Sinta dan Rara serta Dea berada di dalam bioskop sekarang, menikmati film horror yang sangat Sinta dan Dea sukai dari berbagai genre film yang ada di dunia. Entahlah! wanita berprestasi seperti mereka menyukai hal yang berbau horror sejak mereka masih kecil yang tidak sesuai dengan ke pribadian mereka yang terlihat diam dan cuek. Dea menikmati film yang tersaji di layar dengan antusias dan tenang.
"Ck harusnya itu setannya jangan hanya ketawa saja dan enggak muncul!" gerutu Sinta yang tidak sabaran saat melihat Film horror dan setannya jarang sekali muncul. Dea sudah hafal akan gerutuan Sinta tiap kali menonton.
"Ta, serem tahu kalau muncul! Suaranya saja sudah buat Gue ngrasa setannya ada di deket Gue." balas Rara dengan bersembunyi di balik lengan Dea, jelas tahukan bahwa Rara yang paling tidak menyukai film genre ini. Dan Rara salah jika menuruti penawaran Dea akan film yang mereka tonton.
"Lo mah penakut." ejek Sinta, Rara mendengus. Iya memang Rara penakut akan setan, di dunia ini siapa yang enggak takut sama setan coba?.
"Gue nonton satu film ini saja, entar malam Nyokap mau pergi." Sinta menaikkan satu alisnya, dengan senyum misterius khasnya Sinta berkata.
"Lo yakin berani sendiri?" tanya Sinta menggoda, Rara berdecak menatap Sinta dengan tatapan permusuhan yang kentara.
"Kalian berdua tanggung jawab." Dea mengerutkan keningnya, menatap Rara lalu mengangguk.
"Tidur di rumah Gue saja." ajak Dea tidak punya pilihan.
"Enggak ah, Om Ferdy ada di rumahkan?" Dea menaikkan satu alisnya. Ke napa sahabatnya ini selalu menolak jika Dea menyuruh Rara menginap di rumahnya.
"Lo ke napa takut banget sama Papa Gue?" tanya Dea curiga, Rara tersenyum kikuk dengan menggaruk belakang kepalanya.
"Gue pernah mecahin pot bunga Tante Tamara dan ke tahuan Om Ferdy." Rara cengengesan dengan dua jari menandakan perdamaian.
"Kapan?" tanya Sinta.
"Pas SMP, sebenarnya Gue enggak takut. Lagian Om Ferdy juga enggak marah, tapi Gue enggak enak saja sama Om Ferdy." Dea menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rara, itu sudah lama sekali dan Dia masih saja takut. Mungkin Ferdy juga sudah lupa atas ke jadian itu. Ferdy adalah Papa Dea yang paling sabar dan penyayang.
"Yah filmnya sudah kelar, Lo sih Ra ngajakin Kita ngobrol mulu!" kesal Sinta dengan decakan beruntun menatap layar lebar lalu pada Rara yang tersenyum senang. Rara melepas lengan Dea dengan senyum gaje pada Dea.
"Yaelah tinggal browsing lagi." kata Rara mencoba menghilangkan ke kesalan Sinta padanya.
"Tapi filmnya sudah enggak trend lagi." keluh Sinta dengan wajah masam.
"Sudahlah, yuk Kita makan? Gue laper." ajak Rara, mereka berdua mengangguk ke luar dari bioskop dengan candaan yang di buat oleh Rara dan Sinta. Kadang Dea berpikir bahwa ke duanya jarang sekali akur namun saling membutuhkan satu sama lain, persahabatan yang konyol dan indah bukan?.
****
Di sisi lain Dava sedang berada di lapangan basket tempat mereka latihan.
"Dav, Lo yakin enggak mau cerita begitu?" Dava mengerutkan alisnya atas pertanyaan Bintang padanya.
"Ya Dav, Lo ke napa tadi siang marah pas lihat siapa tuh namanya ya? Gue lupa." kini giliran Zack yang menambahi. Dan seolah Ia mencoba mengingat nama seseorang.
"Dea, Sinta sama Rara di deketin sama Dewa." Dava mengepalkan tangannya mengingat hal itu. Dava tidak hiraukan pertanyaan sahabatnya lalu mengecek ponselnya.
Dava menghembuskan nafas kasar saat tidak ada notif apapun dari isterinya, Dava tahu kalau Dea memang gadis yang cuek dan pendiam tapi Dia enggak ngerti kalau cueknya level akut melebihi dirinya.
Kalau Dava tidak mengingatkan Dea akan selalu menghubunginya Dea akan seperti ini, tidak mengabarinya sama sekali. Jadi Dava harus menghubungi wanita itu dulu, atau Ia sama sekali tidak tahu ke beradaan Dea saat itu.
"Dav, Lo suka di antara ke tiganya?" tanya Bintang, Dava menatap Bintang sekilas lalu menutup matanya dengan bersandar pada pohon di luar lapangan basket.
Teriknya matahari di jam setengah empat sore benar-benar nyaman untuk istirahat sejenak dari latihan basketnya kali ini. Di tambah dengan angin yang berhembus menerpa kulitnya membuat keringat yang tadi bercucuran sedikit mengering.
Bintang dan Zacky menghela nafas.
"Gue yakin Lo enggak mungkin galau karena Fani." tebak Bintang, sahabat Dava ini begitu tahu akan perjalanan cinta Dava dengan Fani. Sahabat dari oroknya hingga kini, dan Dava tidak pernah menutupinya dari Bintang selama ini. Hanya satu rahasianya yang Bintang maupun Zack tidak tahu.
"Hm." dehem Dava tanpa merubah posisinya. Matanya tetap terpejam meski ke dua sahabatnya itu terus menatapnya.
"Jadi bener Lo suka di antara ke tiganya?" heboh Bintang ingin tahu.
"Hm." Bintang dan Zacky mendekat ke arah Dava, mereka kepo maksimal.
"Dav, Lo jangan ambil inceran Gue." peringat Bintang.
"Gue juga setuju sama Bintang." tambah Zack membuat Dava membuka matanya.
"Bin, Lo juga suka di antara mereka?" tanya Zacky menatap Bintang dengan mata menyipit.
"Lah Lo juga?" Zacky mengangguk mantap.
"Kita barengan sebut nama di antara mereka." Bintang mengangguk atas usul Zacky, ke duanya bersiap untuk mengucapkan nama di antara Dea Sinta dan Rara dengan hitungan jari Bintang.
"Dea".
"Dea".
Dava benar-benar mengepalkan tangannya, mata Bintang melotot ke arah Zacky sama halnya dengan Zacky.
"Lo harus mundur!" ucap Bintang tegas pada Zack.
"Eh Lo saja yang mundur!" Zacky tidak mau kalah dengan Bintang, Ia menunjuk Bintang agar pria itu menyerah saja mendekati Dea.
"Kalian berdua yang mundur!" kepala ke duanya menoleh ke arah sumber suara yang dingin nan tidak terbantahkan. Tapi memang dasar Bintang dan Zack yang sudah mengenal Dava malah bertanya.
"Lo juga incar Dea Dav?" kaget Bintang. Di angguki oleh Zack, Dava memutar matanya malas.
"Kalian menyerah, Gue enggak akan lepasin Dea!" aura di sekitar mereka terlihat berbeda setelah ucapan Dava yang dingin.
"Kita belum bersaing, Lo enggak boleh kaya gitu Dav!" Dava menghembuskan nafas kasar atas ke ngeyelan Bintang kali ini.
"Lupakan Dea, kalian deketin sahabatnya." Bintang dan Zacky menggeleng keras, tidak terima dengan usulan Dava yang bernada perintah itu.
"Enggak bisa." kompak ke duanya.
Dava menggeplak kepala ke dua sahabatnya.
"Menurut Lo, ke napa Gue harus jadi guru privat basket seminggu lima kali? Lalu, Gue mau kalian diem tanpa bicara pada siapapun tentang pekerjaan ini." Bintang dan Zacky terbengong karena kalimat panjang Dava.
"Ke napa?" tanya Bintang setelah sadar dari ke terkejutannya.
"Buat Dea." jawab Dava jujur.
"Lah apa hubungannya sama Elo yang cari duit sama Dea coba?" tambah Zacky, Bintang menganggukkan kepalanya setuju dengan pertanyaan Zacky. Ke duanya mendekat ke arah Dava karena penasaran.
"Dav, jawab!" pinta Bintang menuntut karena Dava hanya diam dan malah menutup mata kembali.
"Kalian harus tutup mulut." ke duanya mengangguk menurut pada ucapan Dava. Selama ini jika ada rahasia di antara ke tiga selalu aman-aman saja.
"Buat apa?" Dava di buat jengkel oleh dua sahabatnya itu.
"Buat ke selamatan Dea." mereka mengerutkan dahi bingung atas jawaban Dava.
"Memang Dea ke napa?" tanya Bintang mewakili Zack yang mengangguk.
"Dia isteri Gue." jawab Dava tidak mau Dea jadi bahan perebutan dua sahabatnya, Dia percaya pada Bintang dan juga Zacky karena mereka sahabatan sejak kecil. Mereka pasti bisa jaga mulut mereka. Apalagi ini masalah privasi Dava, tidak masalah jika ke duanya mengetahuinya sekarang. Suatu saat mereka juga akan tanya dan tahu jika sekarang saja Dava sudah berani mendekati Dea secara terang-terangan di sekolah.
"Apa Lo bilang?" tanya Bintang kaget bukan main atas pernyataan Dava, begitu juga dengan Zacky yang tidak mampu untuk berkata-kata.
"Gue sudah bilang." jawab Dava acuh, Dava menyandarkan kembali punggungnya pada pohon yang menghalau cahaya matahari langsung ke kepala mereka.
"Lo sudah married? Kapan? Terus sama Dea pula, Lo enggak ngundang Kita gitu? Wah parah Lo Dav." tuh kan dari nada Bintang memang enggak ada nada marah tapi pasti enggak habis pikir sama Dava itu.
Madiun,20 Agustus 2020