017. Start New Life

1093 Kata
Flashback On Seorang gadis tengah gugup di kamarnya, Ia berkali-kali meremas ujung kebaya putih yang Ia pakai. Perasaannya campur aduk sekarang, bahagia takut juga menyelimutinya. Takut akan melihat reaksi calon suaminya yang sejatinya menolak perjodohan ini dan bahagia saat tahu Ia akan segera menikah dengan pria idamannya. Ia tahu ke napa pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu menolak perjodohan, tapi sungguh jika Ia tidak egois saat ini. Maka Ia akan kehilangannya untuk selamanya, atau bahkan pria itu tidak akan lagi menoleh padanya. Untuk saat ini Ia akan egois, egois merasakan bagaimana bahagianya Ia menikah dengan pria itu. Ia tidak memikirkan bagaimana penolakan-penolakan pria itu, biarlah itu terjadi ketika penghulu mengatakan sah nanti. Segala ke mungkinan terburuk sudah Ia persiapkan, namun rasa gugup bercampur takut itu sama sekali tidak bisa hilang Ia rasakan. 'Tok Tok Tok' "Sayang Mama boleh masuk?" tanya seseorang di balik pintu, Dea menatap pintu kayu kamarnya. "Ya Ma, masuk saja." pintu terbuka saat pemilik kamar memberi izin wanita yang berumur sekitar 39 tahun itu masuk. Senyum tidak pernah luntur dari wajah sang Mama membuat Dea juga harus tersenyum. "Kamu sudah siap Sayang?" tanyanya membelai surai anaknya yang begitu mirip dengannya, Dea mengangguk mantap. "Iya Ma Dea siap, memang ijab qobulnya sudah selesai?" tanya Dea, Tamara mengangguk. Wanita itu mengusap pipi Dea yang mulus seperti bayi, menatap puterinya yang sebentar lagi akan jadi milik orang. Berat memang, tapi saat untuk ke bahagiaan puteri semata wayangnya Tamara akan melakukannya. "Sudah Sayang, yuk Kita turun." Dea mengangguk lalu menggenggam erat tangan Mamanya untuk menghilangkan rasa gugupnya yang berlebihan. Tangannya sudah basah oleh keringat dan terasa dingin karena begitu gugupnya Ia dengan pernikahannya ini. "Kamu gugup ya?" Dea menatap Mamanya saat ke luar dari kamar, Dea mengangguk. Ia jujur akan ke gugupannya saat ini, toh Mamanya pasti tahu akan hal itu. "Sedikit Ma." Tamara tersenyum maklum, Ia memberikan senyum menenangkan untuk Dea. Semua akan baik-baik saja dan akan berjalan lancar. "Kamu jangan gugup, suami Kamu orangnya tampan. Jadi Kamu harus senyum biar enggak kalah cantiknya." Dea mau tidak mau tersenyum, Mamanya mampu membuatnya tenang. Iya tahu kalau suaminya itu begitu tampan. "Ya Ma." Dea dan Tamara menuruni tangga di mana para tamu yang berasal dari keluarga Navela dan keluarga Abigael telah menanti ke datangan mereka. Semua orang terpana akan ke cantikan Dea saat pertama melihatnya, tidak di pungkiri mata indah nan meneduhkan juga bibir tebal yang selalu membuat orang ingin merasakan rasa manisnya. Termasuk pria dengan setelan tuxedo putih yang membalut tubuh tingginya, ya Dia memang terpesona tapi tidak dengan hatinya. Dia sekarang teramat marah pada gadis yang menuruni tangga dan selalu menundukkan kepalanya itu. Tangannya sudah terkepal hingga kukunya menancap pada telapak tangannya, rasa marahnya semakin menjalar hingga ujung rambutnya. Rahangnya mengeras, sejak perjodohan itu hidupnya benar-benar tidak bisa tenang. "Dava Mama titip anak Mama, Dea. Jaga Dia baik-baik." Dava hanya mengangguk tidak menanggapi ucapan Tamara, juga tidak ada senyum terbit di bibirnya. Tamara dan seluruh keluarga pasti juga tahu akan bagaimana Dava yang menolak perjodohan ini mentah-mentah, namun mereka hanya berharap Dea mampu membuat Dava berubah dan menerima ke hadirannya. Ia terlalu muak dengan ke adaan ini. "Silahkan tanda tangani surat nikahnya dan silahkan bertukar cincin!". Dava membumbui buku nikahnya dengan tanda tangannya, di ikuti Dea. Lalu bertukar cincin, Dava begitu malas untuk memasangkan cincin di jari Dea. Rasa-rasanya Ia ingin sekali membuang cincin itu jika Ia tidak ingat banyaknya harapan keluarga padanya. Harapan yang mungkin tidak akan pernah Dava kabulkan, cih! membentuk keluarga bahagia. Sialan, mengingat hal itu membuatnya kembali merasa marah. Dava dapat melihat ke takutan di wajah gadis yang sekarang berstatus sebagai isterinya itu meski Ia sama sekali tidak peduli. Setelah acara bertukar cincin Dava mencium kening Dea dengan teramat sangat terpaksa setelah tangannya di cium oleh Dea dengan tangan yang terasa sangat dingin. Dava menggeret Dea ke kamar setelah selesai acara itu, para keluarga masih berkumpul di rumah keluarga Navela tapi Dava sama sekali tidak peduli. Dia ingin berbicara empat mata dengan gadis yang merusak hidupnya juga hubungannya dengan Fani, kekasihnya saat ini. Meski pernikahan ini di rahasiakan oleh seluruh keluarganya dan mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa ada batasan. Yah, terkecuali tentang adanya orang ke tiga tentu saja. Setelah mengunci pintu kamar Dea yang sudah di hias sedemikian rupa tidak membuat hubungan itu berjalan lancar. "Jangan pernah berharap pada hubungan ini!" tegas Dava pada setiap kalimatnya. Dea mendongak menatap Dava, Ia tersenyum manis. Dava menaikkan satu alisnya tidak mengerti akan reaksi Dea. "Aku juga tidak berharap banyak, tapi Aku akan berusaha menjaganya." mata Dava terbelalak, tidak tahu akan bagaimana memperingati Dea. Dava tidak habis pikir dengan pikiran wanita yang menyandang status isterinya itu. "Aku sudah punya kekasih, jangan terlalu berlebihan!" yah, mungkin dengan begitu Dea akan menyerah dan pergi dari hidup Dava. Dan Dava akan sangat bersyukur jika itu terjadi padanya sekarang. "Aku tahu." Dea masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Dea saat ini, ya Dia hancur. Dia lebih baik dapat tetap melihat Dava dari jauh dari pada mereka memang dekat tapi terasa Dava tidak bisa Ia jangkau kalau ke adaannya akan membuatnya merasakan sakit seperti ini. Ia ingin mengambil resiko, tapi rasa sakit ini entah ke napa membuat Dea rasanya lumpuh. Penolakan Dava setelah perjodohan mereka. Ia tahu tentang kekasihnya Dava, Ia sudah tahu tapi apakah Dava harus memperjelas semua itu saat ini? Ketika dirinya sudah menjadi isterinya yang sah. Air mata meluncur bebas dari pelupuk matanya, Ia hanya bisa menangis dalam diam. Pura-pura kuat dan seolah tidak berharap hubungan mereka berhasil adalah cambuk baginya. Sakit dan dadanya menyesak, tapi apa yang dapat Dea lakukan. Pura-pura kuat ternyata bukan pilihan yang bisa Ia ambil dengan mudah. Dea menghembuskan nafas berkali-kali agar rasa sesak yang menikam jantungnya sedikit hilang, Ia berjalan ke arah bathup lalu melucuti kebaya putihnya. Berendam adalah tujuannya untuk mendinginkan kepala juga tubuhnya yang terasa kaku. Sudah 30 menit Dea berendam hingga kulitnya mengeriput karena ke dinginan, Ia ke luar dengan handuk bajunya yang menutupi tubuh indahnya menuju walk in closet miliknya, tidak hiraukan Dava yang berbaring di ranjangnya. Dava menaikkan satu alisnya melihat Dea yang dengan santainya hanya memakai handuk baju, hello Dia lelaki normal bagaimana wanita itu bisa dengan mudah berjalan di depannya. "Jangan pikir ada malam pertama!" kaki Dea berhenti berjalan, menatap Dava dengan alis terangkat. Kemudian bersidekap lalu terkekeh kecil, seolah mengolok Dava. "Aku juga tidak berharap, karena Aku tahu Kamu juga tidak akan berusaha dalam hubungan ini jadi Aku pikir bagaimana ke biasaanku Kamu tidak akan terpengaruh." Dava berdehem, tidak habis pikir dengan wanita yang di hadapinya ini. Dea melanjutkan jalannya menuju ke tempat tujuan, mengganti pakaian dan duduk di meja riasnya. Mengeringkan rambutnya lalu merias diri sejenak karena pada nyatanya Dia tidak suka berlama-lama di depan meja riasnya. **** Madiun, 09 September 2020
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN