Haura Pov
Gila nyesel gue malah milih dare, kalo ternyata tantangannya itu malah harus nelfon dia. Mau ngomong apa coba gue nanti. Hugh, dasar sepupu laknat emang.
"Eh apa gak ada tantangan lain apa? Masa iya gue harus telfon dia sih? Lagian gue kan lagi dipingit, gak boleh berinteraksi sama dia."gue beralasan biar tuh para sepupu gak maksa-maksa.
"Ya gak apa-apa lah toh Wa Erin juga gak tau kan? Udah buruan telfon Aa Agamnya!"Rifa yang malah lebih semangat.
"Ish, terus nanti gue harus ngomong apa coba?"gue menatap panik pada ketiga sepupu gue.
"Ya ngomong apa ajalah bebas, dan waktunya 5 menit oke?"Ardi emang super nyebelin jadi sepupu.
"Lama amat, 1 menit aja udah. Ntar kelamaan malah ketauan mami lagi ah!"tolak gue langsung, enak aja 5 menit ngobrol apaan coba sama dia.
Akhirnya dengan malas, gue pun langsung menghubungi no kontak Agam di hp milik Rafi, ya memang mereka semua sudah berkenalan dengan Agam jadinya mereka punya no kontak Agam.
Di dering pertama langsung tersambung, tapi bukan dia yang angkat.
"Halo, a Rafi ya? Maaf a, bang Agam nya lagi ga boleh pegang hp. Jadi, hp nya Anggi yang pegang."jelas Anggia langsung dengan jelas. Langsung aja gue kasih hp nya ke Rafi, biar dia sendiri yang ngomong.
"Eh, de Anggi. Emm, tapi a Rafi ada yang mau di bicarain penting nih sama bang Agam. Boleh ya, kalo hp nya bentar dikasiin ke bang Agam dulu."rayu Rafi dengan suara yang dibuat super lembut. Heran, sejak kapan Rafi deket sama adeknya Agam. Hem, mencurigakan.
"Oh gitu, yaudah bentar ya A. Anggi ke kamar bang Agam dulu."dan kayaknya Anggia langsung pergi nemuin abangnya deh, duh gue harus ngomong apa nih.
"Bang, nih ada telfon dari a Rafi. Katanya penting."terdengar suara Anggi yang mungkin sudah bersama Agam.
"Oke, makasih ya dek. Nanti abang panggil lagi kalo udah."gue makin panik setelah mendengar suara Agam yang sudah menerima hp miliknya. Dan yang bikin kesel, para sepupu gue malah senyum-senyum gak jelas.
Haura pov and
"Halo, Raf kenapa?"tanya Agam di seberang sana.
deg
"Kenapa jantung gue jadi berdebar gini ya, padahal cuman denger suaranya aja."gumam Haura dalam hati gusar.
"Buruan ngomong!"bisik Rafi yang hanya dibalas pelototan oleh Haura.
"Halo Raf?"panggil Agam lagi.
"Eh, ha halo. Ini gue, Haura."akhirnya dengan menahan rasa gugup Haura pun bersuara.
Hening.
"Hallo, lo masih di sana kan?"tanya Haura memecah keheningan di antara mereka.
Lah kenapa dia malah diem ya. Kan malah bikin bingung.
"Eh, iya gue masih di sini kok. Emm, ada apa nih? Tadi adek gue bilang yang nelfon Rafi, kok jadi elo?"
"Ah, iiya emang ini pake hp si Rafi. Emm, lo.. lo lagi apa?"Haura semakin merasa gugup.
"Ish basi banget ya pertanyaan gue!"gerutu Haura dalam hati.
"Gue lagi diem aja sih, lo sendiri?"
"Gue lagi kumpul aja sih sama sepupu. Emm, yaudah ya gue tutup telfonnya."
"Eh, eh tunggu!"panggilan dari Agam mengurungkan niat Haura untuk mematikan sambuntan telfonnya.
"Ya kenapa?"
"Emm, lo sehat kan?"tanya Agam lirih.
"Lah napa jadi pertanyaan itu yang keluar?"rutuk Agam dalam hati.
"Sehat sehat kok gue! Yaudah ya, gue tutup telfonnya. Bye!"Haura pun dengan cepat mematikan sambungan telfonnya. Bertepatan dengan pecahnya tawa dari ketiga sepupunya.
"Puas kalian! Hugh nyebelin banget ya kalian!"Haura melipat kedua tangannya di depan d**a sembari menatap ketiga sepupunya dengan tatapan kesal.
"Haha, kalian tuh tadi ngobrol apa chattingan? Singkat banget tau gak?"ledek Ardi setelah meredakan tawanya.
"Tau ah, awas aja kalo kalian ngadu sama mami. Gue gak akan mau main lagi ama kalian!"ancam Haura yang masih merasa kesal.
"Anak-anak ayo masuk, kita makan siang dulu!"teriak mami Erin, membuat para saudara sepupu itu menoleh pada sumber suara. Lantas mereka pun segera berdiri dan berjalan bersama-sama masuk ke dalam rumah untuk makan siang bersama-sama.
Sedangkan di kamar milik seorang pemuda yang bernuansa abu-abu putih, sang pemilik kamar masih menatap layar hp miliknya yang baru saja menampilkan berakhirnya sebuah panggilan telfon.
"Gue gak lagi mimpi kan? Barusan dia bener-bener nelfon gue?"gumam Agam lirih dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Rasanya kok seseneng ini ya, padahal cuman denger suaranya aja."sambungnya.
"Bang, kenapa senyum-senyum gitu ih? Mana sini balikin hp nya keburu mama tau loh!"Anggia tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Agam.
"Ish, ya jangan bilang-bilang lah. Nih, awas jangan dimainin loh hp abang! Kalo ada temen-temen abang yang nelfon gak usah diangkat!"ultimatum Agam pada adiknya seraya memberikan hp miliknya ke tangan adiknya.
"Iya abang, yaudah tuh di suruh turun sama mama. Kita makan siang!"setelah itu Anggia pun keluar lebih dulu dari kamar Agam.
^^^^
Haura kini tengah berada di dalam kamarnya, waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Haura tengah memikirkan ketiga sahabatnya, bila saja sahabat-sahabatnya itu ada bersamanya mungkin kini dirinya sudah menceritakan semua uneg-uneg di dalam hatinya. Bahkan dirinya belum sempat memberitahukan kabar pernikahannya itu kepada sahabat-sahabatnya.
Karna hp miliknya masih disita oleh sang mami, sedangkan laptop pun tak diberi akses wifi. Padahal dirinya ingin sekali menghubungi ketiga sahabatnya itu.
"Dek, ngapain?"suara Yogi seketika membuyarkan lamunan Haura.
"Kakaaakk!"teriak Haura langsung berlari dan memeluk sang kakak yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Duu duu, pelan-pelan dong de."ujar Yogi sembari menahan tubuh Haura yang baru saja menubruknya cukup keras.
"Kenapa sih? Mukanya kok bete gini,"Yogi merapikan helaian rambut tipis yang menutupi kening Haura dengan lembut.
"Ya bete lah, Haura kan pengen telfon sahabat-sahabat Haura. Tapi, mami malah sita hp Haura."adu Haura dengan manja.
"Oh kirain kenapa."Yogi melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ranjang Haura. "Sini duduk deket kakak!"Yogi menepuk kasur di sebelah dirinya, Haura dengan patuh menuruti permintaan kakaknya itu.
"Emang mau apa sih telfonan sama sahabat-sahabat kamu itu?"tanya Yogi setelah Haura duduk di sebelahnya.
"Ya Haura mau cerita lah sama mereka, kalau Haura mau nikah."
"Lah, emang mereka belum ada yang tau?"Haura menggelengkan kepalanya lesu.
"Heumm yaudah, nih kakak pinjemin. Tapi, jangan lama-lama ya. Soalnya kakak juga mau telfon kak Linda."Yogi menyodorkan hp miliknya pada Haura.
"Wahhh makasih kakakku tersayang! Jadi makin sayang deh sama kakak."Haura menerima hp dan langsung memeluk sang kakak dengan erat.
"Iya iya, yaudah kakak mau mandi dulu. Setelah beres kakak mandi, berarti waktu telfonan kamu juga udahan oke!"
"Siap. Makasih ya kak!"Yogi mengelus kepala Haura dengan lembut sebelum keluar dari kamar Haura.
Setelah sang kakak keluar dari kamarnya, Haura lantas segera menghubungkan panggilan pada Junita. Tak lama panggilannya pun tersambung.
"Jujuuunnn..."teriak Haura dengan hebohnya.
"Heh, enak aja panggil gue Jujun! Nama bagus juga malah diganti-ganti gitu!"gerutu Junita sebal.
"Haha, ya maaf. Eh gue kangen tau gak! Lo betah amat sih liburan di sana!"
"Ya jelas lah, siapa yang gak betah kalo segala fasilitas dan kebutuhan gue selama di sini ditanggung sama sepupu gue. Haha"
"Ish dasar lo ya, paling demen emang sama yang namanya gratisan! Terus itu si Lita sama Gina masih di sana juga?"
"Iyaa mereka juga masih di sini, sebenernya sih rombongan rt nya udah pada pulang. Cuman mereka sama keluarga mereka aja yang masih nerusin liburan di sini."
"Heumm enaknya jadi kalian. Gue juga pengen liburaann."
"Kenapa lo gak nyusul aja sih ke sini? Oya hp lo kenapa gak aktif mulu sih? Padahal dari kemarin-kemarin loh kita ngehubungin lo,"
"Iya, hp gue di sita sama kanjeng mami!"
"Lah kenapa? Emang lo bikin kesalahan apa? Sampe-sampe hp lo disita gitu?"
"Gue gak bikin salah apa-apa kok. Cuman..."
"Cuman kenapa?"tanya Junita penasaran.
"Gue lagi dipingit."jawab Haura singkat.
Hening
"Haha, apaan dipingit? Kayak lo mau nikah aja tau gak?"Junita malah tertawa karna tak percaya dengan ucapan dari sahabatnya itu.