Mendengar kata-kata itu, Yanti seolah tak bisa berkutik lagi. Dia mematung dengan hati yang berdebar maraton. Betapa rasanya kata-kata itu terngiang saat masih duduk di bangku sekolah. Semanis madu dan diramu dengan sangat indahnya. “Yan, tolong lihat aku.” Fanta segera menghentikan mobilnya. Lalu dia menatap wajah Yanti yang dulu menjadi belahan jiwanya hingga perpisahan terpaksa harus diterima. Fanta memegang pundak Yanti dan mencoba memaksa Yanti untuk tidak memalingkan wajahnya. “Yan, aku dulu pernah salah padamu, aku dulu membiarkanmu menderita sendirian, tolong berikanlah aku kesempatan untuk bisa menebus semua kesalahanku itu.” Yanti tetap saja menatap kedua bola mata Fanta tanpa lepas. Dia tak tahu apa yang sebenarnya dirasa dengan hatinya sendiri. Dia yang seharusnya membenci

