“Tadi kamu melihat seseorang?”
Suara seorang pria ada di dekatku. Tepat di belakang tumpukan sampah tempatku bersembunyi.
“Aku sepertinya melihat ada yang jatuh di dekat sini!”
Aku menahan napas, meringkuk serapat mungkin demi menyatu dengan bayangan dan tembok. Satu tangan di depan mulutku. Aroma sampah yang tajam menusuk membuat isi perutku bergolak, tapi aku harus bertahan.
Jika tidak ingin orang-orang itu datang menemukanku.
“Tidak, tidak ada apa-apa.” Suara-suara itu menjauh. “Mungkin hanya perasaanku saja. “Ayo cari ke tempat lain! Dia pasti belum jauh!”
Suara-suara semakin lama semakin senyap. Aku terus menanti hingga tidak ada lagi suara. Di bawah sana, kakiku perih dan panas. Sepetti terbakar. Aku berkali-kali melirik, memastikan tidak ada percikan api di sana. Dan memang tidak ada.
Kalau begitu, kenapa kaki ini terus menerus terasa panas?
Sambil terus menahan diri, aku menanti di dalam gelap. Seekor belatung melata di dekat hidungku, perlahan-lahan. Aku menjati tidak sabar. Rasanya ada banyak yang bergerak di sekelilingku, melata dan bau dan lengket. Di luar, aku mendengarkan baik-baik suara apa saja, berharap tidak ada lagi suara yang terdengar.
Dan memang tidak ada suara yang terdengar.
Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara pria yang terdengar. Benar-benar sunyi.
Mungkinkah keadaan sudah aman?
Aku mengintip dari balik rimbunan sampah. Tempat sampah yang kelebihan muatan di sampingku menjadi tameng yang baik dan aku berniat memanfaatkannya sebaik mungkin untuk bersembunyi.
Di gang di luar sana, tidak terlihat lagi ada seseorang. Tidak ada yang hilir mudik. Keadaan benar-benar sudah aman.
“Ternyata di sana kamu bersembunyi.”
Rasanya jantungku melompat menghantam d**a ketika suara itu terdengar tiba-tiba dari belakang. Dari rimbunan sampah, aku bangkit berdiri dan berputar. Tubuhku merangsek mundur membentur tempat sampah dari besi di belakang, menimbulkan kegaduhan tidak biasa yang membuat telingaku sendiri berdengung nyaring karenanya.
Di hadapanku, seseorang tertawa. Aku membuka mata meski telingaku masih sakit. Seorang pria berdiri di hadapanku. Wajahnya putih dan rambutnya hitam. Ada sesuatu yang aneh dari wajahnya, tapi aku tidak bisa mengatakan apa. Aku hanya merasa ada yang berbeda.
Ia tersenyum. Aku merasa ia melihat wajahku tapi rupanya ia melihat rambutku. Ia sampai mencondongkan badan memerhatikanku. “Apa warnanya dari dulu sudah seperti itu? Atau kamu baru saja melihat hantu yang begitu menakutkan sampai rambutmu putih begitu?”
Aku terlonjak oleh pertanyaan anehnya. Punggungku semakin merapat ke tempat sampah.
“Wajahmu muda tapi rambutmu aneh sekali.” Pria itu menyeringai. “Ah, maaf, apa aku membuatmu kaget? Aku jarang sekali melihat pria lain kaget karena melihatku.”
Sementara ia tertawa, aku berdiri diam dan kaku. Sadar seragam hitam yang dikenakannya bukan seragam orang biasa. Itu seragam resmi yang dikenakan para Marsose. Dan ia bersenjata. Senapan panjang itu berdiam di belakang punggungnya.
“S-siapa kamu? Apa maumu?” Firasat buruk menghantuiku. Ia pasti ingin menangkapku.
Kedua kakiku berusaha berdiri tegap tapi sialnya, tubuhku terlalu lemas untuk sekadar berlari.
“Aku?” Pria itu menunjuk dirinya sendiri. “Namaku Rass. Frederick Rass.”
Kemudian, secepat angin, pria itu mengayunkan senapannya ke wajahku. Tepat ke depan hidungku.
Berlawanan dengan moncong senapan dan jarinya yang siap di depan pelatuk, pria bernama Rass itu tertap mempertahankan senyum di wajahnya. “Dan kamu harus ikut denganku, Pria lucu.”
***
Marsose, sebuah satuan khusus buatan orang-orang asing di negeri ini. Mereka dibuat untuk mengendalikan ketertiban dan keamanan dalam tingkatan yang berada jauh di atas level yang bisa ditangani politie.
Pemberontakan dalam berbagai ukuran adalah tanggung jawab mereka. Pada beberapa kesempatan, mereka juga bertanggung jawab mengurus kasus-kasus yang terlalu lama ditangani oleh para politie.
Aku baru tahu kalau Marsose juga turun tangan dalam kasus Dayuh. Jika mereka sampai turun, artinya teror ini benar-benar sudah parah.
“Kamu bersembunyi di tempat yang cukup unik jika aku boleh berpendapat.” Rass menyerahkan selembar kain handuk basah kepadaku. Tanganku menyentuh handuk itu dengan hati-hati. Hangat. “Apa yang kamu lakukan di luar lewat jam malam?”
Selama sesaat, aku mengira pria bernama Rass ini akan membawaku ke kantor Marsose. Jika ya, tamat riwayatku. Mungkin mereka akan menuduhku sebagai orang mencurigakan pada awalnya, tapi begitu mereka melihat darah dan menanyaiku, mereka akan mulai menyelidiki masa laluku. Tinggal tunggu waktu sampai mereka sadar kalau aku simpatisan, mereka akan mengusahakan segala cara untuk menangkapku. Minimal memeras harta yang saat ini tidak aku punya sama sekali.
Mungkin itu juga yang berusaha dilakukan pria bernama Rass ini sekarang.
“Jangan menyipit begitu. Matamu jadi tampak mencurigakan.” Sadar aku sudah mengekspresikan emosi terlalu jelas, aku membetulkan wajah dan memalingkan muka. Tanganku meraih handuk itu dan segera menyapukannya ke wajah. Handuk itu berubah merah. “Jadi, apa jawabanmu?”
Aku sendiri tidak tahu.
Kejadian-kejadian yang tadi kembali berputar di benakku. Pria aneh, nama yang tidak aku kenal, kenangan-kenangan yang tidak aku ketahui, suara yang tidak aku kenal.
“Kaliandra.”
Sekujur tubuhku merinding meski tidak ada angin yang berembus. Kengerian itu masih terasa. Telingaku berdengung saat nama itu bergema di dalam kepalaku.
Mengabaikan dengung yang tidak seberapa itu, aku pun lantas melirik Rass. Pria itu masih menanti jawaban. Masih dengan senyumnya yang semakin lama dilihat, semakin tidak wajar.
Rasanya senyum itu membeku di wajahnya. Seperti tidak tercipta dari emosi, tapi memang tertempel di wajahnya secara permanen.
“Aku tidak begitu … ingat.” Kurasa bukan keputusan yang bijak untuk berterus terang padanya, terutama akan hal yang aku sendiri tidak yakin. “Ada seorang pria … bercakar aneh. Ia membawaku ke atap. Aku dan satu orang lagi.”
“Ah, ya, aku dengar soal itu. Pria yang malang. Kami sedang mencari identitasnya.” Rass manggut-manggut. “Apa kamu sempat melihat wajah orang itu?”
Aku mengernyit. Rasanya seperti ditanyai. Diinterogasi. Dan mendengarnya bertanya seperti itu hanya membuatku teringat kenangan di penjara Khalikamaya.
“Sekarang, perlihatkan kepadaku apa yang kau lihat dan dengar hari itu,”
“Apa saya … sedang diinterogasi?”
“Secara resmi? Tidak,” jawab Rass. “Tapi kamu satu-satunya yang bisa menuntunku sekarang, jadi aku harus menanyaimu, suka maupun tidak.”
Dia tidak salah sepenuhnya. Tapi jawaban itu juga tidak membuatku semakin tenang. Secara tidak langsung, ia baru saja mengiyakan kalau ia memang menginterogasiku.
“Jadi saya … akan ditahan?”
“Bukankah tadi aku sudah bilang ini bukan interogasi resmi?” sahutnya. “Santai saja. Aku tidak akan menahanmu di mana pun. Kamu bebas pergi setelah merasa cukup kuat untuk berlari. Tadi wajahmu pucat sekali—ah ngomong-ngomong soal wajah pucat.” Rass berbalik menghadapku. “Apa ada yang ingin kamu makan atau minum?”
Aku menggeleng. Setelah melihat semua darah, pemandangan mengerikan, dan aroma busuk sampah, makanan dan minuman adalah hal terakhir yang aku inginkan saat ini.
Rass mengedikkan bahu. “Baiklah, aku juga tidak haus.”
Diam-diam, aku mengedarkan pandang ke ruangan tempat Rass membawaku. Ruangan itu memiliki dinding dan langit-langit putih. Setelah aku kira ruangan Sapta adalah ruangan paling luas, ruangan milik Rass ini jelas mengalahkan ruangan Sapta dari berbagai sisi. Langit-langitnya tidak bisa aku raih, berwarna putih terang, dan tanpa noda. Sementara dinding-dindingnya jauh dari kata mengimpit. Aku bisa berlarian di ruangan ini sampai lelah jika mau.
Tidak perlu aku katakan lagi, ini sebuah rumah yang cukup besar, berlantai dua, dan terletak di tengah kota. Kami memang masuk dari pintu belakang, tapi melihatnya memegang kunci, aku rasa tidak berlebihan untuk berasumsi kalau ini rumah Rass sendiri.
“Ini rumah Anda?” tanyaku memastikan.
“Ya,” sahutnya. “Apa amu mengira ini rumah milik orang lain?”
“Tidak….” Jawabku. “Saya hanya berpikir ini rumah yang bagus.”
Benar, rumah yang bagus, seluruh diriku mengakui hal itu. Mulai dari ruang utama, kamar mandi tempat aku mencuci muka, hingga kamar ini, semuanya bersih dan wangi. Lantainya ditutup dari keramik yang berwarna putih. Mulai dari pintu masuk hingga kamar ini.
Seluruh penjuru rumah ini tertutup aroma aneh. Bukan aroma aneh yang janggal. Hanya saja aku baru pertama kali mencium aroma harum ini.
Aroma harum yang sedikit menenangkan.
Seperti aroma harum milik …
Aku buru-buru mengenyahkan pikiran itu saat wajah Anjani muncul.
Tidak, jangan sekarang. Ada urusan yang lebih gawat dari sekadar memikirkan Anjani saat ini.
Mataku melirik sekilas ke tanda pangkat di bahu Rass. Dua bintang. Apa tanda pangkat itu tinggi?
Melihat Marsose itu masih juga tidak melepas seragamnya, mau tidak mau, aku berfirasat ini masih bagian dari tugasnya.
Rass tampaknya menyadari ke mana arah pandangku. “Ah, kamu mengira ini bagian dari tugasku?” Ia tersenyum. “Separuh benar. Kamu ternyata tidak begitu bodoh juga.”
Kerutan di dahiku semakin dalam saat ia menghinaku dengan mudah. Senyumnya ternyata memang palsu.
“Tapi kamu punya ingatan yang cukup buruk,” Ia menambahkan. Entah sengaja atau tidak, ucapan itu menikamku. Apa dia sengaja mengucapkannya atau itu hanya sebuah hinaan? “Terlebih jika kamu tidak bisa mengingat wajah orang yang baru saja kamu temuil”
Rupanya ini hanya soal pertanyaannya yang belum aku jawab.
Aku mengembuskan napas lega, lalu kembali serius.
“Saya tidak kenal wajahnya….” Aku mengakui, tanpa ingin mengulur waktu. Ingin secepatnya pergi dari tempat ini. “Tapi bola matanya hitam … dan matanya menyala merah. Cakar anehnya … ada di tangan kanan.”
Rass terdiam. Tangannya mengetuk-ngetuk dagu. “Sesuai dengan ciri-ciri dari saksi mata pertama. Bukti-bukti di lokasi juga sesuai dengan kejadian selama ini….” gumamnya, lalu memalingkan pandang kepadaku lagi. Ia tersenyum cerah. “Kamu beruntung sekali malam ini. Hanya ada satu orang yang berhasil selamat dan malam ini kamu menjadi yang kedua selamat.”
“A-apa maksud Anda?” tanyaku. “Jadi yang saya temui tadi itu … benar-benar Dayuh?”
Kedua mata hitam Rass sedikit membelalak. “Kamu tahu nama itu?”
Apa … apa-apaan reaksi itu? Apa seharusnya aku tidak tahu?
Meski bertanya-tanya dan bingung, aku mengangguk. “Posternya di mana-mana.”
“Ah, ya, tentu saja….” Rass menggaruk kepala. Untuk pertama kalinya, senyum pria itu tampak kikuk. “Kami memang berusaha menangkapnya sebelum Gubernur Jenderal mengamuk.”
Gubernur Jenderal? Siapa itu?
“Ngomong-ngomong, apa ada lagi yang kamu butuhkan? Pakaian?” Rass beranjak ke lemari pakaian yang berdiri lima langkah dari kami.
Aku melirik ke ranjang tempatku duduk. Kasurnya putih dan aku sudah dengan kurang ajarnya m*****i seprai putih itu dengan berbagai kotoran dan bau tidak sedap. Aku meringis menatap noda hitam di seprai. Aku yakin tidak akan hilang dengan mudah.
“Maaf,” ujarku. “Untuk seprainya.”
“Tidak perlu diambil pusing.” Rass membuka pintu lemari. “Ada yang akan membersihkannya pagi-pagi sekali.”
Mendengarnya bicara pagi, aku jadi bertanya-tanya jam berapa sekarang. Aku menoleh, melihat jam dinding yang berdetik pelan dan stabil. Sudah jam dua pagi.
Aku mencelus. Ira dan Markandra. Aku berjanji kepada mereka hanya keluar selama lima menit dan sekarang aku sudah keluar selama ini. Apa mereka mencariku? Pastinya.
Aku harus segera kembali.
Diam-diam aku melirik punggung Rass. “Saya … sungguh-sungguh tidak ditahan?”
Rass melongok dari lemari. Senyum hilang, tergantikan wajah penasaran. “Tentu saja tidak. Kenapa kamu terus berpikir kamu akan ditahan?”
“Anda….”
Rass tersenyum dan kali ini aku bisa melihat sedikit emosi lain di wajahnya. Dia tampak geli. “Maksudmu karena aku Marsose?”
Aku mengangguk.
“Anggap saja malam ini kamu punya keberuntungan ekstra yang setia bersamamu,” Ia kembali sibuk ke dalam lemari. Tidak butuh waktu lama, ia mengambil sebuah baju berwarna coklat dan celana hitam. Tanpa pikir panjang, Rass melemparkan satu setel baju itu kepadaku. Aromanya wangi, berbanding terbalik dengan aroma baju dan tubuhku yang busuk. “Segera ganti baju. Aku akan antar sampai pintu belakang.”
Pintu belakang? Aku mengerjap tidak percaya. Dia benar-benar mau membiarkanku begitu saja tanpa menahanku? Meski aku menjadi saksi mata satu-satunya dari Dayuh? Dayuh yang katanya menebar teror?
“A-anu … saya boleh tanya?”
“Soal?” Rass berdiri menghadapku. Bersedekap.
“Dayuh itu … dia….” Aku menelan ludah, menyingkirkan semua bayangan buruk hasil dari pertemuan mengerikan itu dari kepala. “Dia sebenarnya … siapa—apa—sebenarnya?”
Rass tidak langsung menjawab. Alih-alih, ia mendelik turun. Aku mengikuti arah pandangnya dan sadar, ia memandangi kakiku.
“Kurang lebih sama sepertimu,” jawabnya. “Atau setidaknya itulah dugaan kami dari apa yang kami temukan di tempat kejadian perkara.”
Aku ikut memandangi anggota tubuhku yang unik satu itu. Kakiku yang aneh itu awalnya berwarna kelabu. Tapi kini warnanya hitam pekat. Sementara gurat-gurat merah hasil dari pertemuan dengan Dayuh melekat di sana selamanya. Lalu saat aku perhatikan, luas kaki yang menghitam itu semakin bertambah. Awalnya hanya separuh kaki, kini hitamnya sampai ke lutut.
Seolah aku semakin berubah.
Mungkinkah begitu? Aku semakin berubah? Tapi berubah menjadi apa? Karena apa?
Dayuh itu sebenarnya siapa? Kenapa dia …
“Aku tunggu saat keajaiban kembali turun ke Marcapada ini, Kaliandra.”
Kenapa … dia mengenalku? Kenapa dia memanggilku … dengan nama asing itu?
Namaku Damien. Hanya itu.
Benar, kan?
***
Sembari berjalan ke luar, Rass bercerita soal Dayuh da nasal mula semua teror yang melanda tidak hanya Jayagiri, tapi Batavia dan sebagian wilayah lain di sekitar ibukota.
“Semua berawal dua bulan sejak Batavia lenyap.” Rass berkata sementara kami menyeberangi lorong utama. Aku memandangi atap dan dinding, lorong dan pintu-pintu yang tertutup. Telingaku tidak mendengar siapa pun, tidak mencium aroma apa pun. Hanya ada Rass dan aku di rumah ini. “Awalnya perintah dari atas bermaksud untuk menyembunyikannya. Mereka bilang, kasus ini sebaiknya ditangani oleh Politie saja. Dan disembunyikan agar tidak terjadi kepanikan massal. Tapi lama kelamaan semakin tidak terbendung. Dan seperti yang kamu lihat, aku sebagai Marsose pun harus turun tangan.”
“Sampai sekarang korban sudah jatuh setidaknya selusin,” Rass menambahkan. “Semuanya Londo. Hanya itu yang menghubungkan para korban. Sisanya, tidak ada sama sekali.”
“Kenapa….?” Kenapa orang-orang itu dibunuh? Apa salah mereka?
Aku ingin bertanya lengkap seperti itu, tapi suara tidak kunjung keluar dari mulutku.
“Motifnya masih tidak diketahui.” Rass menangkap maksud pertanyaanku dengan baik. “Kami masih menyelidiki, tapi melihat dari semua bukti, jejak darah, simbol, dan tulisan yang ditinggalkan pelaku, sepertinya pelaku orang gila. Mungkin semacam fanatik gila yang ingin mempersembahkan sesuatu kepada entitas yang ia puja. Negeri ini kaya akan sesuatu seperti itu kan? Yah … bukannya sekarang kita punya hak untuk meragukannya….”
Aku tidak bisa mendengarkan sisa penjelasan Rass. Semakin kami keluar, semakin dengung di telingaku terdengar jelas. Aku mendongak, menggeleng, mencoba menyingkirkan bunyi dengung itu, tapi bukannya hilang, dengung itu kian mengganggu. Semakin lama semakin keras.
Kemudian aku sadar, suara itu bukan sekadar dengung.
Itu suara jeritan.
Aku mendongak ke arah langit-langit yang temaram. Tidak ada lampu di atas kepalaku. Sinarnya jadi temaram karena hanya diterangi cahaya dari ruang utama, tapi dengung di kepalaku semakin mengganggu. Semakin jelas. Jeritannya semakin menjadi. Kepalaku pening.
Lantai di bawah kakiku terasa bergoyang. Tubuhku oleng dan jatuh. Bersandar pada tembok. Napasku terengah. Isi perutku jungkir balik.
“Ada apa?” Rass terdengar dari depan, tapi aku tidak sanggup mengangkat kepala untuk sekadar menatapnya. Jeritan di telingaku hampir-hampir menelan suaranya.
“Suara….” Aku bergumam, setengah berbisik. Suaraku terdengar lemah tidak berdaya. “Ada yang … menjerit….”
“Ah.” Rass terdegnar tenang. “Kamu alergi dengan Rakta.”
Aku merasakan tanganku dipegang dan ditarik. “Kamu harus cepat keluar. Bertahanlah sebentar lagi.”
Aku tidak melawan sepanjang jalan. Semua tenagaku tertuju hanya untuk menyeimbangkan tubuh dan berusaha agar tidak kehilangan kesadaran. Langkah kakiku limbung. Aku merasa seperti berjalan di atas lumpur yang bergolak. Tidak ada tanah yang stabil. Segalanya berputar. Semua warna berpadu menjadi kelabu yang pada akhirnya menjadi hitam.
Kemudian, berubah merah. Segalanya berubah merah, lalu emas, lalu putih. Terang menyilaukan. Membersihkan segalanya dalam ketiadaan. Kemudian aku mendengar jeritan itu di dalam kepalaku, semakin terdengar kesakitan. Semakin sedih.
Sesuatu yang dingin menyapu pipiku. Lembut dan sejuk.
Kemudian, sesuatu berdebum di dekatku. Suaranya bergema dalam telinga, mengusir semua dengung itu dan membangkitkan kesadaranku. Tanah yang kupijak kembali padat. Stabil. Pening di kepalaku lenyap. Tubuhku tidak lagi terasa berat.
Aku mengerjap perlahan dan membuka mata. Kegelapan yang familier menyambutku. Kepalaku menengadah ke arah cahaya rembulan di angkasa, merasakan setitik kerinduan saat melihat cahaya hangatnya yang berbeda dari cahaya lampu. Lembut dan menenangkan, bukan terang menyilaukan.
“Merasa lebih baik?” Terperanjat, aku setengah melompat. Di sisiku, Rass berdiri dengan tenang. Senyum ramahnya mengembang lebar. Aku mengangguk, hampir tidak menemukan kata untuk mengungkapkannya selama beberapa saat.
Sadar Rass menanti jawaban lisan, aku pun memperbaiki jawaban itu. “Ya.”
“Bagus. Senang mendengarnya.” Kemudian Rass menunjuk ke satu arah. Aku mengikuti arah tangannya dan melihat satu gang sempit yang tidak diterngi cahaya berada di antara dua bangunan yang berdiri kokoh.
Aku mengamati sekeliling dengan bingung. Kanan dan kiri, mengamati bagian belakang dari setiap rumah yang berdiri dalam barisan yang sama dengan rumah Rass. Tidak ada rumah yang terlihat familier. Jalanannya yang diaspal halus dan sepi pun tidak pernah aku lintasi. Lampu-lampu jalannya mengingatkanku pada barisan Marsose yang tadi berkeliling dengan mobil dan automaton. Lebar jalannya dua kali dari jalan yang aku ingat ada di depan pondok Ira dan Markandra.
Di mana rumah ini letaknya?
“Ikuti saja gang sempit itu.” Rass memotong pikiranku. “Kamu akan tiba di jalan yang akan kamu ingat.”
Kedua mataku membelalak. “Dari mana kamu tahu?”
Rass tersenyum misterius. “Menurutmu dari mana?”
Kemudian aku teringat kata-kata yang sebelum ini diucapkan olehnya. Betapa beruntungnya aku sampai ditemui olehnya di belakang tempat sampah. Betapa kebetulannya dia membawaku ke dalam kediamannya, menanyaiku, tanpa mau menangkapku.
“Anggap saja kamu sangat beruntung.” Rass mengulangi kata-kata itu sembari berbalik, kembali ke dalam rumah. “Karena Anjani memintaku melakukannya sampai sejauh ini.”
***