Alih-alih menunggu di rumah sakit, dia malah berjalan menuju mobilnya. Amarahnya meluap. Dia memukul kepalanya, meremas rambutnya sendiri karena frustrasi. Lagi-lagi, Feli meneleponnya setelah mengirim banyak pesan yang tidak satu pun Revan Baca. “Halo?” “Van, aku di RS Harmoni Medika. Kamu bisa ke sini sekarang?” Suara Feli terdengar panik. Ada gemetar yang menandakan dia benar-benar ketakutan. Revan hanya diam, seperti bingung mau respons seperti apa. Pikirannya benar-benar semrawut. “Aku sibuk, Fel.” “Azila sakit! Dia kejang-kejang karena demam tinggi! Tolong peduli sedikit aja sama dia!” Revan menutup matanya sejenak. Di kepalanya, wajah Nayara muncul. Lelah. Itu yang Revan rasakan selama ini. Dia merasa sudah terlalu jauh bersembunyi, terlalu jauh hidup dengan keputusan itu. “Iya, aku ke sana.” Tangannya masih menggenggam ponsel, namun pandangannya kosong. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya dia menyalakan mesin mobil dan melanjutkan perjalanannya. Pikirannya penuh. Dadanya sesak seolah ada beban besar yang menekan dari dalam. Begitu sampai di tujuan, Revan melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit. Di depan ruang UGD anak, Feli berdiri dengan wajah pucat. Rambutnya acak-acakan, matanya sembab. Begitu melihat Revan, wanita itu langsung menghampirinya. “Van?” “Bagaimana keadaannya?” “Tadi dokter sudah periksa, tapi hasilnya belum keluar.” Revan mengangguk pelan, lalu duduk di kursi tunggu. Lututnya bergerak tak tenang. Melihat kecemasan itu, Feli duduk di sampingnya, memegang tangan pria itu perlahan. Revan tidak terkejut, namun dia segera melepaskannya. Sangat terlihat kecanggungan diantara mereka. “Kamu lagi ada masalah?” tanya Feli. “Enggak.” “Van, Azila memang masih kecil. Usianya memang baru dua tahun. Tapi, aku bisa tau semua hal yang dia rasakan, terutama tentang kamu, ayahnya.” Revan menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Tatapannya lurus ke depan, tapi jelas pikirannya melayang ke mana-mana. Wajahnya terlihat sangat lelah, pakaiannya juga lusuh padahal biasanya dia rapi, bersih, dan wangi. “Selama demam, dia selalu nangis sambil panggil-panggil kamu. Aku ….” “Harus berapa kali lagi aku bilang, dia belum tentu anak aku.” Suara Revan rendah, namun ada penekanan tegas di akhir. “Enggak ada gunanya aku bohong sama kamu. Kamu akan tau sendiri nanti.” Pintu ruang UGD terbuka. Seorang dokter keluar sambil membuka masker. Feli mendekat, disusul Revan di belakangnya. “Kondisinya sudah lebih stabil. Kami sudah kasih obat penurun panas dan anti kejang. Untuk sementara, dia harus dirawat inap dulu untuk observasi lanjutan, ya?” tutur dokter. Feli menghela napas lega. “Kami boleh temui dia, Dok?” “Silakan. Tapi tolong tenang.” Mereka masuk ke ruang rawat dengan langkah pelan. Di atas ranjang kecil itu, Azila terlelap. Wajahnya masih pucat. Selang infus menempel di tangan mungilnya. Revan berdiri di samping ranjang, memandang tanpa berkata apa-apa. Tangannya mengepal, lalu perlahan mengendur. Dadanya terasa sesak, namun mulutnya seperti terkunci. Feli duduk perlahan. Pandangannya tak lepas dari wajah Azila. “Setiap kali dia sakit, aku selalu sendirian di sini. Urus administrasi, jaga dia pas panasnya tinggi, pura-pura kuat biar dia enggak takut. Kadang aku pikir, mungkin dia bakal lebih kuat kalau ayahnya ada.” Revan menelan ludah. Tatapannya turun ke lantai. “Waktu dia pertama kali bisa jalan, kamu enggak ada. Pas dia mulai panggil ‘ayah’, aku yang jawab. Bahkan ulang tahunnya yang pertama, cuma ada aku sama dia.” Feli tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca. “Aku enggak salahi kamu, karena ini memang salah aku.” “Aku enggak mau bahas itu sekarang.” “Aku yang memutuskan untuk jalani semuanya sendiri. Aku yang memutuskan untuk pergi dari kamu. Aku egois, enggak pikir bagaimana nasib Azila kedepannya. Awalnya aku pikir bisa hidup tanpa kamu, ternyata … itu sulit, Van.” Revan menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang sejak tadi diam di sisi ranjang akhirnya bergerak, menyentuh selimut Azila pelan, seolah takut membangunkannya. Suaranya pelan, serak, namun jelas. “Aku enggak habis pikir, kenapa kamu dan Amanda nekat bohongi aku begini? Sebenarnya, selama ini aku juga enggak percaya kalau kamu meninggal. Aku terus cari kamu. Sampai akhirnya, aku nyerah. Aku memutuskan untuk lupakan kamu. Tapi sekarang, kamu tiba-tiba datang dan ….” “Aku sudah janji sama diriku sendiri untuk enggak temui kamu lagi. Tapi nyatanya, aku enggak bisa. Karena Azila butuh kamu.” Revan terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. Tatapannya tidak setajam tadi. “Kalau Azila benar anak aku, kenapa hari itu kamu malah pergi saat kita hampir menikah?” “Kamu tau sendiri jawabannya. Hubungan kita enggak pernah direstui keluarga kamu. Aku cuma wanita malam, enggak punya masa depan yang baik. Kalau kita bersama, nama baik keluarga kamu akan hancur.” “Itu alasan kamu?” Ekspresi wajah Revan seperti tidak percaya dan tidak peduli. “Kalau keluarga aku tau kamu hamil anak aku, mungkin aja mereka bisa terima kamu karena mereka butuh anak dari aku.” “Dari dulu, pikiran kita selalu bertentangan. Itu juga jadi salah satu alasan kita enggak bisa bersama.” “Sudahlah. Sekarang, penjelasan apa pun enggak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Aku percaya takdir. Dan ini takdir aku. Kita memang harus pisah. Kalau enggak, aku enggak akan bertemu sama wanita sebaik istri aku.” “Aku enggak butuh posisi di hidup kamu. Yang aku butuh sekarang, pengakuan untuk Azila.” “Kamu enggak punya bukti apa pun. Semua alasan dan penjelasan kamu juga enggak bisa aku percaya sepenuhnya. Aku butuh bukti untuk akui dia.” Ruangan kembali sunyi setelah kalimat itu. Tidak ada jawaban dari wanita di depannya. Revan mengecek ponselnya karena dari tadi seperti terus berdering. Benar saja, asistennya menelepon berkali-kali. Dia pun balik meneleponnya. “Ada apa?” “Pak, maaf mengganggu. Dokumen revisi kerja sama proyek Bekasi dari pihak investor sudah dikirim. Mereka menunggu keputusan final hari ini. Kalau lewat batas waktu, kontraknya bisa dibatalkan.” “Hari ini juga?” “Iya, Pak. Semua tim sudah menunggu. Ada beberapa dokumen yang harus Bapak cek langsung.” Panggilan berakhir dengan napas panjang. Jari-jarinya mengusap pelipis, mencoba menahan lelah yang menumpuk. “Saya ke sana sekarang.” Revan menoleh ke arah Feli. Wajah wanita itu terlihat lelah, namun matanya tetap mengawasi setiap gerakan Azila. “Mau pergi?” “Iya.” Wanita itu mengangguk kecil, meski terlihat sedikit kecewa. “Aku paham. Kamu memang selalu sibuk.” “Aku akan urus tes DNA setelah dia sehat. Sampai saat itu, jangan paksa aku buat percaya,” ucap Revan dan langsung pergi tanpa ragu. Bahkan, langkahnya cukup cepat meninggalkan ruangan tersebut. Baru saja menutup pintu, dia malah berpapasan dengan Rico bersama seorang wanita tua. Mereka berhenti, menatap Revan sesaat, lalu melirik ke dalam ruangan lewat kaca kecil di pintu. Tanpa menyapa, Revan melanjutkan langkahnya. Namun, wanita tua yang ternyata ibu Rico membuat langkahnya terhenti dengan suara tenangnya. “Siapa wanita dan anak kecil itu? Kamu selingkuhi Naya?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN