*** Sedikit keras kepala, Vivian tak kunjung menghentikan laju airmatanya meskipun rumah yang mereka tuju sudah di depan mata. Arfa menggelengkan kepalanya melihat itu. Ia tak lagi melarang, justru bersyukur karena Vivian bersedia menunjukan kelemahan padanya. “Masih mau nangis, Vi? Rumah kami di depan sana,” intrupsi Arfa saat Vivian sedang mengusap airmatanya. Vivian mengangguk berulang kali. “Biar kamu dapat pertanyaan ini dan itu dari Manda!” ujarnya di tengah isakan tangisnya. Kali ini Arfa terkekeh. Tak hanya pertanyaan yang akan ia dapatkan, tetapi juga tatapan tajam penuh ancaman. Asal Vivian tahu saja, setiap kali sehabis bertukar kabar dengannya, Manda pasti berkeluh kesah pada Arfa dan selalu menyalahkannya atas sikap kasar Dafa. Padahal,dulu mereka sangat dekat. Kini, Ma

