|Mbak Wita, bakda maghrib ada acara nggak? Kalau nggak ada, aku mau traktir kamu di Cafe Berliana Jalan Delima 26, nanti aku antar jemput. Kalau Mbak Wita sibuk, bisanya kapan? Biar aku yang nyusun waktu buat Mbak| Sebuah pesan dari Mbak Ulya masuk ke ponsel. Aku membacanya melalui notifikasi. Bakda maghrib? Sepertinya nggak ada acara, lagipula malam minggu begini memang biasanya kugunakan untuk bersantai bersama Zahra di depan tivi. Malas ke mana-mana karena biasanya jalanan macet setiap weekend tiba. "Ra, tante Ulya mau traktir kita makan di cafe habis maghrib, Zahra mau?" tanyaku pada gadis kecilku itu yang masih sibuk mengikat tali di rambutnya. "Apa, Bu? Kita mau ditraktir tante Ulya lagi, ya? Horeeeee! Zahra mau, Bu." Gadisku berteriak sembari tepuk tangan kegirangan. Dia bahka

