"Assalamu'alaikum, Wita. Gimana kabarnya?" Suara Mbak Ningsih terdengar begitu riang. Dia anak sulung Bik Sarah masih saudara cukup dekat dengan mantan suami. Sejak delapan tahunan menikah dengan Mas Aris, hanya Mbak Ningsih lah yang selalu membelaku di depan keluarga besar. Dia seolah menjadi pahlawan di setiap kesempatan. "Wa'alaikumsalam, Mbak. Alhamdulillah baik, Zahra juga. Mbak Ningsih dan keluarga apa kabar? Tumben banget ini nelepon," balasku kemudian. Mbak Ningsih tertawa kecil. Seperti biasanya dia memang murah senyum dan ramah. "Tumben banget emang, Wit. Kamu tahu sendiri lah, sejak sakit stroke itu Mbak jarang pegang ponsel," balasnya kemudian. Aku kembali membayangkan bagaimana wajah dan senyum Mbak Ningsih detik ini. "Sejak cerai sama Aris, kamu jarang nongol lagi di s

