Dendam dimulai

1047 Kata
*** Dua hari berlalu. Ayu belum ditemukan keberadaannya. Aldo dan Dewi sangat cemas. Sementara Juragan Tono sudah sangat marah. Sri yang bahagia, merasa ia telah memenangkan permainan. "Dasar tidak berguna kalian semua! Mencari satu perempuan saja tidak becus!" bentak Juragan Tono pada anak buahnya, serta buruh pabrik. Tidak ada yang berani membuka suara. Semua hanya menunduk, mendengarkan kemarahan Juragan Tono. Ketika Juragan Tono masih mencaci maki seluruh anak buahnya, tiba-tiba Ayu datang dengan berlari seperti orang ketakutan. "Juragan!" teriak Ayu memanggil Juragan Tono. Semua yang ada di sana sontak terkejut melihat Ayu sudah kembali. Sri melotot tak percaya, bagaimana bisa Ayu kembali lagi. "Ayu! Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat berantakan seperti ini?" tanya Juragan Tono dengan amarah yang mulai mereda. "Sa--saya diculik, Juragan," sahut Ayu. Aldo yang mendengar jawaban Ayu itu, merasa sangat khawatir. Ia berpikir, bagaimana jika penculik itu sudah menyakiti Ayu. "Apa? siapa orang yang telah berani berbuat lancang terhadap calon istri saya ini?" Juragan Tono pun terkejut, hingga kemarahannya menjadi berlipat ganda. "Saya tidak tahu, Juragan. Orang itu bertopeng, dia tidak mau menunjukkan wajahnya!" papar Ayu. "Lalu bagaimana caramu bisa lolos?" tanya Juragan Tono lagi. "Saya pura-pura ingin buang air. Dari situlah saya berhasil kabur," jelas Ayu. "Biadab! Cari informasi tentang orang itu!" perintah Juragan Tono pada anak buahnya. "Siap, Juragan!" sahut tiga sekelompok itu bersamaan. Wajah Sri berubah menjadi pucat, ia takut jika Tole, Joko, dan Dodo berhasil menemukan Si penculik itu. Maka ia pun pasti terkena masalah. "Bersihkan dirimu, dan beristirahatlah! Sementara pesta pernikahan ditunda sampai saya berhasil menemukan penculik biadab itu," papar Juragan Tono. Ayu pun menurut, dan segera masuk ke dalam kamar istimewanya. *** Hari semakin gelap, tiga sekelompok itu tidak berhasil menemukan informasi apa pun. Sri tersenyum lega. Ia berharap Sarif dan Sarmin tidak ketahuan. "Lapor, Juragan! Kami tidak mendapatkan jejak dari penculik," ujar Tole. "Benar, Juragan. Sepertinya penculikan itu sudah direncanakan dengan matang, hingga tidak meninggalkan jejak," sambung Joko dan dibenarkan oleh Dodo. "Dasar payah!" bentak Juragan Tono sembari melayangkan satu cambukan kepada tiga sekelompok itu. Mereka bertiga pun meringis kesakitan. Juragan Tono sangat murka. Ia bepikir akan menghabisi siapa pun peculik itu. Sementara Ayu merasa senang. Rencana awalnya telah berhasil. *** Hari yang telah gelap membuat Ayu bersemangat menjalankan pembalasan dendam selanjutnya. Ayu mengendap-ngendap mengintai keberadaan Sri. Ternyata Sri sedang duduk bersantai sambil menikmati ubi rebus di depannya. Ayu melemparkan sebuah kertas ke arah Sri, kemudian Ayu segera bersembunyi. "Kertas apa ini? Siapa yang sudah berani melemparnya masuk ke sini?" tanya Sri dalam hati. Sri pun mengambil kertas itu, dan segera membukanya! Saya melihat kau yang telah merencanakan penculikan Ayu. Jika ingin rahasiamu aman temui saya jam 12 malam nanti. Sri syok membaca isi dari kertas itu, ia langsung merobek-robeknya. Wajah Sri sangat ketakutan. Keringat dingin di keningnya mulai bercucuran. "b******n! Siapa yang berani mengancamku," gumam Sri. Ayu yang menyaksikan ketakutan Sri, merasa cukup puas. Ayu pun kembali ke kamarnya sembari menyiapkan rencana lagi untuk memberi pelajaran pada Sri. Waktu yang ditunggu telah tiba. Tepat jam 12 malam Sri sudah berada di bawah pohon rimbun itu. Sri celingak-celinguk mencari keberadaan orang yang telah mengancamnya. Ayu yang sedari tadi memperhatikan Sri, mulai menjalankan aksinya. Ayu berjalan pelan ke arah Sri. Melihat reaksi Sri yang terkejut, membuat Ayu tambah bersemangat. "Bu Juragan! Sedang apa di sini?" tanya Ayu. "Sa--saya ... kamu juga ngapain?" Sri mengalihkan pertanyaan Ayu. "Saya mendapatkan informasi dari selembar kertas, katanya jika ingin mengetahui siapa yang berniat buruk pada saya kemarin, makan saya harus datang ke sini tepat jam 12 malam," papar Ayu dengan tenang. Sri menjadi gelabakan mendengar ucapan Ayu. Wajah liciknya terlihat ciut saat ini. "Sebaiknya kamu kembali tidur, di sini akan sangat berbahaya. Bisa saja itu adalah akal-akalan dari Si pelaku untuk menculikmu lagi," ujar Sri dengan gugup. "Betul juga. Baiklah, saya permisi!" sahut Ayu sembari kembali menuju gubuknya. Sri merasa telah dipermainkan oleh si pengirim surat ancaman. Ia kembali dengan perasaan gelisah. "Keterlaluan! Orang ini benar-benar meresahkan aku. Jangan sampai Mas Tono mendapatkan kertas berisi ancaman itu juga. Bisa celaka aku," gerutu Sri sambil berjalan. Ayu yang kembali menuju gubuk istimewanya melihat Aldo sudah menunggu di depan pintu. "Dari mana?" tanya Aldo curiga. "Menemui pohon besar itu," sahut Ayu. "Oh! Kamu belum menceritakan pada saya tentang penculikan kemarin," ujar Aldo penasaran. "Nanti saya akan ceritakan. Saya sangat lelah sekarang. Biarkan saya beristirahat!" Ayu berlalu masuk ke dalam dan segera mengunci pintu. Aldo mengerti jika Ayu merasa lelah, dan belum ingin berbagi. Namun, Aldo tidak akan tinggal diam saja jika sesuatu terjadi lagi pada Ayu. Aldo kembali ke gubuknya. Seketika ia merasa senang, saat melihat ponselnya sudah mendapati signal walau tidak stabil. Pesan yang dikirim pada Danu tempo hari sudah mendapat balasan. [Saya sudah mengeceknya Tuan muda. Saya sangat mencemaskan keselamatan Tuan muda. Desa itu sungguh berbahaya.] pesan dari Danu. Aldo membalas dengan cepat. [Saya baik-baik saja. Saya tidak akan pulang sebelum meluluhkan hati seorang gadis misterius di desa ini.] [Sepertinya Tuan muda sedang jatuh cinta pada gadis malang itu!] pesan Danu lagi. Aldo hendak membalas namun, jaringan ponselnya hilang kembali. "Menyebalkan sekali tinggal di desa. Jangankan membuka sosial media, mengirim pesan saja selalu tertunda," gumam Aldo. *** Pagi ini para buruh mulai kembali bekerja. Ayu yang sudah tidak diperbolehkan lagi mencongkel kelapa, membuatnya bosan karena hanya berdiam diri saja. Ayu menghampiri Dewi. Ia sadar temannya itu telah berkorban banyak untuknya. Dewi sudah sering menerima hukuman saat mencoba membela Ayu. Namun, Ayu tetap mengabaikannya. Ayu tidak ingin Dewi terkena masalah lebih banyak lagi jika terlalu dekat dengannya saat itu. Dewi yang menyadari kedatangan Ayu, ia pun tersenyum. Ayu duduk dengan bebas di sebelah Dewi. "Penculik itu tidak melukaimu kan?" tanya Dewi penuh kecemasan. Ayu menggeleng denga cepat. Dewi pun tersenyum lega. Aldo hanya memandang dari jarak yang tidak terlalu jauh. Hatinya sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran yang setimpal pada Juragan Tono beserta anak buahnya. Jika semua masalah ini diusut, maka Ayu juga bisa di bawa ke kota untuk turut hidup bersamanya. "Aldo akan membawa calon menantu untuk Mama sebentar lagi," batin Aldo sambil senyum-senyum sendiri. Tole yang melihat Aldo sedang melamun, segera menghampirinya. "Danu! Kerja yang benar, pagi-pagi malah melamun!" bentak Tole. Aldo seorang pengusaha sukses di kota, merasa sangat terhina saat berada di desa. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya. "Awas kau gendut, akan ku balas nanti!" gerutu Aldo dalam hati. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN