*** Vivian meringis melihat luka di sudut bibir Teo akibat pukulan keras Dafa. "Masih sakit?" tanyanya khawatir. Vivian merasa bersalah karena melibatkan Teo dalam masalahnya. "Tidak apa-apa, ini baik-baik saja," Teo mengedikan bahunya. Teo menatap Vivian, ada yang ingin ia tertawakan. "Pahlawanku," gelaknya. Teo ingat bagaimana Vivian membelanya. Padahal, selama ini gadis berparas cantik itu selalu saja menindasnya. "Teo!" seru Vivian tak suka. Bagaimana mungkin Teo mengoloknya? Padahal tadi dirinya benar-benar khawatir saat Dafa melampiaskan emosinya. "Ngomong-ngomong rencana kita berhasil!" pekik Vivian kesenangan. Teo menganguk-anggukan kepalanya. Ia bersedekap seraya meninggikan dagunya. "Kamu benar, Vi. Dafa benar-benar marah," sahut Teo setuju. "Kasihan," kekeh Vivian. "P

