"Sudah jam berapa sekarang?" Gumaman terlolos dari mulut Arnawa dalam suara pelan, setelah menguap cukup lebar Matanya dikerjap-kerjapkan beberapa kali guna lakukan penyesuaian pencahayaan dengan sinar matahari dilihat olehnya dari tirai kaca jendela kamar. Sedangkan, posisi masih berbaring di atas kasur. Ia pun turut renggangkan otot-otot, terutama di bagian kaki serta juga tangannya agar bisa sedikit lemas. Rasa kantuk belum sepenuhnya dapat dihilangkan. Walau, tak ada keinginan untuk tidur lagi. Rasanya sudah cukup beristirahat. Terlebih, tugas harus kerjakan hari ini pun lumayan banyak. Ia tak boleh bermalasan dalam durasi kian lama. "Jam tujuh?" ujar Arnawa dengan nada tak percaya dan kaget, sudah pasti. Ia segera duduk bersila di ranjang. Atensi masih tetap terpusat ke arah jam d

