Aku Kamu

1122 Kata
Haura Pov Sah. Gue gak salah denger kan, sekarang gue resmi jadi istrinya dia. Tunggu gue harus panggil apa coba sama dia, apa gue panggil Abang aja sama kayak adiknya manggil dia. Atau Aa mungkin, ih tapi geli juga kalo gue manggil dia kayak gitu. Ah tau lah, yang jelas yang udah pasti sekarang status gue adalah seorang istri. "Woy, Hau lo kenapa malah ngelamun sih? Buruan, lo udah dipanggil itu buat ke ruangan lakik lo!"teriak Junita membuyarkan lamunan gue. "Eh? Iya iya, eh make up gue masih oke kan?"tanya gue asal karna gugup. "Iya masih oke, kok! Yuk ah!"akhirnya Junita, Gina sama Lita nuntun gue jalan menuju ruangan di mana tadi dia ngucapin ijab qabul. Jantung gue rasanya bener-bener udah kayak drum yang lagi dipake ngeband. Kayaknya kalo dipakein mic bakalan kedengeran nih sama orang-orang. Ah, gue harus tenang ini. Oke, relaks ya Haura! Haura pov and Akhirnya, Haura bersama ketiga sahabatnya tiba di ruangan akad. Haura disambut oleh mami Erin dan bunda Niken, mengapitnya berjalan menuju Agam yang tengah berdiri di tempatnya tadi dia mengucapkan ijab qabul. Agam terlihat sangat terpesona melihat Haura yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Meski dengan menundukkan kepala, tetapi kecantikan Haura masih terlihat jelas membuat Agam tak ingin mengalihkan pandangannya. Hingga akhirnya Haura tiba di depan Agam, bersiap untuk menandatangani buku nikah milik mereka berdua. Setelah selesai dengan semua berkas-berkas yang mereka tanda tangani, kini waktunya Haura mencium tangan Agam. Pertama kali untuknya mencium tangan seorang pria selain Papi Erick dan kakaknya Yogi, cukup membuatnya semakin berdebar juga tangannya yang mendadak bergetar. Apalagi saat Agam membalasnya dengan mencium keningnya dengan lembut. Rasanya sangat hangat juga menenangkan. Setelah selesai dengan semua prosesi akad, dengan menandatangani berkas-berkas juga acara sungkeman kepada kedua orangtua masing-masing, kini dilanjutkan dengan acara foto-foto bersama juga para tamu undangan yang kebanyakan hanya dihadiri oleh keluarga juga kerabat dekat saja. Karna sebagian akan datang saat acara resepsi yang akan diselenggarakan sore hari. Kini Haura dan Agam sudah duduk di kursi pelaminan, setelah tadi mereka berfoto bersama seluruh keluarga besar juga para sahabat. Untung saja para tamu undangan di acara akad tidaklah terlalu banyak, jadinya Haura tak perlu berdiri lama-lama. "Kamu lapar?"tanya Agam saat setelah beberapa menit mereka duduk. Mendengar ucapan Agam yang menggunakan kata 'Kamu', tentu membuat Haura bingung namun juga merasa senang. Bukannya menjawab, dirinya tanpa sadar malah senyum-senyum. Agam pun bingung sendiri melihat istrinya itu malah senyum-senyum sendiri. "Hey, kamu kenapa?"Agam mengibaskan sebelah tangannya di hadapan wajah Haura. Sontak hal itu membuat Haura terkejut. "Eh, i iya kenapa?"tanya Haura kaget bercampur gugup. "Kamu kenapa senyum-senyum gitu? Lagi bayangin apa hayo?"goda Agam membuat pipi Haura memerah karna malu. "Ish apaan? Gu.. a aku gak mikirin apa-apa kok."Haura semakin gugup, ditambah dirinya yang kelepasan mengucapkan kata 'Aku', padahal sebelumnya tak berniat untuk bicara seperti itu. Agam pun tersenyum tipis mendengar ucapan Haura yang juga mengikuti dirinya, mengganti kata 'gue elo' dengan 'aku kamu'. "Kamu laper gak? Mau aku bawain makanan?"ulang Agam. "Boleh boleh, aku emang sedikit laper sih."jawab Haura dengan cepat. Yang sebenarnya Haura hanya ingin menenangkan hatinya sebentar saja. Dengan tak terus-terusan berada dekat dengan Agam. "Oke. Mau apa?" "Eumm apa aja deh, asal jangan nasi ya. Maaf loh ngerepotin." "Gak apa-apa."Agam pun segera beranjak menuju tempat makanan. Setelah Agam pergi, Haura pun merasa lega setidaknya walaupun hanya sebentar dirinya dapat menenangkan diri. "Bisa beneran sakit jantung nih kalo gini terus. Hugh, padahal setelah ini gue pasti bakalan deket dia terus. Tapi, sampai saat ini gue masih aja berdebar gini kalo deket sama dia. Apa gue udah bener-bener jatuh cinta ya sama dia?"gumam Haura dalam hati, sembari tatapannya tak lepas dari sosok Agam yang kini sedang berdiri di depan stand somay. "Apa gue bisa ya jadi istri yang baik buat dia? Apa dia juga bakalan cinta sama gue? Secara kita nikah karna perjodohan, bahkan sebelumnya belum pernah bertemu. Eh, waktu kecil sih. Tapi, itu pasti beda kan rasanya."sambungnya lagi, yang kini memilih untuk menundukkan kepalanya. "Nih makan dulu!"sepiring somay yang disodorkan Agam membuat Haura kembali mengangkat kepalanya, dengan sigap langsung menerima piring somay yang diberikan suaminya. "Makasih."ucap Haura tersenyum, yang dibalas dengan anggukan oleh Agam. Haura pun memakan somay nya dengan lahap, hingga tak menyadari sejak tadi Agam yang duduk di sampingnya memperhatikannya dengan intens sembari tersenyum tipis. Saat somay nya tinggal satu suap, Haura mulai tersadar dengan keberadaan suaminya. Haura pun menoleh dan menatap wajah Agam yang sejak tadi terus memperhatikannya. Ditatap seperti itu tentu membuat Haura menjadi salah tingkah. "Sorry, gak nawarin. Aku lupa,"ucap Haura tersenyum kaku. "Gak apa-apa. Ini masih ada kan, aku makan ya?"tanpa menunggu jawaban dari Haura, Agam langsung mengambil sendok yang sudah berisi somay dari tangan Haura. Agam pun memakan somay terakhir itu sembari menatap Haura dengan senyuman yang membuat Haura gagal fokus. "Enak ya, pantes kamu sampe lupa nawarin suaminya."sindir Agam, sukses membuat kesadaran Haura kembali setelah tadi sempat bengong karna melihat senyuman Agam. "Eh? I Iya somay nya enak. Tapi, tapi itu sendoknya bekas aku loh,"ujar Haura merasa kikuk, karna tak terbiasa melakukan hal seperti itu. Biasanya dirinya tak pernah mau berbagi makanan dengan cara seperti itu, karna menurutnya itu adalah hal yang cukup jorok. "Kenapa? Gak apa-apa kan? Kamu gak sakit kan?" "Ah, ya enggak. Cuman kan itu jorok,"ucap Haura lirih. "Gak apa-apa, toh bekas istri aku sendiri kan?"ujar Agam santai. Disebut dengan panggilan 'istriku' membuat Haura kembali merasakan debaran yang dahsyat di jantungnya. Dan pasti kedua pipinya kini telah memerah, membuat Haura buru-buru memalingkan wajahnya menghindari bertatapan dengan Agam. "Melayang gue, disebut istri."ujarnya dalam hati sembari memegang kedua pipinya, menutupi rona merah yang mungkin akan sangat terlihat aneh karna bercampur dengan make up. ~~~ Akhirnya setelah dari pagi hingga menjelang malam, rangkaian acara pernikahan Haura dan Agam pun telah selesai dengan lancar. Para keluarga yang memang tinggal di luar kota, memilih untuk menginap di hotel tempat acara tadi dilangsungkan. Begitu juga dengan para sahabat Haura dan Agam, mereka pun memilih menginap di sana. Kapan lagi kan mendapatkan fasilitas hotel mewah secara gratisan. Haura dan Agam pun kini sudah berada di dalam kamarnya. Dengan perasaan yang sama-sama canggung juga gugup. Padahal sebelum masuk kamar, Agam sendiri terlihat sangat santai juga tenang, tapi setelah masuk kamar dan hanya ada mereka berdua di dalam kamar malah membuatnya merasa gugup. "Kamu mandi duluan aja, biar cepet ganti baju. Kayaknya bajunya berat tuh,"ujar Agam melihat Haura yang sudah merasa tak nyaman karna gaun yang dipakainya memang agak berat. "Oke."tanpa berkata apa-apa lagi, Haura pun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Agam, memilih untuk melepas jasnya dan duduk di sofa sembari meluruskan kedua kakinya. Tentu acara pernikahannya itu membuat dirinya sangat lelah, meski hanya berdiam diri di atas pelaminan. Tetapi dengan keadaan yang mengharuskan dirinya berdiri dalam waktu yang agak lama, tentu lah itu yang membuatnya lelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN