"Nak Sraya!" Ibu Ayu memanggil dalam intonasi suara yang cukup keras dari dalam mobil mewah beliau tengah berada.
Kemudian, Ibu Ayu cepat membuka pintu. Lantas, keluar. Tentu, dengan tujuan hendak menghampiri calon istri putra tunggal kesayangan beliau yang tengah berdiri empat meter di depan. Senyuman hangat tercetak lebar di wajah Ibu Ayu, jelas menunjukkan kebahagiaan beliau.
"Datang dari mana, Nak? Dari rumah? Atau baru menghadiri suatu acara? Pakaianmu rapi sekali, Sraya. Kamu terlihat cantik juga."
"Hallo, Tante. Hm, kenapa Tante ada di sini? Ah, maksud saya, dari mana Tante tahu kantor saya. Arnawa yang memberitahukan Tante alamatnya, ya? Benar bukan?"
"Maaf kalau saya bertanya banyak, Tante. Tapi, makasih untuk pujian yang Tante telah bilang tadi kepada saya, ya. Saya hargai dan Saya malah senang dipuji oleh Tante."
Tawa Ibu Ayu terlolos karena beliau malah diberi pertanyaan balik, tidak mendapatkan balasan atas apa yang beliau melontarkan beberapa menit lalu. Kemudian, Ibu Ayu menganggukkan kepala, bagian dari respons beliau. Senyuman di wajah masih sama.
"Iya, Nak. Tante diberi tahu oleh Arnawa kalau kantormu di sini. Jadi, Tante singgah saja kemari disaat waktu Tante luang. Tante boleh menemui di sini? Apa Tante ganggu?"
Sraya menggeleng segera. Senyuman kian dilebarkan. "Nggak, Tante. Aku malahan senang Tante ke sini untuk menemuiku."
"Aku jadi ada teman. Makasih, Tante. Aku nggak merasa kesepian bersama Tante."
"Datang dari mana tadi, Nak Sraya? Dari rumah atau toko-toko oleh punyamu?" Ibu Ayu bertanya ulang dalam nada ramah.
Anggukan cepat kembali ditunjukkan oleh Sraya. "Iya, Tante. Benar," jawabnya ramah.
"Saya baru datang dari lima toko tadi. Jarak dari satu toko ke yang lain lumayan jauh. Jadi, saya pergi lama," jelasnya dengan suara yang kian sopan. Senyum terus dilebarkan.
Sudah hampir empat tahun sekitar sepuluh toko oleh-oleh khas Bali warisan yang milik orangtuanya kini ia dikelola, hasil begitu memuaskan berhasil digapainya. Sraya memang memiliki bakat dan kecakapan dalam bidang bisnis. Tentu, semua didapat dengan kerja keras tiada henti setiap hari.
Sraya mampu membangun delapan tempat baru lagi pusat oleh-oleh yang berlantai dua. Omset diperoleh setiap bulan mencapai milyaran. Sraya tidak kekurangan uang. Ia hidup mapan dan bergelimang materi, tetapi tak membuatnya berfoya-foya, pengeluaran diatur sekelat mungkin. Hidup hemat pun tidak jadi masalah. Daripada harus boros, walau memiliki banyak uang dan tabungan.
Dari pagi, tepatnya pukul delapan. Sraya sudah mulai mendatangi toko-toko oleh khas Bali miliknya yang berada di areal Kuta dan Jimbaran, bagian dari rutinnya pengecekan wajib yang dilakukan satu minggu sekali.
"Rajin sekali Nak Sraya mengontrol dan lihat toko-toko, ya. Mama sangatlah suka dengan wanita-wanita yang berkarier dan selalu saja bertanggung jawab dengan bisnisnya."
Sraya pun sontak saja membelalakan mata, menyadari jika terselip panggilan di dalam kalimat-kalimat ibu kandung Arnawa itu yang sangat asing serta aneh untuk dirinya dengar. Bahkan, membuat Sraya seketika sukses menjadi kikuk. Tak tahu harus beri jawaban seperti apa yang baik dan sopan.
"Mama?" Spontan terlolos balasan demikian dari mulut wanita itu, dalam intonasi suara yang cukup kecil. Ada keraguan pula.
"Hahaha. Kenapa, Nak Sraya? Apakah tidak boleh sebutkan 'Mama'? Saya sudah anggap Nak Sraya sendiri sebagai anak Mama. Lebih tepatnya, calon menantu. Calon istri putra tunggal yang paling saya sayangi. Jadi, tidak masalah Nak Sraya saya anggap putri saya."
Sepasang mata Sraya segera menunjukkan reaksi, yakni semakin dibulatkan. Sungguh, tak mampu dipercayai jawaban dilontarkan oleh Ibu Ayu baru saja. Tubuhnya pun ikut tiba-tiba merasa kaku. Begitu juga dengan mulut yang ditutup rapat dan lidah turut menjadi tiba-tiba kelu. Ia sulit berujar.
Rangkaian kata untuk menjawab belum bisa disusunnya. Kemampuan berpikir seketika lenyap. Sraya benar-benar blank. Hanyalah perasaan haru yang menyelimuti dirinya
"Ada apa, Nak Sraya? Mama salah bicara, ya? Kalau memang begitu, Mama minta maaf."
Kali ini, Sraya pun merespons dengan cepat. Memerlihatkan gelengan kepala, dua kali saja. Kemudian, kedua sudut bibir ditarik ke atas guna membentuk senyum yang kian lebar lagi. "Hmm, nggak ada apa-apa, Tante," jawab Sraya dalam suara lembut, meski kurang bisa nyaman.
"Tante juga nggak harus minta maaf. Tante jangan merasa nggak enak sama saya."
Lantas, kekagetan melingkupinya, yakni pasca menerima pelukan secara tiba-tiba dari Ibu Ayu. Yang ia bisa lakukan hanya diam mematung. Melepaskan tidak mungkin rasanya dilakukan, pasti tak akan terlihat sopan. Sraya memutuskan untuk membalas dengan perasaan ragu. Bukan tidak percaya akan kasih sayang Ibu Ayu. Hanya saja belum terbiasa melakukan hal seperti ini.
"Kenapa harus manggil Tante, Nak Sraya? Coba sekarang diganti 'Mama' waktu manggil. Tidak boleh Nak Sraya sungkan. Apalagi, mau segera jadi mantu Mama."
Kata demi kata yang dibisikkan oleh Ibu Ayu pun didengar secara jelas. Permintaan yang terdengar begitu tulus oleh Sraya, membuat dirinya langsung tersentuh. Dan kemudian, dengan segera dibalasnya pelukan Ibu Ayu.
"Baiklah, Mama," jawab Sraya dalam suara kecil. "Bagaimana, Mama? Aku sudah benar memanggil begitu? Apa masih ada kurang?"
"Pintar, Nak Sraya. Anggap saya tolong sebagai Mama kamu sendiri, ya?" minta Ibu Ayu secara serius. Namun, tetap lembut.
"Mama yakin tidak akan sulit untuk kamu, Nak. Hanya perlu lebih sering dibiasakan."
Sraya menanggapi cepat dengan anggukan. Namun, gerakan dilakukan cukup pelan, beberapa kali. Ada perasaan ragu yang tak bisa dihilangkan secara cepat, walaupun ia sudah memercayai ucapan Ibu Ayu. Sraya pun sangat yakin akan kasih sayang tulus yang dimiliki ibu kandung Arnawa baginya.
Sraya tak ingin membuat Ibu Ayu menanti lama respons darinya. Ia telah menyiapkan beberapa kalimat di dalam kepala. Namun, sebelum dilontarkan semuanya. Sraya pun terlebih dahulu lakukan penarikan napas yang cukup panjang. Lantas, ia embuskan secara perlahan-lahan sembari tersenyum.
"Iya. Mungkin aku harus membiasakan dan nanti pasti akan nggak canggung memanggil Mama lagi." Sraya menyahut dengan lembut.
Kemudian, dipeluk erat Ibu Ayu. Didekapnya secara kuat. Tetapi, tak sampai akibatkan Ibu Arnawa sampai kesusahan dalam bernapas. Ia merasakan kenyamanan yang kian besar selepas memeluk Ibu Ayu. Tanpa terasa air mata Sraya pun jadi tumpah. Namun, ia tak ingin menangis yang terlalu deras. Enggan mengenang masa lalu untuk kesedihan.
"Terima kasih, Mama Ayu." Sraya berucap dengan tulus. Kelembutan suara terjaga.
"Terima kasih sudah bersedia menjadi Ibu bagiku. Mama sangat baik. Aku mendapat karma baik. Mungkin Mama aku di atas sana nggak bisa melihat aku sendiri. Maka, Mama dikirimkan untuk menemaniku di dunia."
……………………………………………….
Sraya tidak dapat menolak ajakan Ibu Ayu untuk berkunjung ke kediaman beliau. Susah untuk dilakukan dirinya, meski jadwal hari ini cukup padat. Alhasil, Sraya memutuskan menunda beberapa acaranya nanti malam. Solusi terbaik bisa diambil.
Tidak hanya dikarenakan Ibu Ayu saja, keadaan tubuhnya kurang baik pun jadi faktor pendukung. Sraya sadar betul dengan kondisinya yang jarang bugar akhir-akhir ini karena waktu tidur terganggu, juga dampak dari mengonsumsi bir diluar batas yang wajar untuk diminumnya. Keadaan tubuh demikian tentu tidak akan menambah bagus kinerjanya. Sraya ingin pulih segera.
"Kenapa sup belum dimakan, Nak Sraya? Tidak enak rasanya, ya? Maaf, Mama kurang ada waktu memasak beberapa minggu ini. Mungkin rasanya tidak enak. Menurut Nak Sraya, sup yang Mama buat kurang apa?"
"Atau Nak Sraya tidak suka dengan sup?"
Sraya yang tengah melamun memikirkan Arnawa dan Nugraha, seketika melakukan menggeleng. Menolak asumsi yang baru dilontarkan Ibu Ayu. "Tidak, Tante."
"Bukan begitu." Sraya pun kehabisan cara menjawab. Dibalasnya singkat saja, terlontar dua patah kata. "Saya belum makan bukan karena sup Tante nggak enak. Aku malahan suka makan sup," terangnya dengan jujur.
"Saya nggak bohong, Tante. Maaf, kalau kesannya saya nggak bisa menghargai apa yang sudah Tante lakukan untuk saya."
Sraya seketika merasakan ketegangan pada tubuh. Sebab, menyadari bahwa ia lakukan lagi kesalahan dalam memanggil. Tentu saja, Sraya merasa bahwa harus meminta maaf dan meluruskan. Bagaimanapun juga ia tak ingin membuat Ibu Ayu menjadi kecewa.
"Maksud saya, Mama. Maaf kalau saya terus lupa. Mama tolong jangan marah kepad--"
"Haha. Tidak apa-apa, Nak. Mama akan bisa mengerti kenapa kamu suka lupa. Tapi, coba beri tahu pada Mama, kenapa kamu seperti tidak nafsu makan? Apa benar tidak enak?"
Sraya menggeleng cepat. "Bukan begitu, Ma. Bukan," bantahnya dengan suara ragu.
Sraya belum mampu berpikir dengan jernih, bahkan kalimat balasan yang baik belum dapat dirangkainya secara benar supaya terdengar sopan dan ramah didengar Ibu Ayu. Sraya jelas menghargai beliau yang telah memasakkan makanan untuknya. Ia merasa disayang secara tulus.
"Lalu kenapa, Nak? Apa kamu sedang tidak nafsu makan? Atau ingin Mama buatkan makanan lain? Mau? Katakan pada Mama."
Sraya kembali menggerakkan kepala ke kiri serta juga ke kanan beberapa kali, yakni gelengan tanda tidak ingin membenarkan pertanyaan dilontarkan oleh Ibu Ayu barusan. "Nggak perlu, Tante. Aku akan makan sup. Ini saja sudah cukup untukku."
"Kenapa panggil Tante lagi, Nak? Sudah janji tadi mau belajar manggilnya Mama, bukan?"
Menyadari cepat kesalahan yang sudah dibuat, maka secara spontan saja Sraya menunjukkan cengiran, walau tidak terlalu lebar. "Maaf, Mama. Aku kelupaan tadi."
"Mungkin karena aku belum bisa terbiasa dengan panggilannya," imbuh Sraya dengan sedikit kikuk, kini. Merasa tak enak juga.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama mengerti kamu pasti akan kesulitan karena belum terbiasa. Pasti juga segera bisa hafal. Mama yakin." Ibu Ayu menyahut dengan suara lembut.
"Hanya perlu dibiasakan dan sering juga diucapkan, ya. Pasti akan bisa ingat nanti. Bahkan, terbiasa memanggil Mama."
Beliau melakukan usapan-usapan halus di kepala sang calon menantu. Bentuk pemberian afeksi yang tulus layaknya anak kandung sendiri. Mengingat, Ibu Ayu tidak memiliki buah hati perempuan, meski sempat didambakan sekali. Tetapi, tak jadi.
"Sekarang, lanjut dimakan dulu sup dan nasinya, Nak. Habis itu, Mama akan buatkan teh jahe. Pasti akan bisa membuat badan kamu jadi lebih segar lagi, Nak."
Manakala, dapatkan anggukan dari calon menantunya, Ibu Ayu senang. Perhatian yang ditunjukkan direspons secara positif. Ibu Ayu pun kian menyukai kekasih putra tunggal beliau itu. Meski, belum lama saling mengenal. Saat memberikan kasih sayang, Ibu Ayu selalu berusaha secara tulus. Tidak pernah beliau lakukan dengan pura-pura.
"Setelah minum teh, harus beristirahat yang lama. Tidur saja di sini, Nak. Bagaimana? Apa kamu mau? Mama ingin kamu di sini. Mama kesepian karena tinggal sendiri saja."
"Mama minta aku tidur di sini? Apakah aku nggak merepotkan Mama nanti, ya? Aku jadi kurang enak. Apalagi, aku lagi nggak enak badan. Aku pasti akan membuat repot saja."
Ibu Ayu lekas menggeleng. "Tidak, Nak. Malah Mama senang kamu bisa beristirahat di sini sepertu yang Mama bilang, Sraya."
"Mama tidak akan kesepian. Ada yang Mama ajak di sini. Rumah Mama akan jadi sedikit ramai ada kamu yang menemani Mama."
Ibu Ayu masih lakukan belaian-belaian sarat akan sayang yang tinggi di rambut calon menantu beliau. "Jika kamu beristirahat di sini, Mama akan mudah awasi juga, Nak. Bagaimana pun, kamu masih tidak sehat. Akan jadi lebih bagus, ada Mama yang bisa mengurus kamu di sini nanti, Nak."
Sedetik kemudian, Ibu Ayu kaget karena saksikan mata sang calon menantu berkaca-kaca. Beliau segera memindahkan tangan ke wajah Sraya. "Kenapa, Nak?"
"Makasih, Ma. Makasih banyak, ya. Makasih Mama sudah sangat baik denganku. Nggak nyangka aku akan disayang begini sama Mama," ungkap Sraya dengan rasa harunya.
"Mama sangat tulus padaku. Sudah begitu lama aku nggak pernah rasa lagi kepedulian dari seorang ibu. Lama banget kayaknya, Ma. Aku nggak ingat persis sudah berapa tahun. Tapi, aku merasa sangat lama." Sraya kian lirih dalam ceritakan kisah pilunya.
"Dan, waktu aku sebelum menikah dengan mantan suamiku. Ada harapan kalau ibu dia juga akan menyayangiku. Tapi, kebalikannya yang aku dapatkan. Aku dibenci, Ma. Itu kenapa kami harus berpisah. Dia lebih pilih orangtuanya dibandingkan dengan diriku."
Kini, pelupuk mata Sraya sudah jauh berair sehingga menyebabkan pandangannya juga menjadi kabur. Namun, sungguh ia tidak ingin sampai menangis. Apalagi untuk hal yang menimbulkan kepahitan bagi dirinya sendiri. Jika dikenang, ia hanya akan sakit.
Melupakan dan berdamai dengan masa lalu merupakan pilihan paling baik. Walaupun memang membutuhkan waktu yang cukup lama agar bisa benar-benar melakukannya secara ikhlas. Namun, Sraya telah bertekad. Daripada harus menanggung rasa sakit.
"Mama tidak mungkin menyakitimu atau membenci, Nak. Mama sayang kamu. Bagi Mama kamu adalah putri Mama. Sejak kita bertemu pertama kali, Mama sudah rasakan ikatan khusus denganmu. Mama serius."
Sraya pun menanggapi cepat. Kepalanya pun dianggukkan dalam gerakan yang mantap. Ia kian intens memandang sosok Ibu Ayu. Suka akan senyuman dan tatapan hangat sedang diberikan kepadanya. Sraya semakin merasa disayang. Sungguh, ia beruntung bisa kenal dengan Ibu Ayu. Setelah kepedihan dialami.
"Iya, Ma. Aku tahu Mama sayang kepadaku secara tulus. Aku nggak ragu karena aku juga dapar merasakan kasih sayang Mama yang besar. Makasih banyak. Aku berusaha akan menjadi anak yang baik untuk Mama."