Beberapa menit telah berlalu tetapi tidak ada yang memulai percakapan di antara Harum dan Mita yang kini sedang duduk saling berhadapan di sebuah tempat makan, tidak jauh dari sekolah anak-anak mereka. Hanya ada canggung. "Mita—" "Mbak—" Akhirnya mereka bersuara di waktu yang bersamaan setelah cukup lama sibuk dengan pikiran masing-masing. Sama-sama bingung dari mana harus memulai. "Silakan Mita bicara duluan," ujar Harum. "Mbak, saya minta maaf," ujar Mita Harum mengernyit. "Minta maaf? Untuk apa, Mita?" tanyanya, seharusnya ia yang minta maaf. Atau mungkin Mita minta maaf karena harus melarang ia dan Rayyan menemui suaminya? Banyak tanya yang bergelayut dalam benak harum saat ini. "Maaf karena kelalaian saya dalam kecelakaan itu. Saya benar-benar gak tau kalau suami Mbak ada di sa

