HARI UJIAN

1077 Kata
Ruangan menjadi tenang. Seolah satu gerakan saja bisa meledakkan bom dalam diri setiap orang. Firoz berdiri penuh wibawa di depan kelas. Berlatar belakang papan tulis putih. Nampak gagak dengan kemeja biru langit, celana hitam dan sepatu mengkilat. Sementara wanita berwajah dengan kaca mata dan tubuh gempal itu berdiri di sampingnya. Baju sari yang dia kenakan sedikit menutupi bobot tubuh besarnya. Dia mulai mendekati meja dosen di depan kelas dan mengeluarkan berkas. Wajah-wajah siswa yang tegang di kursi masig-masing berubah menjadi gelisah. Setelah beberapa bulan mengikuti pelatihan, inilah hari yang ditunggu semuanya. Kemampuan akan diuji. Nasib ditentukan dan masa depan direncanakan sesudahnya. “Aku tahu kalian tegang hari ini, setelah beberapa bulan kalian menjalani pelatihan dengan sangat luar biasa. Hari ini kemampuan kalian akan ditentukan. Tapi, jangan biarkan kepanikan menguasai hati yang justru akan membuat kalian lupa dengan semua ilmu yang telah kuajarkan. Sebelum mulai, aku perkenalkan ini adalah Nyonya Sharma yang akan membantuku mengawasi ujian kalian hari ini. Ingat ini adalah jalur khusus, ujian hanya satu kali dan kesempatan kalian mengikuti jalur beasiswa ini hanya dua kali. Jika ini adalah tahun pertama kalian dan gagal, maka kalian masih punya kesempatan lagi tahun depan. Tapi, jika ini adalah tahun kedua kalian maka artinya ini kesempatan terakhir. Pergunakan sebaik mungkin. Dan, Nyonya Sharma saya persilahkan untuk memulai.” Nyonya Sharma memeluk kertas ujian itu di dadanya dan maju mendekat kelas. Wajahnya nampak serius dan tegas. Dia memandang seisi kelas dari balik kaca matanya. Menatap lekat setiap wajah satu per satu. “Baiklah, sebelum kita mulai. Aku sampaikan pada kalian bahwa, aku adalah konselor dari penyelenggara beasiswa. Aku ingin kalian berjuang sesuai dengan kesangggupan kalian sendiri. Jika, ternyata aku menemukan kecurangan maka aku akan mencoret namanya secara permanen dari semua akses konselor kami. Aku percaya tidak ada siswa yang bodoh, yang ada hanyalah kau harus menyesuaikan diri dengan kemampuanmu. Hari ini adalah tes beasiswa kedokteran bedah. Namun jika jiwamu adalah seorang pujangga, maka kau tidak akan lulus. Kau harus mencoba beasiswa dari jalur sastra. Aku harap semua paham dan jelas dengan perkataanmu. Jika ada yang mau bertanya, silahkan angkat tangan!” Nyonya Sharma terdiam, memberi kesempatan pada seluruh kelas untuk bertanya. Dan di belakang Selo mengangkat tangan, “Ya, silahkan yang dibelakang ingin bertanya! Siapa namamu?” tangan Nyonya Sharma terarah pada Selo. “Perkenalkan, aku Selo, Nyonya. Yang ingin aku tanyakan, jika nanti di tengah ujian aku ingin ke kamar kecil apakah diperkenankan?” wajah Selo sangat serius mengatakan hal ini pada Nyonya Sharma. Namun mengundang senyum kecil di wajah siswa lainnya dan sedikit meredakan ketegangan yang ada. “Pertanyaan yang sangat luar biasa, Selo. Tidak boleh, ujian ini akan berlangsung tiga jam. Dan jika ada yang ingin ke kamar kecil aku persilahkan dari sekarang! Karena jika kalian sudah keluar dari batas pintu itu, kalian dianggap sudah selesai mengerjakan ujian!” ujar Nyonya Sharma tegas. Semua siswa terdiam, nampaknya tidak satu pun yang ingin ke kamar kecil sekarang. “Baik, tidak ada yang ingin ke kamar kecil. Ada pertanyaan lain?” Semua terdiam dan kembali tegang. Nyonya Sharma kembali melihat keliling kelas. “Matikan ponsel, tidak boleh ada suara. Kita akan mulai ujiannya sekarang! Aku akan membagikan soal di meja kalian. Jangan di sentuh sebelum ada instruksi dariku.” Firoz maju ke depan dan membantu Nyonya Sharma membagikan kertas ujian itu pada setiap siswa. Dari arah bangku depan ke belakang. Ketika dia tiba di bangku Salman, dia meletakkan kertas di meja dan menepuk bahunya. Memberikan Salman kekuatan dan percaya diri. Setelah semua bangku terisi soal, Nyonya Sharma kembali ke depan dan Firoz berdiri di belakang kelas. Sekali lagi dia memandang keliling kelas meyakinkan bahwa setiap siswa sudah siap untuk memulai ujian. “Mari kita berdoa, dan ujian dimulai. Sekarang!” Setiap siswa di kelas mulai membalik kertas ujian mereka. Wajah-wajah tegang berubah serius, menggaruk kepala, memijat kening. Salman dan Anil nampak tenang. Salman tenang namun serius. Sementara Anil, tenang dan santai. Dia sungguh tidak peduli dengan hasil ujian ini nanti. Sementara Firoz tersenyum memandang dari belakang reaksi anak didiknya satu per satu. Dia bangga bahwa setiap tahun selalu berhasil meloloskan banyak siswa menuju peluang beasiswa mereka. Dan sebuah kepuasan ketika siswa yang dia loloskan itu berasal dari golongan tidak mampu. Setiap jam terasa berlari. Selo mulai tegang ketika memasuki satu jam terakhir. Masih banyak soal ujian yang belum dia selesaikan. Dia mulai melirik ke arah Salman dan berhaap belas kasihan. Lirikannya tertangkap oleh Nyonya Sharma. “Selo! Kau ingin ke kamar kecil? Aku bisa mengijinkanmu jika memang darurat. Ke kamar kecil wanita dan aku akan menunggumu dari luar!” Nyonya Sharma menegur Selo dari depan kelas. Memecah kesunyian yang sejak dua jam lalu terasa menegangkan. Selo menyadari bahwa lirikannya pada Salman baru saja tertangkap basah oleh Nyonya Sharma. Dia memperlihatkan barisan gigi dan menggeleng pada Nyonya Sharma. “Tidak nyonya, aku baik-baik saja,” ujarnya dan kembali tenggelam pada kertas di hadapannya. Tiga puluh menit menjelang waktu usai, Anil ke depan kelas dengan santai menyerahkan kertas ujian pada Nyonya Sharma. Setiap mata memandang tidak percaya bahwa Anil lebih dulu menyelesaikan. Selama ini mereka mengenal Anil sebagai siswa dengan kemampuan rata-rata. “Masih ada tiga puluh menit. Tidak ingin memeriksa ulang?” tanya Nyonya Sharma sambil menerima kertas Anil. “Tidak perlu!” jawab Anil arogan sambil berlalu keluar kelas. Sepuluh menit kemudian Salman menyusul menyelesaikan ujiannya. Dengan senyum ramah dan sopan dia memberikan kertas ujian pada Nyonya Sharma. Tanpa senyuman Nyonya Sharma menerima kertas Salman. Sementara siswa lain masih sibuk bergelut dengan lembaran mereka. Selo semakin panik karena kedua temannya sudah selesai dan dia masih memiliki beberapa soal yang belum terjawab. Keringat deras mengucur di dahinya. Sementara wajahnya mulai pucat pasi. Firoz melihat perubahan reaksi Selo. Dia berjalan mendekat ke bangku Selo. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Iya, Tuan. aku sangat tegang.” “Tarik nafas dan hembuskan. Lakukan tiga kali berturut-turut!” Selo mengikuti instruksi Firoz, membuat oksigen mengalir di otaknya. Dan tepat saat waktu berakhir Selo telah menjawab semua pertanyaan. Sementara semua siswa telah keluar dari ruangan. Nyonya Sharma menunggu Selo dengan tidak sabar ketika akhirnya langkah perlahan Selo ayunkan menuju meja dosen. “Ingin ke kamar kecil segera?” tanya Nyonya Sharma menggoda Selo. Selo tersenyum lebar dan menggelengkan kepala. “Aku akan melupakan keinginan itu saat kau ada di kelasku, Nyonya.” Nyonya Sharma, Firoz dan Selo tersenyum bersama. Selo lalu melangkah keluar untuk menemui Salman dan mengkonfirmasi semua jawaban. Dan dia melihat bahwa Salman sedang berbincang serius dengan Anil. Membicarakan sebuah rahasia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN