Aldrich melepaskan tangan kanannya, namun membiarkan tangan kirinya tetap memeluk Misha. Tangannya kanannya mulai meraba naik, menuju d**a Misha yang masih tertutup dengan Syal pink peach yang dikenakannya. Tangannya menyibakkan syal milik Misha, dilihatnya d**a wanita didepannya begitu mulus dan menggairahkan.
Aldrich meraba dan sedikit meremas p******a kanan Misha. p******a Misha begitu pas di tangannya, cukup besar dan kenyal saat Aldrich meremasnya. Aldrich menyusupkan tangannya kedalam gaun yang dikenakan Misha.
Misha merasakan tangan Aldrich menyentuh kulit dadanya dan meremas payudaranya pelan. Misha begitu tersentak akan perlakuan Aldrich yang tidak senonoh. Pikirannya begitu berkecambuk, tubuhnya terasa menikmati sentuhan Aldrich meski hati dan pikirannya tidak sejalan dengan tubuhnya.
Misha berusaha keras memperingatkan tubuhnya untuk memberontak, pergi dan lari dari situasi ini.
MISHA! KAMU GILA! Batin Misha memperingatkan tubuhnya. Misha menepis tangan Aldrich dan membalikan badan. Refleks tangannya menampar pipi mulus Aldrich dengan keras. Misha membenarkan syal yang dikenakannya, menutupi belahan dadanya yang terlihat.
Aldrich memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Misha. Aldrich tersenyum sinis, sorot matanya menatap kedua mata Misha yang dipenuhi amarah.
Baru pertama kali Aldrich merasakan pelukan yang begitu menggairahkan. Selama ini ia telah meniduri puluhan wanita yang dengan bahagianya membuka selangkangannya untuk Aldrich. Namun hanya dengan sebuah pelukan dengan Misha membuat tubuhnya beraksi begitu kuat mendamba.
"Punyamu begitu besar untuk ukuran seorang anak kelas 3 SMA, Nona Misha."
Misha begitu geram dengan Aldrich, Ia hendak menampar Aldrich untuk kedua kalinya, namun tangan Aldrich sudah lebih dahulu mencekalnya.
Aldrich mendorong Misha, menydutkannya ke tembok dengan keras. Aldrich masih mencekal kedua tangan Misha, tubuhnya menghimpit tubuh Misha hingga tidak ada lagi jarak diantara keduanya.
"Lepaskan aku, dasar pria m***m! Aku akan…"
Belum selesai Misha berbicara, Aldrich sudah menghujam bibir Misha dengan lumatan bibirnya. Dilumatnya, bibir Misha dengan kasar, Aldrich tidak memberi jeda untuk Misha bernafas. Bibir tipis Misha terasa manis dan begitu menggairahkan. Pikiran Aldrich sungguh tidak dapat mengontrol apa yang tubuhnya lakukan pada Misha. Tubuhnya terasa tersihir dan begitu menikmati tiap inci bagian bibir Misha.
Dihimpitnya tubuh Misha, hingga Ia merasakan pedang miliknya berhimpit dengan perut bawah Misha. ‘Adik‘ nya terbangun begitu kuat, celana dalam Calvin Klein yang dikenakannya terasa sangat sesak menghimpit membuatnya sangat ingin melepaskan semua belenggu yang menjerat ‘Adik‘ miliknya.
"Mmmppphhh…" Misha merasakan rasa manis dari bibir Aldrich. Bibir dan lidah Aldrich begitu lihai mengobrak-abrik pertahanan Misha. Tubuh Aldrich menghimpitnya begitu erat hingga Misha dapat merasakan sesuatu yang amat keras milik Aldrich menekan perut bagian bawahnya. Namun Misha tidak mau terhanyut akan keadaan.
Misha merasakan dari dalam hatinya memberontak, hatinya begitu jijik dengan tubuh Misha yang mudah menikmati sentuhan Aldrich. Akal sehat Misha memperingatkan dirinya bahwa Aldrich telah merenggut hal yang Misha selama ini telah jaga baik-baik. Ciuman pertamanya, Aldrich telah merebutnya. Ia tidak akan membiarkan Aldrich merenggut sesuatu yang lebih dari segalanya bagi Misha.
"AAKKHH" Aldrich mengaduh kesakitan, Misha mengigit bibirnya dengan keras, membuatnya harus melepas ciumannya dengan Misha. Gigitan Misha meninggalkan luka pada bibir bawahnya, Ia merasakan bibirnya sedikit berdarah karenanya.
Dengan cepat Misha mendorong tubuh Aldrich dengan sekuat tenaga dan berlari meraih gagang pintu. Untunglah kunci pintu masih melekat pada tempatnya sehingga Misha dapat dengan cepat membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut.
To be continued....
PART 6 – I HATE U BUT MY BODY WANTS YOU
Akhirnya bisa uploadd, Semoga kalian suka. Maaf part kali ini ngga terlalu panjang, soalnya aku udah masuh kuliah dan udah mulai praktikum T_T semoga besok-besok jadi bisa nulis lebih panjanggg hehehe. Makasii sudah membaca ceritakuu, jangan lupa tekan tombol love yaa, dan jangan lupa comment :))) Terimakasih semuaaa
Aldrich memacu mobil Chevrolet Camaro hitam miliknya dengan cepat, deru mobilnya menbelah jalan tol yang sedikit sepi. Jarum speedometer menunjuk angka 120 km per jam. Aldrich menumpahkan semua emosinya dengan menekan pedal gas dalam-dalam. Rengga, sekretarisnya hanya bisa pasrah, mengambil nafas dan mengehmbuskan dalam-dalam sembari tangan kirinya memegang handle di bagian atas jendela mobil.
Bisa-bisanya dirinya ditolak oleh cewek murahan seperti Misha. Rekor Aldrich yang tidak pernah menyentuh dan menjamah wanita kecuali wanita itu yang memohon dan menggoda Aldrich, kini telah dipatahkan oleh wanita bernama Misha. Sudah puluhan, bahkan ratusan wanita yang memuja-muja Aldrich, memohon padanya untuk setitik kenikmatan dari Aldrich. Namun hari ini, beberapa menit lalu, Misha telah menolaknya mentah-mentah, bahkan untuk ciuman Aldrich yang memabukkan semua wanita yang pernah merasakannya.
Harga diri Aldrich telah tercoreng, bisa-bisanya Misha menolak kenikmatan bibirnya. Bukan hanya menolaknya, Misha bahkan menggigit bibir Aldrich hingga Aldrich dapat merasakan sedikit rasa anyir darah di bibirnya. Bukan hanya bibirnya yang terasa nyeri, "miliknya" itupun terasa sangat nyeri, meraung-raung ingin bebas dari jeratan celana dalam yang Ia kenakan.
Aldrich berencana untuk melepaskan ketegangannya dengan wanita-wanita sewaannya. Dua? Tiga? Atau empat wanita yang akan Ia sewa? Tidak! Aldrich akan menyewa 10 wanita. Ya begitulah Aldrich. Ia adalah seorang pria dengan libido diambang batas kewajaran manusia. s*x merupakan makanan pokoknya. Ia tak peduli dengan wanita di bawahnya, Ia hanya peduli dengan kenikmatannya sendiri meskipun wanita di bawahnya sudah sangat meronta-ronta.
DASAR WANITA jalang! Awas saja, akan kubuat kau berlutut memohon padaku, menjadikanmu b***k yang patuh padaku, Misha Sasongko!
Aldrich mengeluarkan sumpah serapahnya untuk meluapkan semua amarahnya terhadap Misha. Jika bukan karena Misha adalah anak dari Damar Sasongko, Aldrich pasti sudah memberi pelajaran pada Misha.
"Pak, ada yang telfon tuh pak,"
Rengga bersuara dengan penuh kehalusan dan kehati-hatian, takut jika menyinggung bosnya sedikit saja maka Ia akan merasakan akibatnya.
Aldrich yang sibuk dengan sumpah serapahnya terhadap Misha baru menyadari ponselnya berdering sendari tadi. Tertera nama Rheena pada layar ponselnya. Rheena merupakan wanita yang telah menyelamatkan dan merawat Aldrich setelah kejadiaan naas kebakaran yang menimpa keluarganya 12 tahun silam.
Aldrich segera memasang AirPods nya dan menjawab panggilan itu.
"Halo Aldrich,"
"Halo Ma, ada apa?"
"Gimana? Kamu udah ketemu Damar?"
"Udah Ma. Aku udah bilang sesuai sama apa yang Mama minta,"
Aldrich memperlambat laju mobilnya. Kini sekretarisnya, Rengga dapat bernafas sedikit lega, menginggat nyawanya tadi sudah diambang kematian karena Aldrich.
"Oke. Mama percayakan semua sama kamu. Pokoknya kamu harus cepet bikin Damar hancur dan nikahi anaknya Damar sebagai tebusannya,"
Ya. Damar Sasongko adalah orang yang merencanakan pembunuhan keluarganya. Untuk saat ini hanya sejauh itu fakta yang dapat diketahui Aldrich dari Rheena, orang yang sudah dianggapnya seperti Ibu keduanya sendiri.
"Oke Ma, Aku lagi di jalan. Nanti aku telfon Mama lagi ya. Mama sehat-sehat ya di sana"
"Oke, Aldrich. Kamu hati-hati di jalan ya, jangan lupa makan. Dan jangan lupa, jangan galak-galak sama Rengga ya, kasian dia,"
"Oke Ma,"
Aldrich menatap Rengga di sebelahnya. Rengga balas menatap Aldrich dan menampakkan senyuman termanisnya pada Aldrich.
"Heh, seharusnya kamu yang jadi sopir saya. Kok saya yang jadi sopirin kamu?"
Aldrich menatap sinis Rengga.
"Lha, bapak kan yang mau nyetir sendiri pak? "
Benar juga, Aldrich yang meminta Rengga menyerahkan kunci mobil padanya. Ia ingin menumpahkan segala kekesalannya dengan memacu mobilnya dengan cepat.
"Itu artinya kamu harus belajar nyetir mobil dengan bener. Apalagi mobil saya ini mobil mahal, jadi saya kasih kamu tutorial cara nyetir yang bener tadi,"
Rengga hanya bisa menahan tawa dibalik senyumannya. Begitulah bos barunya ini, Rengga baru menjadi sekretaris Aldrich selama 2 bulan, namun sudah banyak tahu tentang kebiasaan Aldrich. Menurut Rengga, Aldrich sangat tidak mau ditentang, namun tipikal bos yang dapat dibilang perhatian dengan bawahannya, meski perhatiannya sebagian besar tidak diungkapkan secara langsung.
……………………….
Misha berlari ke kamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya. Jantungnya masih berdegup dengan cepat karena Ia berlarian menuju kamarnya. Diletakannya tangan kanannya di dadanya yang masih tertutup dengan syal pink peach yang menggantung di lehernya. Nafasnya begitu cepat dan dalam. Tubuhnya mulai bergetar. Ia tidak sanggup lagi berdiri, kedua kakinya terasa lemas.
Sayup-sayup ingatan Misha saat pria itu menciumnya kembali terngiang, menampilkan sosok pria tampan berwajah mulus yang menyentuhkan bibirnya pada bibir Misha. Bibir pria itu terasa manis, lumatannya membuat jantungnya meloncat-loncat tak karuan dan terus menginginkan lagi. Pertama kali Misha merasakan ciuman bersama seorang pria, namun……..
HAISHH! MISHAA! Ingat Misha, dia adalah Aldrich, pria m***m yang suka menciumi banyak wanita.
"Bibir selihai itu dalam mencium wanita? Bukankah pasti banyak wanita yang telah diciuminya?"
Misha bergumam pada diri sendiri. Dirinya terasa seperti terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama yaitu kubu logika, kubu yang menentang dan merutuki dirinya karena telah membiarkan pria m***m seperti Aldrich mendapatkan ciuman pertamanya. Dan kubu yang kedua adalah kubu hasrat tubuh yang begitu memuja dan terbuai akan sentuhan, lumatan, dan segala hal mengenai Aldrich.
Misha merasa begitu frustasi dengan pikirannya. Kali ini Misha lebih memilih kubu pertama yaitu kubu logika, kubu yang menentang segala hal tentang Aldrich. Misha kemudian memutuskan untuk segera mandi, membasuh seluruh tubuhnya terutama daerah yang telah disentuh oleh tangan kotor Aldrich.
Beberapa saat berlalu, Misha masih sibuk dengan ritual membersihkan tubuhnya di kamar mandi hingga terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok, tok, tok.
"Misha, kamu udah tidur? Papa mau bicara sebentar, Sha."
Suara papanya menyadarkan Misha dari segala ritual bersih-bersihnya, Ia sangat ingin mendengar penjelasan atau apapun yang Papanya ingin sampaikan padanya. Namun hati Misha masih merasa berat setelah melihat Papanya ikut andil saat mamanya menyatakan bahwa Misha bukanlah anak mereka.
"Misha lagi mandi Pah, besok pagi aja ya, Misha hari ini capek banget"
Misha mematikan shower yang sedari tadi menyiram tubuhnya.
"Oke. Besok aja papa bicaranya, kamu tidur yang nyenyak ya,"
Misha tak menjawab. Ia hanya terdiam dan memaku. Masih tidak percaya dengan hal yang Ia alami hari ini. Misha mengambil bathrobe putih yang menggantung di dekat pintu kamar mandinya. Mengenakannya dan segera melangkah keluar dari kamarmandi berubin hijau muda. Misha sungguh sangat lelah, hari ini, ia hanya ingin melupakan semua yang terjadi hari ini. Misha melemparkan tubuhnya yang masih berbalut bathrobe ke kasur king size di kamarnya. Matanya sangat lelah, perlahan Ia mulai memejamkan matanya, membawa jiwanya menuju alam mimpi yang indah dimana tidak ada seorangpun mengusiknya.
To be continued........