Hana duduk di sebuah pondok kecil di tengah perkebunan saat hujan mengguyur daerah itu dengan lebat. Uang di dompetnya menipis, ia tak lagi bisa menyewa hotel mewah seperti sebelum-sebelumnya. Ia bahkan belum makan sesuap nasi pun hari itu. Rasa perih di lambungnya mulai tak terkendali. "Ma, aku lapar! Aku udah nggak sanggup jalan lagi, capek lari-lari terus!" rengek Hana, pada kehampaan. Kedua matanya menatap ke arah langit yang gelap. Di sekitarnya tak terdengar apapun selain derasnya hujan. Ia menoleh dan melihat sosok Irham di sampingnya seraya tersenyum manis ke arahnya. "Mas, Mas Irham?" Hana menatap tak percaya. "Memangnya kamu pikir aku ini siapa? Kenapa harus ditanya segala sih?" Hana tersenyum dan segera memeluknya dengan erat. Ia benar-benar bahagia. "Kamu nggak pernah pul

