Dalam beberapa menit, Zee tiba di rumah sakit. Ia seperti orang linglung di sana. Menuju meja perawat yang berjaga untuk bertanya. "Yq, Mbak?" tanya salah satu perawat dari lima orang lainnya. "Korban kecelakaan beberapa menit lalu yang mau diotopsi gimana?" "Ha?" Perawatnya kebingungan. "Gue nanya, Korban kecelakaan yang dibawa ke sini untuk diotopsi gimana? Udah selesai atau masih dalam masa–" "Aduh, Mbak. Mbaknya tenang dulu. Duduk santai." "Lo bilang ke gue santai? Lo kata gue ini lagi nonton bioskop?" Seorang perawat lain mengambil alih pembicaraan. "Mbak. Korban kecelakaan itu masih di ruang otopsi. Mbak bisa duduk untuk menunggu hasil. Maafkan teman saya ini, ya. Dia baru." "Kalau baru kenapa gak dibimbing?" Zee emosi. Masih sempat-sempatnya orang-orang membuatnya emosi

